Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 43


__ADS_3

Shane, Jeff dan juga Son menyusul untuk masuk ke dalam clubbing. Shane bergerak sendiri dan mencari posisi ke empat temannya. Semua sudah berada di tempat masing-masing. Shane memberikan isyarat pada Oki agar mendekat padanya.


Perlahan Oki pun menghampiri Shane dengan sesekali menggoyangkan tubuh mengikuti alunan musik agar tidak ada yang mencurigainya.


"Lo udah cek dimana James berada?" Bisik Shane.


"Udah. Dia ada di sofa pojok deket bartender. Dia cuma bawa dua orang anggota dari gengnya." Balas Oki.


"Bagus. Gue bakalan masuk ke dalam dan coba gabung ke bartender. Setelah itu lo bisa gerak dari belakang terus langsung tembak bagian punggungnya." Jelas Karel.


"Siap, bos." Oki bergerak ke samping kanan untuk bersembunyi.


Kembali Karel dapat melihat Shane dan beberapa orang yang ia kenal ketika di Stadion kala itu. Karel merasa curiga dengan tingkah orang-orang itu.


"ada sesuatu yang tengah mereka rencanakan sepertinya." Batin Karel.


Dugaan itu bukan tanpa sebab, dugaan itu diperkuat saat salah satu orang dari mereka yang tak lain adalah Jeff memberikan beberapa isyarat yang Karel bisa sedikit mengerti.


Shane bergerak maju, ia meminta segelas alkohol dan berpura-pura untuk meminumnya. Sesekali Shane melirik James dengan ekor matanya.


Rangga salah satu anggota geng Hitler mencoba untuk menjaga James dengan melihat sekitarnya. Ia mengernyitkan kening ketika melihat pria bertopi yang selalu melihat pada pemimpinnya.


"Bos sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan." Bisik Rangga dan matanya menatap Shane.


Shane semakin menundukkan wajahnya. Ia berusaha untuk menyembunyikan identitasnya.


"Dimana?" Tanya James.


"Pria itu bos, dia terlihat tidak asing dan dia terus menerus melihat pada anda." Jawab Rangga menunjuk pada Shane.


James melirik dengan ekor matanya. Shane yang di lirik pun segera membuang wajahnya. Rencananya bisa saja gagal karena James dan Rangga sudah merasa curiga.


"Shane?" Gumam James.


Pria itu langsung berdiri di tempatnya.


"Siapkan senjata! Sepertinya dia akan mencoba mencelakai saya!"


Rangga dan juga Grey langsung berdiri mengikuti James. Mereka mengambil pisau cutter dia saku jaket mereka. Shane yang sudah terlanjur ketahuan pun meminta semua temannya untuk muncul.


"Guys, tembak sekarang!" Perintah James.


Dorrr!


Oki menarik pelatuk pistolnya lebih dulu. Namun James dan kedua temannya berhasil menghindari.


Suara riuh teriakan terdengar. Semua orang langsung berlarian menghindari serangan yang di tembakan oleh teman-teman Shane.


***Dorrrr!


Dorrr***!


Pistol kembali di tembakan. Kali ini Jeff yang menarik pelatuk dan satu peluru berhasil mengenai pundak Grey.


"Aaaaaaaaa!" Pekik Grey.


"Kita harus pergi sekarang! Kita tidak punya senjata yang mumpuni untuk melawan mereka!" Perintah James pada Rangga dan juga Grey.


"Sialan rencana mereka ini cukup cerdik." Gumam James.


Di mejanya Karel, Elandra dan beberapa aktor begitupun aktris yang satu meja dengannya merasa kebingungan ketika melihat orang-orang berlarian keluar. Saat suara tembakan peluru terdengar ke telinga mereka, mereka sudah pasti mengetahui akan keadaan di dalam.


"Tuan kita harus pergi sekarang! sepertinya di dalam sana terjadi perkelahian!" Ucap Elandra panik.


Semua aktor dan aktris sudah lebih dulu berlari keluar. Sedangkan Elandra terlihat setia menemani Karel.


"Tidak, Saya harus melihatnya." Tegas Karel.


Karel sangat penasaran. Ia sangat yakin yang tengah berkelahi pastilah teman-teman Clein. Tapi dengan siapa mereka berkelahi itu yang membuat Karel penasaran.


Saat Karel akan masuk untuk melihat, Elandra dengan tegas menahan lengan Karel.


"Jangan tuan, di dalam sana bahaya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya nanti jika anda masuk ke dalam." Ucap Elandra.


Karel menyingkirkan tangan Elandra.


"Jangan mencoba untuk menghalangi saya! Saya mengenal siapa yang tengah berkelahi!" Ujar Karel.


Dengan sedikit berlari, Karel mencoba melihat lebih dekat. Ia tidak peduli jika ia dalam bahaya. Karel berdiri tepat di belakang Kenzo.

