
Clein telah rapi memakai pakaiannya. Saat Clein keluar dari kamar mandi, disana Karel sudah memejamkan matanya. Sepertinya pria itu sudah pergi ke alam mimpi.
Gemuruh suara perutnya terdengar. Sedari tadi perut Clein sudah mulai terasa sangat lapar, dari siang tadi ia belum juga mengisi perutnya dengan makanan. Moodnya dari pagi sampai acara selesai tidak begitu baik, sampai-sampai mood itu mengganggu pola makannya.
"Mau pesan makanan?" Tanya Karel dengan masih memejamkan matanya.
Clein menoleh, ternyata pria itu masih sadar.
"Boleh. Saya sangat lapar." Balas Clein.
Karel membuka matanya kemudian duduk di tepi ranjang.
"Mau pesan makanan sama minuman apa?"
"Saya mau nasi goreng saja, untuk minum cukup air putih." Jawab Clein.
Karel mengangguk. Ia bergerak mendekati telepon, kemudian mulai menghubungi nomor khusus yang tertera pada katalog.
Pesan nasi goreng biasa dua, untuk
minumnya dua gelas air putih dan dua jus jeruk. Tolong antarkan ke kamar nomor 350!
Setelah selesai menyampaikan pesanannya, Karel menaruh telepon itu kembali.
"Sambil menunggu pesanan datang, sebaiknya kita berdua main romantis-romantisan dulu, gimana?" Ucap Karel menaik turunkan alisnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size itu.
"Maksud anda?"
"Kita peluk pelukan dulu, saling menyalurkan kehangatan. Kan kita berdua pengantin baru." Jelas Karel.
Clein mendelikkan matanya kesal.
"Kenapa sih anda ini selalu mancing-mancing emosi saya? Sewaktu-waktu mengatakan kalau saya ini bukan selera anda tapi sewaktu-waktu anda mengatakan kalau anda seolah-olah menginginkan saya. Menurut saya anda itu tipe manusia munafik." Desis Clein.
Karel tertawa pelan.
"Sorry Clein, omongan saya tidak perlu dianggap serius! saya hanya senang menggoda anda." Ucap Karel.
"Iyah anda senang tapi kuping saya yang merasa jijik." Ketus Clein.
Clein duduk di tepi ranjang dan menatap Karel serius.
"Kekasih anda menginap di hotel ini?" Pertanyaan itu begitu saja terlontar dari bibir cantik milik Clein.
__ADS_1
"Sepertinya iyah."
"Eummm anda akan tidur di kamar ini atau nanti anda akan pergi ke kamar kekasih anda?" Tanya Clein kembali.
"Kenapa anda begitu kepo sekali?"
"Memangnya salah? Semisal anda memilih tidur di kamar ini dan tidak tidur dengan kekasih anda, saya hanya merasa aneh."
"Anehnya?"
"Ya dia kan kekasih anda. Sedangkan saya orang yang anda benci. Disana letak keanehannya." Ucap Clein.
Karel memicingkan matanya.
"Sepertinya anda mulai merasa cemburu ketika saya mengatakan kalau saya ini memiliki kekasih." Goda Karel mendudukkan tubuhnya tepat di samping Clein.
"Sa-saya cemburu? Mana mungkin!" Ucap Clein menepis godaan Karel.
"Yakin? Kalau tidak cemburu kenapa gugup seperti itu?" Tanya Karel menyentuh pinggang Clein dengan telunjuknya sampai gadis itu merasa kegelian.
"Dih siapa yang gugup sih. Berhenti menggelitik saya Karel, geli!" Ucap Clein menepis kasar tangan Karel.
"Saya tidak akan berhenti sebelum anda mengakui kalau anda ini merasa cemburu." Balas Karel kembali menyentuh pinggang Clein dan menggelitiknya.
Tangan Clein terulur untuk mendorong tubuh Karel, akan tetapi saat itu Karel malah menarik pergelangan tangannya kemudian membawa tubuh Clein ke dalam pelukannya.
Tatapan mereka saling beradu cukup lama. Dari dekat Karel dapat menghirup aroma shampo yang menyeruak masuk ke hidungnya. Karel menyentuh bagian bulu mata Clein yang lentik dengan jemarinya kemudian jemari itu turun membingkai setiap inci wajah Clein.
