Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 47


__ADS_3

Karel dan Clein sudah sampai di Mansion. Perjalanan yang cukup jauh membuat mereka sedikit kelelahan. Clein menghempaskan bokongnya dan membiarkan barang-barangnya berada di depan pintu.


Karel yang baru saja menyusul pun hanya diam diambang pintu sembari menatap barang kemudian Clein secara bergantian.


"Bawalah dulu barang-barang ini ke dalam!" Kesal Karel. Mengangkat dua koper itu dan menaruhnya tepat di dekat sofa tempat duduk Clein.


"Seharusnya anda yang membawanya! Kenapa anda harus menyuruh saya? Anda sendiri kan seorang laki-laki, letak kejantanan anda ini sebenarnya dimana?" Desis Clein.


"Mau laki-laki atau perempuan, kita itu sama-sama manusia. Harusnya kita saling bekerja sama. Di hotel tadi saya sendirian yang membawa koper masuk ke dalam mobil, nah sampai di mansion seharusnya anda yang membawanya." Ujar Karel tak mau kalah.


"Perhitungan sekali! Sudah Karel bawakan saja ke dalam kamar! Saya lelah ingin istirahat!" Sentak Clein.


"Saya juga sama lelahnya seperti anda." sinis Karel.


"Berhenti berperilaku seperti anak kecil, Karel! Umur anda sudah dewasa. Sebentar lagi Anda tua dan bau tanah, perbanyak ibadah jangan perbanyak perdebatan!" Desis Clein.


Karel melihat Clein dengan tatapan dingin. Dengan perasaan kesal, ia menyeret koper itu dengan kasar dan membawa semua koper ke dalam kamarnya.


"Dia ini aneh, satu hari sikapnya seperti orang dewasa, satu hari sikapnya berubah menjadi anak-anak. Karel, Karel kegilaan apalagi yang tengah anda buat." Lirih Clein memijit pelipisnya lelah.


Di dalam kamar, Karel tengah menatap pemandangan dari kaca di depannya. Hamparan rumput hijau dan juga bunga berwarna-warni yang terawat terlihat memanjakan mata. Karel memegangi bibirnya seperti apa yang Clein lakukan malam tadi. Entah, Karel rasanya bingung kenapa tiba-tiba ia bisa mencium bibir Clein. Saat melihat Clein rasanya ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Mungkinkah ia jatuh cinta? Semudah itu? Mengubah semua kebencian yang sudah tertanam lama?


Pagi tadi Karel mencoba untuk mencari masalah agar apa yang ia lakukan semalam, tidak kembali Clein bahas. Bukannya tidak mau bersikap jantan, Karel hanya mencoba untuk menjaga reputasi di depan istrinya. Karel pun dapat merasakan bibir Clein masih menempel disana. Bibir yang manis yang sekali cecap bisa membuatnya kecanduan. Ia tidak bisa membedakan antara nafsu semata ataukah memang benar kalau itu adalah cinta.


Suara langkah kaki terdengar, Karel mencoba untuk tidak menoleh saat Clein masuk ke dalam kamar. Sebuah tangan terulur memeluk tubuhnya dari belakang. Karel tidak berpikir kalau seseorang yang memeluknya adalah Clein. Karel membalikkan tubuhnya dan ia membulatkan mata lalu tatapannya menatap Clein tak percaya.


"Maafkan saya." Ucap Clein. Karel pikir wanita itu Alita bukan Clein. Kalau yang memeluknya adalah Alita, ia tidak begitu terkejut karena Clein sudah mengetahui hubungan mereka. Kalaupun Alita datang, Clein juga pasti akan mengizinkannya karena ketika Karel menjelaskan soal hubungannya, Clein seperti tidak begitu terganggu.


"Clein." Gumam Karel.


"Maafkan saya karena saya sudah mengatakan sesuatu yang mungkin membuat anda tersinggung." Ucap Clein matanya beradu menatap dalam manik mata milik Karel.


Clein menangkup wajah Karel yang rahangnya di tumbuhi bulu-bulu halus. Hati Karel seketika langsung melemah, getaran demi getaran kembali terasa disana.

__ADS_1


Karel menarik Clein dan membawa tubuh gadis itu kepelukannya. Clein mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.


Hanya ada keheningan selama beberapa menit, Karel tidak mengatakan apa-apa begitupun dengan Karel. Clein pun tidak membalas pelukan suaminya.


