
Seorang chef pria dari salah satu restauran terkenal telah Karel datangkan. Sekarang Clein tengah melihat sekaligus belajar memasak darinya. Dari kejauhan sembari menyelesaikan beberapa dokumen penting di sofa ruang tamu, Karel dapat mendengar bagaimana berbagai kata umpatan terdengar jelas di telinganya.
"Aduh arghhh aw sialan!" Umpat Clein ketika tangannya teriris pisau saat memotong bawang. Darah segar mengalir dari jari telunjuknya.
"Hati-hati nona. Nah kan jadinya jari anda terluka seperti ini kalau anda tidak hati-hati." Ucap Denan, chef itu mendekat pada Clein lalu melihat sayatan luka di jari Clein.
Tatapan Karel teralihkan ketika melihat Denan membawa Clein mendekat ke wastafel lalu mencuci lukanya.
"Ini darahnya tidak mau berhenti juga, dan luka ini terlihat cukup dalam."
Denan langsung menghisap luka Clein tanpa meminta persetujuan dari gadis itu. Clein terkejut begitupun dengan Karel. Padahal disana ada suaminya, tapi Denan begitu berani dalam melakukan hal itu.
Karel menyimpan dokumennya lalu bergegas menghampiri Denan dan Clein. Entah, Karel merasa cukup terganggu ketika melihat perlakuan Denan pada istrinya.
"Ehemm!" Dehem Karel. Denan dan Clein sama-sama menoleh pada pria yang sudah berada di belakang mereka. Segera Denan melepaskan telunjuk Clein dari mulutnya dan menjauhkan tubuhnya.
"Maafkan saya tuan karena saya lancang. Saya hanya membantu untuk menghalangi perkembangan infeksi pada luka nona Clein, Tidak ada maksud lain." Lirih Denan. Takut-takut kalau Karel merasa cemburu.
Karel tidak menjawab ucapan Denan. Tangan Karel langsung memegang tangan Clein. Karel mencuci sisa liur milik Denan yang menempel di jari telunjuk gadis itu. Cukup kasar Karel menggosoknya membuat Clein sedikit meringis.
"Lain kali minta persetujuan saya terlebih dahulu. Saya ada disini dan saya bisa mengobati luka istri saya." Ujar Karel dingin. Denan semakin menundukkan kepalanya, padahal ia hanya mengikuti nalurinya saja.
Karel menarik lengan Clein untuk ikut dengannya.
"Duduk disini!" Perintah Karel saat sudah berada di sofa ruang tamu. Clein mengangguk lalu duduk disana.
Karel berjalan untuk mengambil kotak P3K. Setelah mendapatkan kotak itu, ia kembali menghampiri Clein.
"Anda ini pasti keenakan kan mendapat perhatian dari pria itu?!" Ujar Karel. Ia mengambil perban lalu membalut luka pada telunjuk Clein dengan perban.
"Mulai menuduh saya? Lagian saya tidak memintanya dia yang melakukannya sendiri."
"Anda tidak meminta, tapi anda merasa nyaman kan?" Tuduh Karel lagi. Ada nada tidak suka dari cara bicaranya.
Clein mengerutkan keningnya dan menatap wajah Karel lekat-lekat.
"Anda cemburu padanya? Apa anda mulai mencintai saya, Karel?" Goda Clein. Karel menaikkan alis kanannya.
"Sa-saya mencintai anda? Itu tidak mungkin." Balas Karel menepis tuduhan Clein.
"Lalu?"
"Saya hanya berpura-pura untuk menjadi suami yang baik. Saya ada di mansion ini. Saat dia mencoba mengobati luka anda dan saya hanya diam saja, apa dia tidak merasa curiga nantinya?" Ucap Karel.
"Pujian lagi yang ingin anda dapatkan?" Desis Clein.
__ADS_1
"Iyah, memangnya anda pikir apa? Anda berharap kalau hati saya ini sudah luluh? Kenapa anda berpikir kalau saya mencintai anda? atau saya rasa anda sendiri yang mulai mencintai saya?" Goda Karel yang mulai mengambil alih keadaan.
"Kalau saya memang mencintai anda, apa yang akan anda lakukan?" Clein mencoba untuk berandai-andai agar semua tujuannya lancar. Karel terdiam sebentar.
"Saya akan menceraikan anda!" Jawab Karel setelah berpura-pura berpikir selama beberapa detik.
Mata Clein seketika langsung berbinar. Yes, itulah keinginannya.
"Kalau begitu, saya mencintai anda! Tolong ceraikan saya sekarang juga!" Ucap Clein.
Tawa Karel hampir saja pecah, padahal itu hanya kebohongan semata. Tapi betapa mudahnya gadis itu percaya.
"Anda pikir semudah itu jatuh cinta? Saya ini hanya bercanda Clein. Saya tidak akan menceraikan anda. Dan jika anda mencintai saya, saya akan meminta seorang anak pada anda." Bohong Karel.
Clein membulatkan matanya.
"Kalau begitu saya tidak jadi untuk mencintai anda." Balas Clein memalingkan wajahnya. Enak saja meminta anak disentuh pun tidak mau apalagi harus melakukan proses pembuatan anak, tidak semudah itu.
"Nah kan, anda berbohong!" Ucap Karel berpura-pura kesal.
Clein hanya diam, ia kira ucapan Karel benar ternyata pria itu hanya berusaha untuk mengelabuinya.
