
Di tengah perjalanan, Shane membuka helmnya dan melihat ke arah Clein.
"Clein!" Panggil Shane.
Clein menoleh dan mengangkat wajahnya seolah mengatakan 'ada apa'.
"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Shane.
"Black Tyrannical resto!" Jawab Clein.
"Mau ngapain?" Tanya Shane kembali.
"Kita akan sarapan disana sekaligus membahas perluasan bisnis kita di luar kota."
"Oh oke!" Ucap Shane.
Clein mempercepat laju motornya begitupun semua anggota.
Saat tepat di depan sebuah bangunan dengan desain kekinian Clein memarkirkan motornya. Restauran yang sangat megah dan sangat luas. Meski bukan weekend dan jam masih menunjukkan pukul 08:00 Wib, namun restaurannya terlihat sangat ramai. Seorang pria paruh baya bergegas mendekat pada Clein saat Clein turun dan membuka helmnya.
"Selamat pagi non Clein!" Ucapnya sembari sedikit merunduk.
"Pagi pak Adi." Balas Clein tersenyum ramah.
"Wah ramai sekali. Tumben pagi-pagi sekali kesininya non?"
"Saya ada urusan sebentar pak, sekalian sarapan. Lapar soalnya."
Pak Adi terkekeh pelan.
"Kalau urusannya lapar sih non harus cepet-cepet masuk. Orang lapar itu biasanya sensitif, kalau non marah-marah karena kelaperan pak Adi nanti bisa kena marah non Clein." Candanya.
"Ada-ada saja." Ucap Clein tersenyum tipis.
"Kalau gitu Clein masuk dulu, mari pak Adi." Lanjut Clein.
"Iyah non silahkan." Jawabnya.
Clein mengangguk lalu masuk ke dalam Restauran.
"Sehat pak?" Sapa Revan sedikit basa-basi. Semua anggotanya sudah mengenal pria itu.
"Sehat lah pasti, saking sehatnya itu giginya tinggal dua." Timpal Kenzo.
"Yoi apalagi kemarin baru aja nikah lagi sama cewek yang usianya jauh lebih muda sepuluh tahun. Gimana pak rasanya? Crotnya mantep gak?" Ujar Deva menaik-turunkan alisnya.
"Dih selain sensian, si Deva ini mesum. Gak usah ditanya Deva, itu privasinya pak Adi!" Ucap Oki.
"Lah emangnya kenapa? Hal privasi bisa jadi edukasi. Siapa tau dengan pak Adi menceritakan kegiatan dengan istri barunya, itu bisa dijadiin pembelajaran buat kita terkhususnya gue untuk kedepannya." Tambah Deva.
"Kalian ini hobi banget goda saya! Giliran non Clein kesini kalian baru kesini! Kemarin aja sombong banget gak munculin batang hidungnya. Jangan sok kenal sok dekat deh sama saya!" Ketus pak Adi.
"Aseek pengantin baru ceritanya marah nih. Biasanya kalau gini tanda-tanda tokcer." Goda Revan kembali.
"Pembahasan kalian ini gak ada benernya. Udah cepet masuk sana! non Clein pasti lagi nungguin kalian." Ujar pak Adi.
"Siap bro. Kabarin yah kalau istrinya lagi ngidam." Ucap Revan mengedipkan sebelah matanya.
Semua anggota masuk ke dalam Restauran setelah berhasil menggoda pak Adi, tukang parkir di Restauran Black Tyrannical Resto. Pak Adi hanya menggeleng pelan sembari mengelus dadanya. Menghadapi Revan, Deva dan anggota komunitas itu sangat membutuhkan tenaga yang mumpuni. Usianya tak lagi muda, jadi jika lebih baik pak Adi menghindari orang-orang seperti mereka.
Clein mengambil tempat duduk lesehan dengan view perkebunan teh. Kedatangan semua anggota komunitas Black Tyrannical membuat suasana Restauran langsung penuh dan terlihat benar-benar ramai.
