Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 13


__ADS_3

Clein menghentikan langkahnya saat sudah di depan pintu ruangan VIP dimana papah Karel di rawat. Marcel melihat kakaknya dengan penuh tanda tanya.


"Kok berhenti kak?" Tanya Marcel.


"Kakak tunggu di luar aja. Kamu masuk aja ke dalam." Ujar Clein.


"Tapi kak, sebaiknya kita masuk bareng-bareng. Marcel mau kenalin kakak ke orang tuanya Edvin."


"Tidak usah. Lebih baik jika kakak menunggu di luar." Tolak Clein berusaha memberikan pengertian pada adiknya.


Marcel kembali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menurut saja apa yang dikatakan Clein. Marcel pun masuk ke dalam ruang inap papahnya Edvin, sedangkan Clein memilih duduk di bangku tunggu.


"Selamat malam Tante." Marcel mencium telapak tangan Rahma. Rahma menyunggingkan senyumnya pada Marcel.


"Selamat malam juga Marcel." Balas Rahma.


Mereka sudah saling mengenal, jauh sebelum papah Edvin sakit. Saat papahnya Edvin sehat, mereka berdua seringkali menjenguk Edvin di Asrama. Bisa di bilang orang tua Edvin tipikal orang tua asik yang mudah bergaul.


"Maaf Tante jenguknya cuma bawa ini doang." Marcel menyerahkan satu keranjang buah itu pada Rahma.


"Gapapa, kamu udah mau jenguk om Dean aja tante makasih banget." Ujar Rahma mengambil buah tangan yang Marcel berikan.


"Alhamdulillah Tante. Marcel berdoa semoga Allah segera mengangkat penyakit om Dean, supaya om Dean bisa beraktivitas seperti biasanya." Ucap Marcel.


"Aamiin terimakasih buat doanya nak Marcel."


"Sama-sama."


"Cel kakak kamu mana?" Tanya Edvin yang tidak melihat keberadaan Clein disana. Karel melihat pada Marcel kemudian mengangkat bahunya tak peduli.


"Ada di luar." Jawab Marcel.


"Ada kakak kamu? Kenapa gak di ajak masuk?" Tanya Rahma.


"Kakak Marcel gak mau masuk Tante, katanya mau tunggu di luar aja."


"Lah kok?" Tanya Edvin yang sedikit bingung.


"Aku juga gak tau." Ucap Marcel.


Karel hanya tersenyum miring. Edvin melirik kakaknya dan ia sudah paham kenapa Clein ingin tetap berada di luar.


"Mah tolong bujuk kak Clein dong suruh masuk kesini."


"Gak usah dibujuk, kalau dia gak pengen buat masuk yaudah jangan di paksa!" Ujar Karel dingin.


"Loh ada apa ini?" Tanya Rahma yang terlihat kebingungan.


Edvin mendekati Rahma dan membisikkan sesuatu di telinga mamahnya. Rahma sedikit terkejut dan menggelengkan kepalanya.


"Tolong yah mah bujuk kak Clein." Mohon Edvin.


"Iyah, tenang aja mamah bakalan bujuk kakaknya Marcel." Ucap Rahma.


Rahma menaruh keranjang buah itu di atas meja disana. Ia bergegas keluar untuk menemui Clein.


Karel menatap adiknya tidak suka.


"Kamu ini selalu saja mengadu. Tidak pernah berubah!" Cibir Karel.


"Gapapa lah suka-suka Edvin!" Balasnya.


Karel memilih duduk di sofa yang tersedia disana. Perdebatan dengan adiknya di depan Rahma tidak akan ada gunanya. Edvin akan selalu dibela oleh mamahnya hampir di setiap segala perdebatan.


Clein tengah menatap lurus ke depan, seketika ia dibuat terkejut saat tepukan tangan mengenai pundaknya. Ia langsung menoleh, disana seorang wanita paruh baya dengan rambut pendek tengah tersenyum padanya.


"Kakaknya Marcel?" Tanyanya.


Clein langsung berdiri dan menganggukkan kepalanya.


"Perkenalkan nama Tante Rahma, Tante ini mamah dari Edvin dan Karel." Ujar Rahma mengulurkan tangannya. Clein diam sebentar dan menatap tangan itu sedikit ragu.


"Clein." Jawab Clein membalas uluran tangan itu.


"Kenapa diam di luar saja? sebaiknya kamu masuk dan bergabung bersama adik kamu dan anak-anak tante." Ujarnya.

__ADS_1


"Tidak usah Tante, jauh lebih baik jika saya menunggu disini."


"No, no, no masuk ke dalam saja! Ini permintaan Tante sebagai orang tua Edvin bukan Karel."


