
Karel menatap kosong ke depan. Tangannya terlihat mencengkram kuat sisi kasur. Clein bukanlah lawan yang bisa ia anggap lemah, Clein selalu saja punya kalimat yang tepat untuk membalikkan penghinaan yang Karel lontarkan. Tak hanya itu, ia sangat merutuki dirinya sendiri, karena dengan mudahnya membiarkan seorang wanita menendang *********** dan saat itu dia lah yang terlihat paling lemah.
"Cara apalagi yang harus saya lakukan untuk menghancurkan hidupnya?! saya tidak mungkin membunuhnya! Saya hanya ingin melihat kesengsaraannya! bagaimana dia hidup tanpa sebuah kebahagiaan dan hidupnya akan dibayang-bayangi oleh kegelisahan! seperti kehidupan diambang kematian untuk gadis sialan itu!" Monolog Karel berapi-api.
Ketukan pintu tiba-tiba terdengar dan membuyarkan lamunan Karel. Dengan malas Karel bangkit dan membuka pintu kamar. Disana dua orang pria terlihat berdiri di depan pintu. Satu orang resepsionis dan satu orang pria yang cukup ia kenal. Hanya beberapa kali bertemu saja itu pun hanya lewat kontak mata tanpa berbicara.
"Lo! Ternyata cowok gila yang Clein maksud itu lo!" Ujar Shane yang sangat terkejut mendapati Karel berada disana.
Karel hanya mendelikan matanya tanpa mau menyahut.
"Permisi tuan, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Saya mohon maaf sebelumnya, ada sedikit kesalahan dari rekan resepsionis lain yang mengantarkan tuan kesini karena keterbatasan bahasanya. Kita sudah menyiapkan kamar hotel dengan masing-masing nama yang sudah di tulis di bagian belakang pintu dengan hiasan. Tuan Karel diantar ke kamar yang salah. Kamar ini adalah kamar yang dikhususkan untuk nona Clein Andrea Klarisa. Kamar Tuan Karel ada di nomor 121. Sekali lagi saya mohon maaf atas kesalahan dan kekeliruan rekan kami." Ujar pria itu dengan kulit sawo matang. Wajah dan bahasanya sudah menjelaskan bahwa dia berasal dari Indonesia.
Karel melihat pada belakang pintu dan benar nama Clein yang tertulis dengan hiasan disana. Karel memijat pelipisnya. Perdebatan yang berakhir dengan sia-sia. Bagaimana mungkin ia memperebutkan kamar dan ngotot mengklaim bahwa kamar itu miliknya, sedangkan sekarang jelas bahwa kamar itu milik Clein. Setelah ini Clein pasti akan menertawakannya. Clein pasti akan mengatakan bahwa dia itu hanya pria bodoh yang mengagungkan kemenangan soal kamar itu.
"Makanya teliti sedikit! Lo itu ibarat tamu gak di undang yang seenak jidat ngusir sang empunya rumah! malu-maluin diri sendiri aja!"
"Saya tidak akan pergi dari kamar ini! Kamar ini sudah menjadi milik saya! Suruh saja gadis itu menempati kamar saya! Kesalahan bukan dari saya tapi dari pihak anda!"
"Tapi tuan, harus ada kesepakatan antara anda dan nona Clein. Saya tidak bisa memberikan keputusan secara sepihak saja. Bagaimanapun tuan dan nona Clein adalah tamu resmi disini."
"Intinya saya tidak mau pindah dari kamar ini! Jika dari awal saja kalian menunjuk kamar ini sebagai kamar yang akan saya tempati, maka yang saya inginkan hanyalah kamar ini saja! Saya tidak ingin pergi ke kamar lain!"
"Tapi tuan-"
"Sudah! Ngomong sama cowok yang gak ada otaknya cuma ngabisin waktu dan tenaga lo aja! Biarin aja dia tetap tinggal di kamar ini. Clein udah gunain kamar gue, nanti kamar dia biar gue yang tempatin!"
Resepsionis itu terlihat hanya mengangguk lemah.
"Ayo pergi! Jangan terlalu banyak bicara sama dia! Otaknya agak geser!" Ujar Shane dan diangguki oleh resepsionis itu.
"Sialan! Berani sekali dia!" Ujar Karel menajamkan matanya. Tidak Clein tidak temannya, semuanya sama-sama menjengkelkan.
******
Malam yang ditunggu oleh Clein dan Karel telah tiba. Dua orang wanita baru saja datang dengan membawa beberapa gaun dan make up ke kamar Clein. Mereka adalah seseorang yang ditugaskan untuk merubah penampilan Clein.