Clein mengangkat tangannya dan seorang pria yang masih terlihat sangat muda bergegas langsung menghampiri dirinya. Pria itu meremas tangannya dan membungkukkan badannya.
"Pegawai baru?" Tanya Clein.
"Iyah kak."
Clein hanya mengangguk.
"Ini kak buku menunya, mau pesan apa?"
"Makanan seperti biasa. Jika kamu tidak tahu, beritahukan saja pada kepala Chef, pesanan dengan atas nama Clein Andrea Klarisa." Ucap Clein.
"Baik kak."
Pria itu segera pergi dari hadapan Clein. Ia bergegas untuk memberitahukan pesanan yang Clein minta.
"Kayaknya gue pernah liat cowok itu." Ucap Andres salah satu dari anggota komunitas Black Tyrannical.
"Siapa?" Tanya Kenzo.
"Itu pegawai baru." Jawab Andres.
__ADS_1
"Liat dimana? Apa dia salah satu antek-antek dari rival kita?" Tanya Oki.
"Bukan, bentar gue inget-inget dulu."
Andres nampak berpikir sebentar dengan melihat langit. Ingatannya sangat lemah padahal rasanya belum lama dia bertemu dengan pria itu. Jika disuruh menghafal mungkin Andres adalah orang satu-satunya yang akan mendapat nilai remedial di bandingkan teman-temannya.
"Ah Iyah, nih gue inget. Pas gue kemarin makan bareng nyokap sama bokap gue, gue lihat dia ngegendong neneknya. Berhubung bokap gue punya hati yang mudah tersentuh, dia panggil lah cowok tadi untuk diajak makan bareng. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol ternyata neneknya sakit, dia gak punya kendaraan atau uang untuk bawa neneknya berobat ke rumah sakit. Alhasil dia bawa nenek itu berobat ke salah satu Mantri yang letak tempatnya lumayan jauh. Kayak dari markas kita ke rumah Oki lah."
"Gila, itu jauh banget!"
"Yoi bro! mau dikasih uang tapi dianya gak mau. Dia bilang udah diajak makan aja dia bersyukur banget. Gue yakin dia anak baik, Alhamdulillah liat dia kerja disini, itu tandanya dia udah punya penghasilan buat kehidupan ke depannya." Ujar Andres.
Clein melihat pria dengan tubuh kurus itu dari kejauhan. Ia terlihat sibuk menata makanan di atas nampan. Bekerja dengan penuh semangat, mengantarkan makanan ke atas meja customer dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.
Terlihat bahwa ia mengerjakan pekerjaan dengan hati yang ikhlas.
"Hei!" Clein mengangkat tangannya kembali untuk memanggil pria itu. Pria itu menoleh dan menghampiri Clein dengan nampan yang masih berada di tangannya.
"Iyah kak?"
"Duduk dulu disini!" Perintah Clein.
"Eummm maaf kak, ini masih jam kerja saya. Saya tidak bisa. Saya harus kembali mengantarkan makanan ke meja lain kalau tidak saya takut nanti atasan saya marah."
"Siapa yang akan memarahi kamu?" Tanya Clein.
Pria itu terdiam sebentar,
"Katakan, apa pernah ada yang memarahi kamu disini?" Lanjut Clein.
Pria itu menggeleng pelan, kemudian memberanikan diri untuk menatap manik mata Clein.
"Saya hanya mengikuti peraturan kerja. Saya baru satu hari kerja disini dan saya tidak ingin mengecewakan atasan saya, kak." Ucapnya sopan.
"Tenang aja bro. Kalo sama kita lo aman. Restauran ini milik komunitas kita. Lo gak perlu khawatir, yang minta ini Clein, dia pemimpin sekaligus bisa dibilang dia itu bos dari semua karyawan disini." Ujar Revan.
Pria itu terkejut dan semakin merendahkan tubuhnya.
"Maaf kak, saya tidak tau kalau kakak itu bos disini."