Zefa terkejut saat mendengar ucapan Rahma. Apakah dia mengetahui hubungannya dengan Karel tidak baik-baik saja? Jika iyah, tapi darimana? Pikiran itu seakan berkecamuk di otaknya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, ayo!" Rahma mengambil tangan Clein dan menariknya hingga Clein tak mampu menolak.


Di dalam ruang inap Karel menoleh ketika mendengar suara derap langkah kaki. Ia melihat Clein yang berjalan pelan tanpa melihat ke arahnya. Clein melihat seorang pria paruh baya yang tak sadarkan diri terbaring di atas ranjang pasien.


"Bagaimana kondisi om, Tante?" Tanya Clein.


Rahma menarik nafasnya dalam.


"Kata dokter kondisinya masih sama. Entah sampai kapan ia akan terus terbaring di tempat ini." Jawab Rahma dengan nada sedih.


"Tetap sabar yah Tante? insyaallah secepatnya Allah akan mengangkat penyakit suami Tante." Ucap Clein yang terdengar tulus. Karel hanya berdecih, memuakkan melihat gadis yang bersikap seperti malaikat hanya untuk menutupi topengnya.


"Aamiin, aamiin. Terimakasih Clein, terimakasih untuk doanya."


Edvin melihat ke arah Karel terus bergantian melihat ke arah Clein. Ia tersenyum licik, saatnya untuk melancarkan sebuah rencana yang tiba-tiba terbersit di otaknya. Edvin berjalan menghampiri Clein.


"Berdiri terus, kaki kak Clein pasti pegel. Mending duduk aja kak." Edvin menarik lengan Clein dan membawa gadis itu ke arah sofa. Seperti terkoneksi, Marcel pun langsung mengikuti langkah Edvin di belakang.


"Tidak. Saya tidak merasa pegal!" Tolak Clein. Namun Edvin terus saja menarik lengan Clein.


Tepat saat di samping Karel, Edvin langsung mendorong tubuh Clein sampai gadis itu terduduk di atas sofa.


"Ini terlalu berlebihan, saya tidak bisa duduk disini." Ucap Clein yang masih mencoba bersikap sopan. Saat Clein akan bangkit dari sofa dengan cepat juga Marcel duduk tepat di samping Clein. Edvin melakukan hal yang sama, ia duduk tepat di samping Karel.


Kini baik Clein maupun Karel keduanya duduk saling berhimpitan. Edvin dan Marcel mencoba mendorong tubuh masing-masing dari kakak mereka.


"Tempat yang kosong untuk duduk banyak! Kalian kenapa memaksakan tempat sempit seperti ini!" Ujar Karel.


"Enak disini bang lebih empuk." Jawab Edvin.


Clein menggerakkan pundaknya. Karel sedikit meringis dan menatap wajah Clein dengan tatapan tajam.


"Bisa diam tidak? Tangan saya sakit ini!" Ketus Karel.


"Anda pikir hanya anda yang merasa sakit? Saya juga!" Sentak Clein.


Karel berdecak dan langsung membuang wajahnya. Clein berniat untuk bangun, namun tidak bisa. Tubuhnya tidak bisa sedikitpun digerakkan karena tertahan oleh Karel dan juga Marcel.


"Edvin bangun! Jangan bertingkah bodoh!" Ujar Karel.


"Marcel bangun, nafas kakak sesak!" Ucap Clein.


Marcel dan Edvin saling menatap dan mengangguk.


"Kalau bangun bareng-bareng kayaknya bisa, tapi harus pegangan tangan. Soalnya Edvin juga gak bisa bangun kalau sendiri." Edvin dan Marcel sengaja mendesakkan tubuh mereka pada pegangan sofa. mereka berakting seolah-olah mereka juga tidak bisa menggerakkan tubuh mereka.


"Sama Marcel juga."


"Apa? Pegangan tangan?" Tanya Karel berusaha memastikan.


"Iyah. Kenapa gitu? Daripada kita terperangkap disini aja." Ucap Edvin.


"Tidak!" Ucap Karel dan Clein bersamaan. Sontak keduanya kembali saling menatap.


Marcel berinisiatif untuk menyatukan lengan Clein dan Karel. Clein mencoba untuk melepaskan tangannya namun dengan cepat Edvin menahan tangan tersebut.


"Ayo dicoba dulu. Bismillah!" Ucap Marcel.


Clein memejamkan matanya, tidak ada pilihan lain selain mengikuti saran dari Edvin. Clein melirik wajah Karel sekilas sebelum akhirnya memalingkan wajahnya kembali.


Rahma hanya bisa mengulum senyumnya saat melihat tingkah anaknya dan Marcel yang terus berusaha untuk mendekatkan Clein dan Karel.