Clein beberapa kali menolak, namun mereka tetap memaksa. Clein tidak ingin wajahnya diubah dan dia harus memakai pakaian yang sangat seksi, itu bukan fashionnya. Clein ingin datang dengan wajah tanpa make up dan berpenampilan apa adanya. Ia tidak peduli acara apa yang akan ia datangi nantinya. Namun menurut salah seorang wanita disana, Clein harus tetap memakai gaun dan memakai riasan di wajahnya, hal itu dikarenakan acara yang akan di datangi adalah acara formal dan bergengsi. Demi Marcel, Clein pun akhirnya mau merubah penampilannya. Ia tidak ingin sedikitpun mengecewakan adik semata wayangnya itu.
Wajah Clein sudah selesai di make-up. Sekarang ia akan memakai gaun yang sedikit seksi berwarna maroon dan rambutnya pun di tata dan dibiarkan terurai. Berkali-berkali dua wanita disana selalu memuji kecantikan Clein.
"Thank you!" Ucap Clein pada kedua wanita itu.
Di depan kamarnya, empat orang pria sudah menunggunya. Pria sama yang menjemput Clein dan temannya di Bandara. Tak berkisar lama, teman-teman Clein datang dengan jas hitam yang mereka pakai. Mereka semua terdiam dan tak percaya melihat perubahan Clein.
__ADS_1
"Gila! Cantik banget!!" Puji Revan.
"Hot girl!" Timpal Deva.
"Tidak usah berlebihan. Jangan membuat saya malu dan tidak percaya diri!"
"Ya gimana lagi. Lo emang cantik Clein!" Ujar Shane.
"Sudah-sudah! Saya tidak ingin mendengar pujian kalian, saya malu. Lebih baik jika sekarang kita langsung pergi!"
Mereka semua mengangguk dan bergegas pergi ke tempat dimana dilangsungkannya acara football internasional awards.
Mereka semua masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju. Clein merasa tidak nyaman dengan gaunnya. Ia sesekali bergerak mencari posisi yang nyaman. Clein hanya bisa menutupi lekukan tubuhnya yang terekspos dengan telapak tangannya. Tidak ada barang lain disana. Bahkan Clein lupa untuk membawa tasnya.
Mobil berhenti, Clein sangat gugup saat melihat banyak sekali kamera disana. Ia harus melakukan red carpet terlebih dahulu sebelum masuk ke acara utama. Seorang bodyguard membuka pintu mobil. Sebelum turun, Clein menarik nafasnya terlebih dahulu. Kemudian saat bodyguard itu mengulurkan tangannya, Clein menerima uluran tangan itu lalu turun dari mobil.
Saat Clein turun, semua kamera langsung tertuju padanya. Dan Clein hanya bisa melihat cahaya Blitz yang sangat banyak mengenai matanya. Dengan anggun Clein melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun menyunggingkan senyum. Entah, rasanya ia tidak ingin sedikitpun untuk menarik sudut bibirnya.
Clein tidak ingin berlama-lama disana, saat itu ia langsung masuk ke dalam. Sedangkan sebagian teman-temannya mereka tengah asik berfose dengan banyak gaya disana.
"Woy! Udah ayo! Clein aja udah masuk tuh!" Ujar Shane.
"Ohhh oke-oke, ayo!" Ujar mereka dan langsung bergegas mengikuti Clein.
Tangan pria bertubuh kekar itu terulur untuk mempersilahkan Clein duduk di satu bangku yang kosong.
"Thank you." Ucap Clein. Pria itu mengangguk lalu bergegas pergi.
Clein berbalik dan akan menghempaskan bokongnya, namun niat itu ia urungkan ketika melihat seorang pria yang duduk di samping bangku itu tengah menatapnya. Clein menggeleng cepat, ia mencoba bersikap tidak peduli.
Clein duduk di bangku itu, namun tiba-tiba ia membulatkan matanya saat merasakan sesuatu mengganjal bokongnya. Clein menoleh dan menatap Karel tajam. Ia mengangkat bokongnya lalu menyingkirkan tangan Karel dengan kasar.
"Kurang ajar!" Umpat Clein dengan suara lirih.
Karel hanya membalasnya dengan tersenyum miring.
Tak berkisar lama, acara pun dimulai. Seorang pria dan seorang wanita, berjalan ke depan dan membuka acara dengan menggunakan bahasa Inggris. Soal bahasa Inggris Clein tidak cukuplah baik, maklum saja semasa sekolah ia banyak bolos di jam pelajaran. Guru bahasa Inggris di kelasnya tidak termasuk guru favoritnya, maka dari itu Clein tidak bersemangat untuk belajar pelajaran tersebut. sampai-sampai sekarang ia tidak mengerti apa yang MC itu katakan. Mungkin hanya kata-kata basic saja yang ia tahu.