Karel mendekatkan wajahnya dan saat itu.
Cup
Karel menempelkan bibirnya di bibir Clein. Clein terkesiap dengan mata yang membulat Saat bibir Karel mencoba untuk memperdalam ciuman, saat itu Clein memundurkan wajahnya untuk melepaskan ciuman itu lebih dulu.
Clein memegang bibirnya tak percaya. Walaupun bukan kali pertama Karel menciumnya, namun ciuman itu masih saja membuatnya terkejut. Kali ini Clein dapat merasakan getaran yang berbeda pada hatinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar Clein akan beranjak dari tempat tidur untuk menghindari Karel, namun Karel menahan pergelangan tangannya.
"Biar saya saja." Ucap Karel.
Clein hanya diam dan menurut. Karel bergerak turun dari atas ranjang lalu membukakan pintu. Disana pesanan makanannya telah datang. Seorang pria Room Service mulai menyajikan makanan di atas meja yang tersedia.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Karel pada pria itu sembari memberikan uang tips.
"Sama-sama tuan, terima kasih kembali." Ucap pria itu kemudian pergi dari sana.
Karel duduk di atas sofa kemudian menoleh pada Clein. Disana Clein hanya duduk diam dan masih memegangi bibirnya.
"Katanya lapar, sini duduk!" Ucap Karel menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Clein mengigit bibir bawahnya lalu bergerak mendekati Karel. Ia menghempaskan bokongnya dengan perasaan tak menentu.
"Anda sadar dengan apa yang anda lakukan tadi?" Tanya Clein.
"Tentu saja. Saya tidak mabuk dan saya masih sadar." Balas Karel.
"Perilaku anda tadi itu sangatlah lancang, Karel. Kesepakatan awal pernikahan kita harus menjaga jarak dan tetap pada batasan. jadi kenapa anda ha-harus mencium saya? Sudah dua kali anda bertindak seperti itu." Kesal Clein.
"Clein, itu hanya sebuah ciuman biasa. Orang-orang juga sering melakukan itu. Saya juga melakukannya menggunakan batasan. ketika saya menanam benih saya di rahim anda, itu baru salah!" Jelas Karel.
"Mana ada seperti itu. Anda jangan membodoh-bodohi saya!" Desis Clein.
"Saya tidak membodohi anda, Clein. Saya tau anda itu gadis yang tidak mudah untuk dibodohi." Balas Karel.
Clein berdecak lalu menyandarkan punggungnya sembari melipat tangan di depan dada.
"Sudah, jangan mengingat ciuman tadi dan berhenti membahasnya. Sekarang sebaiknya anda makan makanan yang sudah anda pesan." Ucap Karel.
"Tidak mengingat tapi teringat." Ketus Clein.
"Pahala Clein pahala. Kalau sebelum sah menikah baru itu dosa." Ujar Karel lelah.
"Bukan masalah pahalanya, itu tuh namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan." Balas Clein tak mau kalah.
"Lagian yah saya pernah mendengar ceramah, kalau semisalnya, ini semisal doang jangan dulu baper." Ucap Karel memperingati Clein.
"Semisalnya seorang istri mengajak suaminya berhubungan lebih dulu itu pahalanya besar tau, Clein. Dan untuk ciuman tadi anggap saja sebagai ibadah." Lanjut Karel.
"Saya tahu! Ibadah kalau pernikahan itu didasari oleh cinta bukan didasari jebakan atau kebohongan. Pernikahan kita itu berbeda dari pernikahan kebanyakan orang-orang, Karel. Sebaiknya jika mindset itu tidak pernah ada di otak anda!" Ucap Clein.
"Siapa tau nanti anda jatuh cinta sama saya. Kita tidak tau kedepannya hati manusia akan seperti apa." Ucap Karel.
"Untuk jatuh cinta, saya yakin tidak akan mungkin!"
Karel terlihat menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ckkk berbicara dengan anda ini rasanya tidak akan menang. Sudahlah, sebaiknya sekarang anda makan makanan anda dan saya makan makanan saya. Berdebat saja tidak akan ada ujungnya." Ujar Karel.