__ADS_1


Dari kejauhan Shane dapat melihat kedatangan Karel. Ia mendesis pelan bertanya-tanya akan apa yang pria itu lakukan.


"Sedang apa dia disini?" Monolog Shane yang terus menerus menarik pelatuk pistolnya.


Kondisi Clubbing sudah tidak terbentuk lagi. Semua terlihat berserakan dengan beberapa pecahan gelas dan botol minuman yang berada di atas lantai.


Sasaran Shane tentu saja James, Shane mendekati pria bertopeng yang hanya diam di tempatnya. Ia tidak bisa berkutik karena semua jalan sudah di jaga oleh Shane dan teman-temannya.


"Pengecut sekali kalian menyerang musuh dengan cara seperti ini!" Desis James. Saat Shane mendekat ia mencoba mundur.


"Apa?! Pengecut?! Lo pikir yang lo lakuin kemarin sama kita apa? Bukankah itu juga cara seorang pengecut?" Lirih Shane. Pria itu melangkah maju mendekat pada James.


Grey yang tengah menahan sakit pun berusaha untuk melindungi James.


"Lo tau, Deva mati karena ulah lo! Kita sebagai temannya hanya mencoba untuk membalaskan semuanya! Satu nyawa hilang maka sebagai gantinya harus ada nyawa lain yang hilang!" Lanjut Shane.


Karel berdiri sembari melipat tangannya. Ia melihat adegan di depannya seperti tengah menonton pertunjukan musikal.


"Menyenangkan sekali." Gumam Karel.


James memberikan beberapa isyarat lewat matanya pada Rangga. Saat itu Rangga mengangguk dan bergerak ke belakang Shane. Ia menyingkirkan pistol di tangan Shane kemudian ia mengunci pergerakan Shane di belakang dengan menodongkan pisau di leher Shane.


Ke empat temannya membulatkan mata dan saat itu mereka akan maju untuk membantu Shane.


"Satu langkah saja kalian maju, nyawa Shane akan melayang dalam sekejap." Ucap Rangga.


Oki, Son, Kenzo dan juga Oki saling melemparkan tatapan panik.


"TURUNKAN SENJATA KALIAN!" Teriak Rangga.


Keempatnya mau tidak mau harus menurunkan senjata mereka. Seringaian tercetak di bibir James.


"Hanya segitu kemampuan kalian?" Tanya James dengan nada meremehkan.


Rangga semakin mendekatkan pisau di leher Shane dengan ikut menyeringai.


"JANGAN LUKAI SHANE, BANGS*T!" Teriak Oki.


James menatap Oki dengan tatapan meledek.


"Angga tidak akan melukainya, tapi-" James menggantungkan ucapannya. Langkah kakinya bergerak maju.


"GUE GAK BAKAL BIARIN LO NYAKITIN SHANE!" Teriak Oki.


"BUKAN SHANE YANG AKAN DI BUNUH TAPI LO JAMES!" Timpal Son.


"LO BAKAL MATI, JAMES BIADAB!" Tambah Kenzo.


James tertawa diikuti tepuk tangan.


"Kemampuan anda saja tidak sebanding dengan saya. Masih berani mengatakan itu? Tidak tau diri." Lirih James.


Darah segar terlihat menetes di leher Shane. Ke empat teman Shane hanya bisa mengepalkan tangan saat melihat teman mereka terluka seperti itu. Mereka ingin segera menyelamatkan Shane, namun jika mereka sampai maju, Rangga akan membunuh Shane secara cepat. Mereka harus memikirkan cara untuk menyelamatkan Shane.


"Rangga, bunuh dia!" Tegas James.


"TIDAK!" Teriak mereka serempak.


Karel yang terkejut segera mengambil tindakan. Saat pisau akan ditekan ke leher Shane, Karel berlari maju dan menarik kepala Rangga.


***Bughhh!


Bughhh!


Bughhh***!


Beberapa pukulan berhasil Karel daratkan. Tubuh Rangga langsung tersungkur ke bawah.


"Siapa dia? Kalian menyewa seseorang?" Tanya James yang mulai panik.


Shane terduduk lemas dengan memegangi lehernya. Jeff dan juga Kenzo langsung mendekat pada Shane.


"Shane? Lo gapapa?" Tanya Jeff.


Shane memegang pundak Jeff dan mengangguk. Ia mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Oki dan Son saling menatap. Mereka tidak menyadari keberadaan Karel dan langsung terkejut ketika pria itu muncul.


Setelah membuat Rangga tersungkur, James mengambil alih pisau di tangan Grey. Pria itu tidak akan mungkin bisa melawan karena ia tengah terluka.

__ADS_1


James bergerak maju lalu menyerang Karel. Satu goresan luka mengenai dadanya sampai kemeja yang ia pakai robek. Darah mengalir disana. Sedikit meringis namun dengan cepat Karel mengambil pisau di tangan Angga kemudian.


***sssrrrtttt


Jleb***!


