
Clein tengah sibuk berkutat di dapur, dari jarak jauh gadis itu terlihat hanya memegang spatula dengan perasaan takut.
"Bisa selow dulu gak sih itu telur, tangan saya sakit kena minyak, pake meletup-letup segala lagi!" Gumam Clein dengan sesekali menggosok tangannya yang terkena letupan minyak goreng.
Ia mencoba mendekati wajan, namun lagi letupan minyak goreng mengenai tangannya.
"Ya Allah! Sakit kulit saya, minyak santai dong!" Ketus Clein.
Kemarin saja saat membantu bundanya membuat nasi kuning, Clein hanya membantu memasukkan bahan-bahan ke dalam wadah. Eliana yang mengambil alih untuk soal menggoreng atau apapun yang berhubungan dengan api. Tapi sekarang? Ia di paksa untuk melakukan semuanya oleh Karel.
"Mau saya bantu?" Tawar Seseorang dari arah belakang. Clein kembali menjauh dan menoleh ke arah sumber suara.
"Eh Frey, boleh nih tolong bantu saya. Kebetulan sekali anda ada disini." Ucap Clein menyerahkan spatula pada Frey.
Frey dengan senang hati mengambil spatula itu.
"Lain kali apinya kecil saja nona. Ini apinya terlalu besar." Ucap Frey mengecilkan kompor.
"Saya tidak tau, saya sudah lama tidak memegang alat-alat ini. Anda kan tau bagaimana sibuknya saya mengurus komunitas saya, mana sempat saya masak-masak." Ucap Clein.
Frey mengangguk,
"Telurnya gosong, apa ada telur lain nona?"
"Ada, banyak. Mau berapa?" Tanya Clein.
"Mungkin tiga." Jawab Frey.
Clein bergegas menuju kulkas untuk mengambil telur yang Frey minta.
"Nih." Clein menyerahkan 3 butir telur pada Frey. Frey langsung mengambilnya.
"Saya bersyukur anda datang disaat seperti ini. Saya sangat kesulitan dalam hal memasak. Kalau Karel sialan itu tidak memintanya, mungkin saya tidak ingin melakukan ini. Dia ini pandai mengancam dan selalu punya cara untuk memaksa saya. Ngomong-ngomong Frey anda tau tidak kemana tante Rahma? Tidak ada tante Rahma hari-hari saya semakin terasa sulit." Ujar Clein melihat pada Frey.
"Dia sudah pindah ke rumahnya yang lama dan akan tinggal menetap disana. Apa anda tidak tau itu, nona?"
"Serius? Saya tidak tau apa-apa. Tante Rahma kemarin tidak mengatakan apapun pada saya. Saya sungguh tidak tau mengenai kepindahannya." Ucap Clein.
"Apa tuan Karel tidak mencoba memberitahukannya pada anda?"
"Tidak, Dia tidak mengatakan apa-apa." Balas Clein.
Frey hanya mengangguk dan kemudian diam. Jika ia merespon terlalu jauh, sama saja ia mencoba untuk memanas-manasi Clein. Frey hanya menginginkan hidup tenang tanpa gangguan apapun.
Telur ceplok sudah matang, Clein menyajikan telur itu di atas meja bersama dengan nasi yang baru saja matang. Soal memasak nasi Clein tentu bisa. Selain simpel, memasaknya juga tidak memerlukan effort yang banyak.
Clein duduk di kursi meja makan sembari menunggu kedatangan Karel.
__ADS_1
"Frey ayo sarapan bersama! Tapi sorry dengan menu seadanya." Ajak Clein.
"Sebelumnya terimakasih nona, tapi saya sudah sarapan.. sekarang sudah saatnya untuk ngopi." Ucap Frey memegang gelas kosong yang akan ia isi dengan kopi.
"Oh gitu? Oke. Terima kasih juga sudah mau membantu saya. " Balas Clein. Frey menganggukkan kepalanya.
"sama-sama."
Saat melihat kedatangan Karel, Frey bergegas masuk menuju dapur dan menjauhi Clein. Mendengar suara langkah kaki itu, membuat mood gadis itu langsung berubah buruk. Sekarang ia sudah mulai hafal gerak-gerik dari Karel.
"Cuma telor ceplok?" Tanya Karel yang telah rapi memakai kemejanya.
"Udah tinggal makan juga masih aja komen!" Balas Clein kesal.
Karel mendelikkan matanya lalu menarik kursi dan duduk disana.
"Ini anda yang masak?" Tanya Karel ragu.
"Bukan! Frey yang memasaknya!"
Karel melihat pada pria yang tengah sibuk menyeduh kopi. Frey berusaha untuk menyibukkan dirinya agar ia tidak terkena masalah oleh tuannya itu karena telah membantu Clein.
"Saya tidak mau memakannya! Bukan tangan anda yang buat jadi saya tidak mau!"
Clein berjalan ke area dapur dengan perasaan kesal. Ia mengambil telor gosong yang tadi gagal ia buat.
"Kalau anda mau makan buatan saya, tuh makan!" Clein menyimpan piring berisi telur itu dengan gerakan kasar.
"Sebenarnya mau anda ini apa sih? Saya ini tidak bisa memasak Karel! Kalau anda menyuruh saya untuk masak kembali, pasti hasilnya sama hasilnya akan gagal!" Tegas Clein.
Karel melipat tangannya dengan tatapan dingin.