Acara dibuka dengan pertunjukan menyanyi dan menari. Setelah itu acara pembacaan nominasi. Sudah ada beberapa pemain yang mendapatkan penghargaan.
Selanjutnya MC masuk ke acara yang mungkin semua orang tunggu-tunggu. Seorang translator datang dan berdiri tepat di samping Clein. Clein dan Karel di persilahkan untuk berdiri. Seorang MC mulai menanyakan pertanyaan yang sudah di siapkan.
"Kami semua ingin tahu masalah yang terjadi saat pertandingan final kemarin, sebenarnya apa yang terjadi antara anda berdua?" Ucap translator menerjemahkan ucapan MC.
__ADS_1
Clein mengambil mic dari tangan Karel. Ia akan berbicara lebih dulu.
"Sebenarnya tidak ada yang perlu di klarifikasi. Akan tetapi, jika kalian ingin tahu yang sebenarnya, maka saya akan menjelaskannya. Singkat saja, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Jika kalian ingin tahu, pria ini adalah pria brengsek! Saya hanya mencoba untuk menjaga diri saya dari pria brengsek ini!"
Translator itu menjelaskan dan seketika semua orang yang berada disana cukup tercengang dengan pengungkapan Clein.
"What do you mean?" Tanya MC yang belum mengerti dan translator mulai menerjemahkan kembali.
"Apa maksudmu?" Translator kembali menerjemahkan.
"Jangan pernah percaya dengan manusia manapun hanya dengan melihat penampilan luarnya dan topengnya saja. Dia ini pria yang mencoba untuk mendominasi para wanita. Jika kalian menganggap tindakan saya kemarin keterlaluan maka pahamilah dari sisi saya. Sebagai seorang wanita saya hanya mencoba untuk menjaga martabat saya sebagai wanita. Kalian lebih cerdas dan kalian lebih paham apa yang saya maksud!"
Ketika translator menjelaskan kembali, semua orang seperti sudah paham dan menatap Karel dengan tatapan kemarahan. Karel tidak terima dan mengambil mic itu dari tangan Clein.
"Wanita itu makhluk yang paling berbahaya. Apa yang dia ucapkan itu semua hanyalah bualan. Dia mencoba untuk menjatuhkan saya. Kami berdua teman sewaktu sekolah dan dari dulu dia ini sangat membenci saya. Apa yang terjadi kemarin adalah ungkapan dari kebencian yang sudah lama tertanam. Tidak ada sangkut pautnya dengan tindakan saya. Saya tidak melakukan hal brengsek apapun padanya! Dia ini wanita penjilat dan mencoba untuk berkamuflase!" Bela Karel.
Kali ini semua orang dibuat kebingungan, mereka tidak tahu harus percaya siapa. Clein kembali mengambil mic di tangan Karel.
"Apa anda percaya? Pelaku tidak akan mengakui kesalahannya. Jika semua pelaku mengakui kesalahan mereka, mungkin saat ini penjara sudah penuh. Bukan begitu?" Ujar Clein mendelikkan matanya pada Karel.
Semua orang mengangguk dan lebih mempercayai ucapan Clein dan saat itu Karel merasa tepojokkan.
"Kau ini apa-apaan?!" Sungut Karel menajamkan matanya. Clein seolah-olah tuli dan tidak mendengar ucapan Karel.
"Jika kalian merasa apa yang saya lakukan itu benar, maka lempar saja pria ini dengan barang-barang yang berada di tangan kalian!"
Translator itu terkejut dan rasanya ia tidak bisa menerjemahkan ucapan Clein itu.
"Cepat terjemahkan!" Tegas Clein.
Karel sedikit panik dan mencoba untuk menahan Clein dengan mencengkeram lengan gadis itu. Translator itu mengangguk saat Clein menatap tajam padanya. Ia pun mulai menerjemahkan ucapan Clein. Saat itu semua orang mengikuti ucapan gadis itu dan melemparkan barang-barang yang ada di dekat mereka pada Karel.
Clein tersenyum puas dan langsung meninggalkan acara itu. Ia melihat Karel dengan senyuman menyeringai.
"Bangs*t! ****** sialan!" Umpat Karel. Bodyguard yang ikut dengannya pun segera mengamankan Karel dari serangan orang-orang yang ada disana. Acara formal dan bergengsi kini sudah hancur berantakan. Kamera pun segera di matikan dan penyelenggara acara mulai mencoba untuk mengkondisikan acar agar lebih kondusif. Apalagi beberapa nominasi belum dibacakan.
Karel mengepalkan tangannya, tindakan Clein diluar dari ekspetasinya.
...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...
...
...
__ADS_1