Karel berhasil membalaskan lukanya. Saat itu Karel menusuk pinggang James sampai pisau itu menancap disana.


"ARGHHH!" Teriak James. Rangga perlahan bangkit dan memukul tengkuk Karel.


"ARGHHH." Tubuh Karel ambruk.


Saat itu Rangga menarik lengan James keluar. James berusaha melepaskan pisau itu dari pinggangnya dan berhasil. James membuang pisau penuh darah itu ke sembarang arah.


Grey berlari keluar lebih dulu, Rangga dan James menyusul di belakang. Saat punggung mereka mulai tidak terlihat lagi, saat itu Jeff melihat pada kedua temannya yang masih diam di tempatnya.


"Woy! Kenapa diam aja? Kenapa gak kejar mereka terus tembak?" Teriak Jeff.


Oki dan Son yang segera tersadar kemudian langsung mengambil pistol mereka.


"Sorry, sorry. Tadi gue sama Son masih speechless." Ucap Oki yang segera berlari keluar diikuti oleh Son.


Jeff hanya menggeleng pelan.


"Kita harus balik ke Markas sekarang untuk ngobatin luka lo Shane." Ucap Kenzo.


Shane melihat pada Karel yang sudah terbaring tak berdaya di lantai.


"Kita harus bantu dia dulu." Ucap Shane menunjuk pada Karel.


Kenzo dan Jeff mengangguk. Namun saat mereka akan mendekati Karel, tiba-tiba Elandra datang dengan wajah panik.


"Tuan, tuan, bangun!" Ucap Elandra menepuk-nepuk wajah Karel. Namun pria itu tak juga bangun.


Kenzo dan Jeff memilih untuk kembali ke tempatnya.


"Ada temannya. Sepertinya dia yang akan membantu." Ucap Kenzo.


Shane mengangguk.


"Ayo, sebaiknya kita balik ke markas." Ucap Jeff menaruh lengan Shane di pundaknya.


Shane dan Kenzo mengangguk. Lehernya terasa perih. Keduanya bergegas untuk membopong tubuh Shane.


Tak berkisar lama, dua orang aktor dari agensi milik Karel pun datang.


"Tuan Karel! Kenapa dia sampai ikut berkelahi?" Tanya salah satu pria.


"Ceritanya panjang! Lebih baik jika kita bawa tuan Karel ke mobil. Saya yang akan mengantarkannya ke mansion." Ujar Elandra.


Keduanya mengangguk dan bergegas membawa Karel ke dalam mobil.


Di dalam Mansion, Clein tengah menunggu kepulangan Karel. Bukan sengaja menunggu, Hanya saja Clein sudah membuat makanan hasil belajarnya dengan Denan. Ia butuh penilaian dari Karel. Namun jam sudah mau menunjukkan pukul 23:30 Wib, Karel belum juga kembali.


"Sebenarnya pekerjaan apa yang tengah dia lakukan? Apa harus pergi selama ini? Apa dia punya rumah lain untuk pulang?" Gumam Clein.


Saat melihat jarum jam yang bergerak maju, ia menyandarkan punggungnya pada sofa. Hatinya terasa hampa, tidak ada Karel tak ada yang menyenangkan. Tidak ada perdebatan yang mewarnai hari-harinya.


Suara mobil yang memasuki halaman mansion terdengar. Clein berdiri dari tempat duduknya. Kakinya akan melangkah maju, namun dengan cepat ia urungkan.


"Sebaiknya saya tetap diam disini. Kalau saya ke depan lalu membukakan pintu, nanti dia kepedean lagi!" Monolog Clein yang memilih untuk diam di tempatnya.


Suara bel mansion berbunyi. Clein merasa bingung, kalau Karel yang datang seharusnya ia tidak memencet bel. Dia bisa langsung masuk saja. Toh ini juga mansion miliknya.


Ting tong


Sekali lagi suara bel terdengar. Jika bukan Karel, siapa tamu yang datang selarut ini? Pikir Clein.


Clein pun bergegas membukakan pintu. Saat pintu dibuka Clein dapat melihat Karel yang lemas tak berdaya dengan kemejanya yang lusuh dan robek di bagian dada. Clein terkejut ketika melihat kemeja di bagian dada yang basah oleh darah.


"Karel kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Clein pada pria yang tengah membopong tubuh Karel.


Elandra sedikit gugup, ekspresi Clein terkesan galak. Elandra sudah mengetahui hubungan Clein dan Karel. Sebelum pergi ke Clubbing, Karel sudah memberitahukan soal pernikahannya lusa nanti. Elandra bisa menebak kalau Clein ini calon istri Karel.


"Se-sebaiknya anda tanyakan sama tuan Karel saja nanti." Ucap Elandra.


Clein mengangguk. Clein mencoba membantu Elandra yang terlihat kesulitan menahan tubuh Karel.


"Ayo bawa dia ke kamar!" Ucap Clein. Elandra mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2