Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 32


__ADS_3

Langit sudah gelap, suara jangkrik menari-nari di dalam gendang telinga. Karel tengah duduk dengan tatapan tajam menatap satu persatu orang-orang yang bekerja padanya.


Dua orang pria tengah bersimpuh tepat dihadapannya. Aura tegas Karel begitu kuat sampai-sampai mampu membuat bulu kuduk mereka meremang.


"Kalian tidak setuju dengan keputusan saya untuk memotong setengah gaji kalian?" Tanya Karel.


"Ma-maafkan saya tuan... Jika setengah gaji kami di potong bagaimana kami bisa menafkahi anak, istri kami tuan? Gaji yang kami dapat saja tidak sebanding dengan pekerjaan yang kami lakukan. Tolong kasihanilah kami, tuan Karel." Ucap Seorang pria paruh baya dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Saya sudah berhasil membebaskan Audrey, sekarang dia berada disini. Tidak bisakah anda tetap menggaji saya dan semua orang disini tanpa di potong setengah gajinya?" Tanya Alden. Disampingnya terdapat juga Audrey, penampilannya sudah tidak beraturan, lusuh tak terurus.


Karel hanya tersenyum miring


"Saya tidak peduli dengan kondisi keluarga kalian! Masih mending saya mau menggaji kalian walaupun setengahnya, setidaknya saya tidak memecat kalian!" Tegas Karel.


Karel beralih menatap Alden, ia berjalan secara perlahan lalu menghampiri pria itu.


"Perjanjian kita sebelumnya apa?" Tanya Karel mengangkat dagu Alden dengan telunjuknya.


Alden hanya diam.


"Perjanjian kita saat itu jika kamu berhasil membebaskan Audrey maka saya tidak akan memecat kamu. Dan kamu meminta agar mereka-mereka tidak di pecat kan? saya sudah melakukannya! Soal gaji itu sudah menjadi wewenang saya! Saya berhak memberi upah berapapun. Dan lagi, kerugian yang saya terima karena pekerjaan kalian yang gagal itu, kerugiannya tidak akan bisa di tutup oleh gaji semua pekerja disini! Kalian harus bersyukur karena saya masih baik dengan memberikan setengah gaji kalian!"


Hening, tak ada satu pun dari mereka yang mau melihat wajah Karel. Kalau sudah seperti ini, Apa mau dikata. Karel yang punya kuasa atas mereka, Sedangkan mereka hanyalah peliharaan yang bisa di buang kapanpun pemilik peliharaan itu mau.


"Apa ada yang mau kembali membantah keputusan saya?!" Tanya Karel dengan sorot mata tajam.


Mereka semua menggeleng cepat.


"Ada satu saja selintingan kata buruk yang masuk ke telinga saya, saya tidak akan segan-segan untuk menendang kalian jauh-jauh. Bukan hanya itu, saya juga akan menjamin kalau hidup kalian akan dipenuhi kesengsaraan!" Tegas Karel dengan nada penuh ancaman.


"Lanjut packing dan kembali kirim barang! Kali ini kita akan mengirimkannya ke Islandia. Kita akan uji coba jalur baru pada penyelundupan kali ini. Pastikan semua barang terkirim dan pastikan tidak ada satupun barang yang gagal!" Tegas Karel.


"Baik." jawab mereka.


Karel mengambil jasnya, diikuti empat bodyguard, Karel keluar dari bekas ruko itu. Karel melihat seorang pria gagah yang tengah berdiri patuh untuk mempersilahkan Karel masuk ke dalam mobil.


"Zaidan tolong mengemudi malam ini! Antarkan saya ke apartemen kekasih saya!" Ujar Karel pada pria yang bernama Zaidan. Zaidan menutup kembali pintu dan membuka pintu di kursi penumpang.


"Baik tuan!"


Setelah Karel masuk ke dalam mobil, Zaidan mengitari mobil lalu duduk di kursi kemudi. Karel sengaja memilih Zaidan karena pria itu cenderung pendiam. Zaidan sangat pandai dalam menjaga rahasia. Bukan hanya itu, Zaidan juga sangat tangkas dalam mengetahui gerakan musuh.