"Ucapan saya tadi terlalu menyakiti hati anda yah?" Tanya Clein ketika Karel masih memeluknya erat.


Karel melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Clein.


"Tidak." Jawab Karel singkat.


Clein mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Syukurlah... Eummm saya ingin meminta izin, kira-kira apa saya boleh kalau sore nanti saya pergi berburu?"


Karel mengernyitkan keningnya.


"Berburu? Kemana?" Tanya Karel.


"Ke hutan lah Karel, kemana lagi? Saya sudah lama tidak mengasah kemampuan memanah saya. Jika di izinkan sore nanti saya akan pergi." Lirih Clein.


"Boleh, tapi harus ditemani oleh Frey." Ucap Karel.


"Tidak bisa yah kalau saya pergi sendiri? Kalau ada orang lain yang menemani saya, rasanya nanti saya akan kehilangan fokus." Ucap Clein.


"Kalau anda pergi sendiri nanti siapa yang akan menjaga anda disana? Di hutan itu banyak hewan-hewan berbahaya." Ujar Karel.


Clein nampak mencebikkan bibirnya kesal. Padahal ia sengaja bersikap manja seperti tadi agar ia bisa pergi berburu sendiri. Ia akan pergi ke hutan yang berada di dekat Markasnya, dengan begitu Clein bisa bertemu dengan teman-temannya.


"Jika tidak mau pergi dengan ditemani oleh Frey, lebih baik jika tidak usah pergi saja." Lanjut Karel.


"Yasudah tidak apa-apa kalau Frey ikut bersama dengan saya. Yang paling penting saya bisa pergi berburu." Ucap Clein.


"Gadis yang baik." Ucap Karel mengusap puncak kepala Clein dengan sayang.

__ADS_1


******


Jam menunjukkan pukul 16:00 wib. Clein sudah rapi dengan pakaian berburunya, begitupun juga dengan Frey. Karel menuruni anak tangga dan menghampiri mereka berdua.


"Sudah mau pergi?" Tanya Karel.


"Iyah, saya pergi dulu yah." Ucap Clein menghampiri Karel lalu mengulurkan tangannya.


Karel hanya menatap tangan itu dengan tatapan bingung. Ia diam tanpa mau melakukan apa-apa.


"Ckkk Karel saya mau cium punggung tangan anda biar berkah." Ucap Clein menarik uluran tangan itu lalu menciumnya khidmat.


Karel sangat terkejut dengan perubahan sikap Clein yang signifikan. Sulit lagi membedakan antara nyata atau hanya kamuflase. Ia cukup senang ketika mendapat perlakuan seperti itu. Seperti yang ia rasakan sebelumnya, hatinya sangatlah lemah. Clein berhasil mengetuk kembali hatinya yang sempat ia tutup rapat-rapat untuk gadis itu.


Setelah mencium punggung telapak tangan Karel, Clein pun menyunggingkan sebuah senyuman.


"Saya pergi dulu. Bye bye." Ucap Clein melambaikan tangan pada Karel dengan wajah ceria.


"Hati-hati, tetap jaga keamanan." Ucap Karel.


"Oke, oke." Jawab Clein.


Clein pun pergi lebih dulu. Frey diam di tempatnya sebelum mendapat perintah dari Karel. Karel berjalan menghampiri tangan kanannya itu.


"Jaga Clein baik-baik. Jika sesuatu terjadi apa-apa padanya, saya tidak akan memaafkan kamu." Ucap Karel.


Frey menganggukkan kepalanya


"Siap tuan, saya pasti akan menjaga nona Clein. Saya pastikan dia akan baik-baik saja." Ucap Frey yakin. Menjaga Clein adalah salah satu tugasnya. Ia tidak akan mungkin mengabaikan tugas itu, apalagi Karel lah yang meminta. Tidak ada waktu untuk membantah semua perintah tuannya.


"Satu lagi, kalau ada sesuatu yang mencurigakan dari gerak-gerik Clein, apapun itu walaupun hanya hal kecil, tolong segera beritahukan saya." Ucap Karel.


"Baik tuan." Ucap Frey.

__ADS_1


"Yasudah, silahkan pergi!" Perintah Karel.


Frey mengangguk kemudian menyusul Clein.


__ADS_2