"Hitungan satu sampai tiga semuanya bangun! Kak Clein sama Abang Karel udah siap kan?" Tanya Edvin.


Clein dan Karel hanya diam. Sontak Edvin melihat wajah kedua orang itu begitupun Marcel.


"Kak Clein, siap?" Ulang Edvin.


"Hmmm."

__ADS_1


"Abang Karel, siap?"


"Hmmm."


Marcel dan Edvin hanya bisa menahan tawanya agar tidak pecah. Nada deheman keduanya persis sama. Tidak ingin, namun tidak ada pilihan lain. Mereka harus mengesampingkan rasa benci dan gengsi mereka demi mencapai tujuan yang sama.


"Satu, dua, tiii-"


Tanpa sadar Clein dan Karel sama-sama mengeratkan genggaman mereka.


"Tiga!"


"Syukurlah." Ucap Clein. Ia bisa bernafas lega saat tubuhnya berhasil keluar dari kurungan sofa itu.


Tanpa membuang waktu lagi Clein langsung melepaskan tangannya dari genggaman Karel. Saat itu Edvin dan Marcel tidak menunggu kesempatan lagi, mereka langsung menyenggol tubuh Karel dan Clein hingga tubuh keduanya saling menempel dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.


Tatapan keduanya saling beradu. Angin berhembus pelan seakan ikut senang dengan kedekatan mereka berdua. Edvin mengedipkan sebelah matanya pada Marcel. Dan Marcel membalasnya dengan anggukan.


"Ehem!" Edvin berpura-pura tersedak saat keduanya masih dalam posisi itu cukup lama.


Seketika Clein dan Karel langsung menjauh.


"Cari kesempatan!" Ketus Karel.


"Apa?! Cari kesempatan?! Mungkin itu anda, bukan saya!" Tegas Clein tidak terima. Anggapan Karel sangatlah tidak masuk akal. Clein jelas melihat bahwa Karel lah yang berusaha untuk mendekatkan diri padanya.


"Maaf, anda bukan selera saya!" Balas Karel.


Jika disana tidak ada orang tua Karel dan Edvin mungkin saat itu Clein sudah menghajar habis wajah Karel. Pria itu selalu punya cara untuk memancing emosinya. Dia sangat pandai dalam merendahkan diri seorang Clein. Clein tidak bisa untuk berlama-lama di dekat Karel.


"Marcel, sebaiknya sekarang kita pulang!" Ujar Clein pada Marcel.


"I-iyah kak."


Marcel hanya bisa mengiyakan karena ia juga tidak ingin ada keributan di dalam rumah sakit itu. Clein sudah merasa kesal dan emosinya pasti akan meluap. Rencananya dengan Edvin rasanya sudah cukup untuk malam itu. Setidaknya sudah ada progres walaupun hanya sedikit.


Clein berjalan lebih dulu menghampiri Rahma.


"Tante, Clein pamit pulang. Clein akan selalu mendoakan kondisi Om, Semoga Om cepat sadar dan bisa kembali menjalankan aktivitasnya." Ujar Clein mencium telapak tangan Rahma.


Saat melihat adegan seperti itu, Karel selalu merasa muak. Baginya apa yang dilakukan Clein hanyalah pencitraan.


"Marcel juga." Marcel melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan kakaknya.


"Buru-buru sekali? Baru juga sampai sudah mau pulang saja." Ujar Rahma.


"Clein sedikit tidak enak badan, sepertinya Clein sedikit butuh istirahat sekarang." Ucap Clein.


"Baiklah, Tante juga gak bisa maksa kalau seperti itu kondisinya."


"Kalau Om sudah sadar, sampaikan salam Clein untuk Om, Tante."


"Pasti, pasti Tante akan sampaikan ke Om Dean nanti." Ucap Rahma mengelus punggung Clein lembut.


Clein mengangguk dan berbalik tanpa melihat Karel sedikitpun.


"Edvin, Kak Clein sama Marcel pulang duluan yah?"


Edvin mengangguk.


"Iyah kak hati-hati."


Clein berjalan lebih dulu diikuti Marcel di belakang. Karel hanya mendelikkan matanya dan duduk kembali di sofa.


"Tingkahnya semakin arogan!" Gumam Karel dan dapat di dengar oleh Edvin.


"Biasanya kalau musuh bisa jadi jodoh! Jangan terlalu benci, nanti malu sendiri kalau udah cinta!" Goda Edvin.


Karel berdecih pelan.


"Mana ada seperti itu! Tidak akan pernah!!"


...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...


Di part-part selanjutnya akan banyak kejutan, stay tune yah💚

__ADS_1


__ADS_2