Jika Karel datang ke tempat kekasihnya untuk sekedar bercumbu, maka dia akan membawa Zaidan kesana. Karel akan bersenang-senang di dalam apartemen itu sedangkan Zaidan akan berdiri terus diluar. Mengamati jika ada hal yang membahayakan untuk Karel.


Drrrtttt drrrttt drrrtttt


Dering ponselnya terdengar, tapi suara itu bukan berasal dari ponselnya melainkan ponsel milik Clein.


Tertera nama Shane di layar handphone itu. Karel hanya mendengus dengan kasar.


"Hampir setiap jam dia menghubungi handphone ini, apa dia tidak merasa bosan?!" Gumam Karel saat melihat handphone itu.


Handphone di matikan Karel menaruhnya kembali di saku jas kanannya.


"Lajukan mobil dengan cepat!" Perintah Karel.

__ADS_1


Zaidan mengangguk dan menginjak pedal gas.


******


"Rumahnya keliatan sepi, Clein kemana yah?" Gumam Shane saat panggilan teleponnya tak juga diangkat oleh Clein.


Shane sudah berada di depan rumah Clein. Namun gerbang di tutup dengan rapat. Dari kejauhan Marcel dan Edvin tengah mengintip pergerakan Shane.


"Aku harus ngelakuin apa ini Vin? Kak Shane pasti lagi nyariin Kak Clein."


"Udah bilang aja kak Clein dibawa sama suaminya pergi. Kak Clein udah nikah gitu."


"Mana bisa kayak gitu Vin! Pernikahan mereka harus menjadi rahasia keluarga kita. Yang pantes buat bilang kan kak Clein, bukan aku." Ucap Marcel.


"Kalau gitu kamu samperin aja dia! Terus bilang aja kak Clein gak ada gitu pergi ke rumah neneknya. Dia disuruh nemenin nenek yang lagi sakit, udah bilang gitu aja! Pake jalur kebohongan, Cel." Usul Edvin.


"Tapi dia bakal percaya gak yah?"


"Ya dicoba dulu dong Marcel, udah sana! Kalau kamu diemin dia kayak gini, takutnya nanti dia cari tau soal kakak kamu." Ucap Edvin mendorong tubuh Marcel agar secepatnya menemui Shane.


Meskipun ragu, namun Marcel mencoba untuk menerima usulan dari Edvin. Ia melangkah keluar dari dalam rumah bersamaan dengan seorang satpam yang membawa segelas kopi ditangannya.


"Eh ada tamu yah? Haduh..." Ucap pak Rahmat. Ia sedikit berlari, tangannya mencoba untuk menutup gelas kopinya yang akan tumpah.


"Haduh panas haduh panas! Bentar-bentar!" Perutnya ikut bergoyang-goyang ketika ia mulai melangkahkan kakinya secara cepat.


Kopi ditaruh di dalam pos satpam, kemudian ia bergegas mengambil kunci.


"Udah pak, biar Marcel aja yang bukain!" Teriak Marcel dari arah belakang.


"Eh Den Marcel, baik den ini kuncinya."


"Udah lama kak nungguin disini?" Tanya Marcel.


Gerbang terbuka dan Shane pun masuk.


"Lumayan." Jawab Shane.


Marcel mengangguk.


"Yaudah kalau gitu masuk dulu yuk kak ke dalem!"


"Makasih Cel sebelumnya, tapi kayaknya gak usah. Ka Shane disini gak bakal lama-lama. Kakak cuma pengen cari kak Clein, dia ada di dalam kan?" Tanya Shane.


Benar saja! Marcel hanya menelan salivanya susah payah. Hening beberapa saat.


"Cel? Kakak kamu ada di dalam kan?" Ulang Shane.


ide dari Edvin patut ia coba.


"Begini kak, euummm kak Clein pergi keluar kota untuk menjenguk nenek disana. Dia di suruh bunda buat nemenin nenek." Jawab Marcel.


"Oh gitu Cel? Tumben yah kakak kamu gak ngabarin kak Shane dulu? Biasanya kalau kemana-mana tuh suka ngabarin. Kak Shane chat juga cuma di read doang, terus pas di telepon juga seringnya dimatiin." Ujar Shane.


Marcel membatu ditempatnya, ia seperti mati kutu dan diserang oleh rasa bingung.