"Kalau begitu sore nanti anda belajar masak, nanti saya akan datangkan juru masak untuk mengajari anda. Sebelum anda bisa memasak, anda tidak boleh pergi kemanapun termasuk menekuni hobi anda!"
"Ya Allah, Karel! Saya tidak mau, saya tidak akan mau belajar memasak dengan mengorbankan hobi saya. Menikah dengan anda ini tidak ada untungnya sama sekali!" Ketus Clein.
"Saya tidak peduli! Saya tidak mau kalau setiap hari saya hanya diberi makan makanan seperti ini, nanti kalau saya bisulan gimana? Kamu mau mengurusi saya?" Tanya Karel.
"Ogah!" Singkat Clein.
"Jadi pilihannya hanya satu, anda harus belajar masak!" Tegas Karel tanpa penolakan. Clein menengadahkan wajahnya dengan mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah, ambil saja nyawa pria sialan ini ya Allah saya ikhlas, percuma dia hidup tapi tidak memberikan untung pada orang lain." Lirih Clein.
Pletak
Satu sentilan berhasil mendarat mulus di kening Clein.
__ADS_1
"Bicara sembarangan! jika doa anda itu dikabulkan, saya pasti akan menghantui anda setiap malam. Dan saya akan masuk ke dalam selimut, melakukan hal-hal yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya." Ujar Karel melihat Clein dengan tatapan kesal.
Mendengar penuturan Karel, membuat Clein bergidik ngeri. Membayangkannya saja ia tidak mau, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.
"Anda ini sepertinya kurang belaian! Setiap kali kita berdebat, anda selalu saja membawa kalimat mesum pada perdebatan kita!" Ujar Clein.
"Apalagi yang harus saya katakan? Saya ini pria normal. Wajar jika mengatakan itu. Apalagi saat anda tidak memberikan jatah pada saya!"
"Dih mimpi saja! Mana mau saya disentuh oleh iblis seperti anda. Sudahlah cepat makan, Karel!" Ucap Clein berusaha mengalihkan pembicaraan.
Karel melihat makanan di atas meja, kemudian membalikkan piring dan mengisi piring dengan nasi dan telur ceplok. Mau tidak mau ia harus memakannya, karena pagi itu perutnya memang sedang lapar. Sekarang ia harus mengenyahkan rasa gengsinya demi perutnya terisi.
"Oh ya, ada satu lagi, sekarang anda cepat berganti baju! Anda akan ikut dengan saya untuk bertemu para pemain club bola milik saya!" Ujar Karel.
"Untuk apa saya ikut?"
"Untuk memperkenalkan anda sebagai nyonya Karel Alvarez. Walaupun saya tidak pernah menganggap pernikahan ini serius, tapi ada baiknya jika saya memperkenalkan anda. Toh kita juga akan melangsungkan pernikahan ulang dengan mengundang mereka." Ujar Karel.
"Semalam anda mengatakan kalau anda hanya akan mengundang kerabat saja, kenapa sekarang bertambah dengan mengundang orang lain?" Tanya Clein tak habis pikir.
"Mereka sudah saya anggap sebagai kerabat sendiri. Lagian juga mereka tidak akan membocorkan pernikahan ini pada teman-teman anda, mereka tidak kenal dengan teman-teman komunitas anda!" Ujar Karel.
"Saya tidak percaya apapun! Lebih baik batalkan pernikahan ulang kita!"
"Tidak bisa!" Tegas Karel.
Clein berdecak pelan.
"Saya ingin tetap di rumah, anda saja yang pergi sendiri. Waktu saya tidak ada untuk anda!"
"Harus ikut, kalau tidak-"
"Baiklah!" Singkat Clein memotong ucapan Karel.
Karel tersenyum kemenangan, apa yang ia inginkan kini terjadi. Clein terlihat tak berdaya. Karel selalu saja bisa membuat Clein tak berkutik sedikitpun. Pernikahan yang ia buat memang memiliki kejutan yang tak terduga.
"Karel tolong kembalikan handphone saya! Saya ingin mengetahui kabar tentang teman-teman saya. Dari semalam tidur saya tidak nyenyak. Saya tidak tau ada apa." Ucap Clein.
Karel diam dan menyandarkan punggungnya. Jika ia mengembalikan handphone pada Clein, mungkin saja Clein akan tau mengenai berita kematian Deva. Saat itu Clein akan memaksa untuk datang dan rencana Karel untuk menghancurkan gadis itu akan gagal.
"Tidak! Saya tidak bisa mengembalikan handphone anda. Saya masih belum percaya kalau anda tidak akan bersekongkol dengan teman-teman anda."
"Karel tolonglah! Jangan egois! Saya ini bukan budak anda yang bisa anda atur seenak anda!" Kesal Clein.
"Tapi Definisi istri itu budak untuk suaminya. Tidak usah membantah soal fakta itu!" Balas Karel.
Clein memukul-mukul keningnya. Pagi ini sudah banyak umpatan yang ingin ia keluarkan untuk Karel. Namun coba ia tahan sebisa mungkin. Marah setiap hari rasanya tidak akan baik untuk kesehatannya.
__ADS_1
"Cepat ganti pakaian anda! Saya akan menunggu anda di ruang tamu!" Ujar Karel menyudahi sarapannya dan berlalu pergi begitu saja.
"Arghhh!" Teriak Clein frustasi. Semakin hari kebencian Clein terhadap Karel semakin bertambah saja.