"Duduk dulu, saya ingin berkenalan dengan kamu." Ucap Clein.
Pria itu terlihat ragu dan tetap berdiri di tempatnya.
"Eh hallo kak, kakak itu yang kemarin yah? Maaf tadi aku gak liat kakak karena saking banyaknya orang disini." Ucapnya.
"Iyah, gapapa selow aja." Balas Andres santai.
Pria itu kemudian duduk di tempat kosong samping Clein.
"Nama kamu siapa?"
"Bintang kak."
"Sudah sarapan?" Tanya Clein.
Pria bernama Bintang itu menggeleng pelan.
"Makanlah dulu dengan saya dan teman-teman disini. Semakin siang nanti, kondisi resto akan semakin ramai. Apalagi ini hari weekend, saya sudah menduga kalau kamu pasti belum beristirahat dan memakan apapun."
"Tapi kak-"
"Tidak ada tapi-tapi lagi, saya yang meminta. Makan bersama tidak akan membuat kamu kehilangan pekerjaan kamu. Istirahat sejenak, tenaga manusia juga ada batasnya dan bukankah perlu juga untuk diisi terlebih dahulu?"
"Baik kak." Lirihnya.
"Revan tolong pesankan makanan sekaligus minumnya untuk Bintang!" Ujar Clein.
"Oke."
Revan bergegas pergi ke dapur dan akan memintanya langsung kepada kepala Chef yang sudah sangat ia kenal. Clein melihat wajah Bintang yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya.
"Kamu punya adik atau kakak?"
"Engga kak."
"Hanya tinggal bersama orang tua?"
"Saya tinggal bersama nenek saya kak, hanya berdua."
Clein mengerutkan kening dan menatap wajah anggota lainnya yang juga merasa bingung.
"Orang tuanya kemana?"
__ADS_1
"Orang tua saya berpisah, saya ini anak broken home. Ayah saya sudah lama meninggalkan saya sejak saya berada di dalam kandungan usia 5 bulan. Dan saat saya berumur 2 tahun ibu saya menitipkan saya pada nenek, dia bilang dia akan bekerja ke luar negeri untuk menjadi TKW. Tapi sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi." Air mata terlihat jatuh di pipi Bintang.
"Maafkan saya." Ujar Clein mengusap punggung Bintang.
"Ah tidak apa-apa kak, ini bukan salah kakak. Sayanya saja yang cengeng." Ucap Bintang berusaha memaksakan senyumnya.
"Gimana kabar nenek kamu sekarang? Saya dengar dari Andres nenek kamu sakit?"
"Iyah kak, itu benar. Nenek saya sakit jantung dan kondisinya masih tetap sama tidak ada perubahan."
"Sudah coba bawa ke rumah sakit?"
"Engga, saya gak punya biayanya. Biaya rumah sakit pasti sangat mahal." Helaan nafas keluar begitu saja dari mulutnya.
"Cari uang untuk makan saja saya kesulitan kak, gimana untuk biaya rumah sakit."
"Jika saya membantu kamu untuk membiayai perawatan nenek kamu, apa kamu berkenan?" Tanya Clein.
Bintang sangat terkejut mendengar ucapan Clein. Namun anggota lain hanya bersikap biasa, memang hal seperti itu sudah tidak asing lagi. Clein selalu ingin membantu orang-orang. Keras diluar namun hati Clein selembut kapas.
"Apa kakak serius?" Tanya Bintang.
"Ya iyalah bro, Clein gak bakalan mungkin bohong!" Ujar Deva.
Bintang menatap Clein.
"Saya serius."
"Terimakasih kak, kakak sangat baik. Saya tidak tau harus membalas kebaikan kakak dengan apa." Ujar Bintang sembari menggenggam jemari Clein.
"Cukup doakan saya dan teman-teman disini saja. Doa dari kamu itu balasan yang lebih penting dibandingkan apapun." Ucap Clein.