__ADS_1


"Kalau itu kurang tau yah kak, mungkin ada masalah sama handphonenya. Tapi Marcel juga sama sih kayak kak Shane, Marcel susah buat hubungin kak Clein." Marcel memberi jawaban yang sesuai dengan isi kepalanya. Ia tidak peduli omong kosong apa yang telah ia berikan.


"Kamu juga sama gak bisa hubungin kakak kamu?" Tanya Shane.


"Iyah kak." Jawab Marcel mantap.


"Oke makasih cel. Berhubung kak Clein nya gak ada, kak Shane pulang aja. Nanti kalau kakak kamu bisa kamu hubungin, bilang aja kak Shane nyariin, ada sesuatu hal penting yang harus kak Shane sampaikan." Ucap Shane.


"Insyaallah kak, kalau Marcel gak lupa." Balas Marcel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Shane menganggukkan kepalanya,


"Gak mau mampir dulu kak ke rumah?"


"Enggak deh, kak Shane lagi banyak urusan soalnya." Ucap Shane menaiki motornya lalu memakai helm.


"Mari Cel, kak Shane pamit." Ucap Shane.


Marcel mengangguk, saat itu motor melaju dengan kecepatan tinggi. Rasanya sekarang Marcel dapat menghirup udara dengan bebas setelah beberapa saat ia harus menahan nafas agar kebohongannya tidak tercium oleh Shane. Marcel bergegas menghampiri pak Rahmat.


"Nih pak kuncinya." Marcel memberikan kunci gerbang pada pak Rahmat yang tengah menyeruput kopinya.


"Hmmm aahhh iyah den. Kopinya bikin mata melek, segerrr!" Ucap Pak Rahmat sembari mengambil kunci yang berada di tangan Marcel.


"Sekalian pak pake cemilannya, masa minum kopi gak ditemenin sama cemilan?"


"Perpaduan kopi dengan rokok itu sudah serasi den, jangan biarkan cemilan ada diantara mereka." Ucap Pak Rahmat sembari menyimpan rokok di samping kopi.


"Buset rokok apa itu pak? Perasaan Marcel baru liat." Marcel mengambil sebungkus rokok berwarna hijau itu.


"Den Marcel mana tau sama rokok ini, toh ini rokok baru harganya juga paling murah. Bapak ini senengnya sama rokok-rokok yang murah biar gak boros. Bapak lagi menghemat biar uangnya bisa bapak tabung."


"Emang harganya berapa?"


"Cuma sepuluh ribu!"


"Satu hari abis berapa bungkus tuh pak?"


"Hanya satu bungkus, Den."


Marcel nampak berpikir sebentar,


"Satu bungkus sepuluh ribu, sepuluh ribu dikali tujuh hari itu berarti dalam seminggu bapak ngabisin duit tujuh puluh ribu. Wah pak kalau ditabung itu uang lumayan loh... Kenapa gak coba buat berhenti ngerokok aja? Sayang sama paru-parunya juga pak." Ucap Marcel.


"Ini bapak lagi coba buat berhenti. Tapi ya namanya manusia kan butuh proses. Dulu bapak itu bisa ngabisin rokok dua sampai tiga bungkus dalam satu hari, kalau sekarang sih Alhamdulillah perlahan berkurang. Den Marcel bantu doain bapak yah semoga bapak bisa secepatnya lepas dari yang namanya rokok."


"Aamiin pak... Bukan hanya doa tapi harus ada usaha juga dari pak Rahmatnya sendiri."


"Pastinya den." Balas pak Rahmat tersenyum, saat ia tersenyum pipinya ikut mengembang.


"Di dalem ada cemilan kue-kue gitu, kalau pak Rahmat mau, nanti ambil aja di dapur." Ucap Marcel.


"Iyah den, siap. Makasih den." Ucap pak Rahmat memberikan jempolnya.


"Marcel masuk dulu pak." Ucap Marcel.

__ADS_1


"Siap-siap Den."


Marcel bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya. Dari kejauhan Edvin terlihat tidak sabar menunggu cerita dari Marcel mengenai tujuan kedatangan Shane tadi. Sepanjang percakapan antara Marcel dengan pak Rahmat, Edvin hanya bisa mengumpat dalam hati karena Marcel mencoba untuk menguji tingkat kesabarannya. Marcel hanya mengangkat tangannya dan menyuruh agar Edvin bersabar.


__ADS_2