"Baiklah, telunjuk anda sudah saya obati. Silahkan lanjutkan untuk belajar memasak lagi. Saya juga sekarang harus pergi." Ucap Karel beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Clein.
"Agensi K.A Entertainment?" Ulang Clein. Ia sangat tau agensi itu. Agensi yang sangat terkenal dengan memiliki aktor dan aktris yang selalu membintangi sinetron dengan rating tinggi.
"Iyah itu Agensi milik saya."
Clein mengangguk-anggukkan kepalanya. Banyak sekali pekerjaan yang Karel geluti. Dia cukup cerdik dalam memilih bisnis.
"Sebenarnya anda ini memiliki berapa pekerjaan?"
"Ada banyak. Apa yang sesuai fashion saya, ya akan saya kerjakan." Jawab Karel sesimpel itu.
Clein kembali mengangguk.
"Apa ada lagi pertanyaan lain yang ingin anda tanyakan?"
Clein menggeleng. Dalam hembusan nafas lega Karel bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri tepat di hadapan Clein.
"Belajar masak yang baik, nurut apa kata chef dan kurangi kata-kata kasarnya. Mungkin saya akan pulang larut malam. Anda bisa tidur saja duluan tidak usah menunggu saya." Ucap Karel mengusap puncak kepala Clein kemudian pergi.
Clein membatu di tempatnya. Ia memegang kepalanya yang sempat di usap oleh Karel.
__ADS_1
"Dih iuh, kenapa dia? Siapa juga yang akan menunggunya pulang, mimpi saja!" Gumam Clein yang sedikit merasa jijik. Pikiran buruk kembali muncul di otak Clein. Karel sepertinya tengah berakting untuk melancarkan rencana barunya. Tenang saja, kali ini Clein tidak akan terpancing.
******
Di depan markas Black Tyrannical, ke empat orang tengah menunggu interupsi dari Shane yang akan memimpin penyerangan. Mereka telah rapi memakai pakaian santai dan juga topi. Masing-masing dari mereka telah di bekali sebuah pistol.
"Di dalam clubbing kita akan berpencar. Jalankan misi sesuai pembagian tugas masing-masing. Kalau James lengah dalam satu kesempatan, langsung tembak dia. Jangan sia-siakan peluang. Kalian paham?" Ujar Shane.
"Siap, paham!" Jawab mereka serentak.
"Pergi sekarang!" Titah Shane.
Semua orang mengangguk. Mereka menumpangi satu mobil yang dikendarai oleh Kenzo.
"Semoga berhasil! Tetap hati-hati!" Teriak Revan pada teman-temannya. Walaupun ia tidak mengikuti penyerangan itu, akan tetapi Revan tidak merasa tersinggung seperti apa yang dirasakan Arhan. Sebaliknya, Revan lebih memilih untuk mendoakan teman-temannya agar rencana mereka tidak gagal.
Mobil melesat jauh, jam sudah menunjukkan pukul 22:15 Wib. Memori yang coba mereka bayangkan agar rencana berjalan dengan baik adalah dengan membayangkan kematian Deva. Mereka harus punya jiwa pendendam agar tidak merasa iba saat rencana di eksekusi nanti.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang di jaga ketat oleh pria-pria bertubuh kekar.
"Ini bener tempatnya? Gak salah kan?" Tanya Son.
"Enggak. Gue udah cek sendiri, clubbing ini tempat yang sering James kunjungi. Salah satu mata-mata baru yang udah kita kasih perintah pun mengatakan tempat yang serupa." Jawab Oki.
"Siapa dulu yang mau turun?" Tanya Kenzo.
"Sebaiknya Kenzo dulu sama Oki. Kita mau ngumpet ke ujung sana. Selang lima belas menit gue, Son dan Jeff akan datang bersama-sama." Jelas Shane.
Kenzo dan Oki mengangguk. Mereka turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam clubbing.
Dentuman suara music diiringi hentakkan gerakan tubuh terdengar memekakkan telinga. Cahaya kelap-kelip lampu sedikit mengganggu indera penglihatan. Kenzo dan Oki berusaha untuk melihat dengan jelas. Mereka mencari keberadaan James.
"James dimana yah? Gue gak lihat dia. Lo liat gak?" Tanya Kenzo.
Oki menggeleng.
"Engga, kayaknya dia duduk di meja yang lebih dalam deh kayaknya. Biasanya dia selalu ngobrol bareng cewek-cewek yang dia sewa." Balas Oki sedikit meninggikan nada bicaranya karena alunan music dj benar-benar menggema.
"Yaudah lo masuk ke area lebih dalam, Ki. Gue mau gabung sama penari lain supaya penyamaran kita engga ketauan." Ujar Kenzo.
Oki mengangguk dan bergegas untuk masuk lebih dalam. Dari satu meja seorang pria ditemani beberapa pria dan juga wanita melihat ada sesuatu yang janggal.
"Itu bukannya Oki, teman Clein?" Gumam Karel. Pria itu tengah duduk dan mengobrol ditemani beberapa gelas wine di mejanya.
Karel hanya menggeleng cepat dan mengangkat bahunya tak acuh. Jika benar pun ia tidak peduli. Clubbing adalah tempat umum dan Oki seorang manusia normal. Wajar saja jika ia datang ke tempat seperti itu.
__ADS_1
"Tuan anda liat siapa?" Tanya Elandra, salah satu manajer artis yang dinaungi oleh agensi Karel.
"Tidak ada." Balas Karel kemudian menenggak segelas wine.