Bintang mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya. Tak berkisar lama makanan pun datang dan mereka semua mulai menyantap makanan sembari berbincang permasalahan yang akhir-akhir menimpa komunitas mereka. Bintang yang terlihat tidak mengerti, dia hanya tetap fokus pada makanannya.
******
Brakkk
Karel menggebrak meja dan menyingkirkan barang-barang yang ada di atas meja. Semua barang jatuh berserakan di atas lantai. Alita yang tengah berada disana segera menghampiri kekasihnya dan berusaha menenangkannya.
"Kamu ini kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Alita. Alita mencoba membenarkan posisi meja dan memungut barang-barang itu kembali lalu menaruhnya ke atas meja.
"Kau lihat sikap sombong wanita tadi? Dia sudah mempermalukan saya! Semakin hari tingkahnya semakin sok berkuasa! Wanita yang tidak pernah sadar dimana kastanya berada!" Ujar Karel. Ia memijit pelipisnya.
Prayyy!
Alita terperanjat kaget saat sebuah vas bunga di lempar Karel, hampir saja serpihan pecahan vas bunga itu mengenai wajahnya. Alita langsung menghampiri Karel.
"Tenangkan diri kamu! Duduklah!" Ucapnya sembari membawa Karel untuk duduk di atas sofa.
"Saya tidak dapat tenang sebelum saya membalaskan harga diri saya! Saya muak melihat wajah sok baiknya! Saya muak melihat bagaimana ia mencoba untuk meracuni pikiran mamah dan adik saya! Wanita itu wanita yang sangat manipulatif!"
"Aku tidak tau masalah kamu apa. Aku tidak tau wanita mana yang kamu bicarakan, Karel. Tenanglah, bicara pelan-pelan, agar aku bisa memahami masalah kamu. Jangan pernah mengandalkan emosi. Selesaikan dengan kepala dingin, tarik nafas dulu baru bicara." Ujar Alita lembut.
Karel melirik wajah kekasihnya, Ucapan Alita selalu saja berhasil menenangkannya.
"Kamu lihat wanita yang tadi datang bersama banyak sekali rombongan?"
Alita mengangguk.
"Ya aku melihatnya."
"Dia adalah musuh sekaligus manusia yang paling saya benci di dunia ini. dia wanita yang selalu bersikap sombong. Wanita yang selalu ingin menjadi nomor satu. Kamu lihat bagaimana orang-orang mengagungkannya? Saat dia berbicara empat mata dengan saya dan mencoba mempermalukan saya dengan kalimatnya, semua orang yang berada di dekat peti jenazah papah, semua orang itu mendengar ucapannya. Saya tidak terima saat dia mengatakan agar saya bisa menjadi pria jantan, ucapan itu sangat melukai harga diri saya Alita!"
"Pantas saja kalian tidak terlihat akrab, ternyata kalian ini musuh. Tapi menurut pendapatku dia mengatakan itu bukan tanpa sebab, sebelumnya pasti kamu sudah melakukan sesuatu dan aku bisa mendengar dari ucapannya kalau kamu mengirim mata-mata untuk mengawasi dia."
"Saya melakukan itu karena saya ingin menghancurkan hidupnya! Saya harus tau lebih banyak informasi untuk mendapatkan celah sekaligus melakukan cara terbaik untuk membuat hidupnya menderita!"
"Ya intinya begini, kamu yang mulai duluan dan dia hanya mengikuti alur yang kamu buat." Ucap Alita.
Karel melihat wajah Alita tak suka.
"Jadi sekarang kamu membelanya? Membela gadis angkuh itu dibandingkan kekasihmu sendiri?!"
Alita tersenyum lembut dan mengecup bibir Karel lama kemudian melepaskannya kembali.
"Bukan membelanya itu hanya pendapatku saja." Ucap Alita menatap lembut manik mata Karel.
Hembusan nafas kasar keluar begitu saja dari bibir Karel.
"Saya tidak menyukai pendapatmu itu!" Ujar Karel
...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...
__ADS_1