Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 7


__ADS_3

Clein merasakan ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Ia menggeliat pelan dan sedikit membuka matanya. Disana adiknya tengah berdiri dengan memandangi dirinya. Perlahan Clein bangun dan beringsut untuk duduk menyandar pada ujung ranjang.


"Sudah pulang? Dari kapan?"


Marcel terlihat menundukkan kepalanya lalu dengan pelan ia duduk tepat di samping Clein.


"Kakak maafin Marcel."


Clein mengernyitkan keningnya.


"Untuk?"


"Soal yang semalam. Gara-gara aku maksa kakak buat datang ke Stadion, Kakak jadi ketemu sama Abangnya Edvin dan kak Karel jadi ngucapin kata-kata yang gak ngenakin kakak."


Clein tersenyum tipis kemudian mengisyaratkan Marcel agar mendekat padanya. Marcel pun menurut dan mendekat pada Clein. Saat itu Clein mendekap lembut tubuh adiknya dan menyandarkan kepala Marcel di dadanya.


"Jangan minta maaf atas kesalahan orang lain. Kakak datang kesana bukan karena paksaan kamu. Kakak sebagai kakak kandung kamu sudah pasti harus dukung kamu, meski itu hanya dukungan kecil." Ujar Clein.


Marcel melepaskan pelukan Clein dan menatap manik mata kakaknya lembut.


"Tapi Marcel gak bisa liat kakak kayak semalam. Marcel khawatir pas kakak langsung pergi dengan ekspresi marah tanpa ngomong apa-apa. Marcel takut kakak ngelakuin hal yang engga-engga."


"Tenang saja. Kamu tidak usah mengkhawatirkan kakak lagi. Kakak bukan anak kecil dan kakak bisa dengan mudah mengatasi kemarahan Kakak."


Marcel tersenyum dan mengangguk.


"Syukurlah. Marcel lega dengernya."


Clein mengusap pipi Marcel lembut.


"Kamu belum menjawab pertanyaan kakak. Sejak kapan kamu sudah berada di rumah?"


"Sekitar satu jam yang lalu."


"Satu jam? Kenapa tidak langsung bangunkan kakak?"


"Tadinya Marcel mau bangunin Kakak cuma pas Marcel liat kakak tidur, kak Clein keliatan capek banget. Akhirnya Marcel gak jadi bangunin Kakak, kasian takutnya baru aja tidur."


Clein tersenyum hangat.


"Sudah makan?"


Marcel menggeleng pelan.


"Ayo makan bersama. Tapi Kakak mandi dulu."


"Iyah kak."


Clein mengecup puncak kepala adiknya dengan sayang, lalu bergegas bangkit dari tempat tidurnya untuk pergi ke kamar mandi.


"Kak?" Panggil Marcel pelan. Clein yang akan masuk ke dalam kamar mandi pun menoleh.


"Iyah?" Marcel terlihat meremas jemarinya karena merasa gugup. Pikirannya berkelana, hingga ia tidak sadar bahwa ia hanya diam selama dua menit.

__ADS_1


"Marcel ada apa? Apa yang ingin kamu katakan?"


Clein menghampiri adiknya. Marcel masih tetap diam dan enggan berbicara. Clein menarik dagu Marcel agar menatap matanya dan berani untuk mengungkapkan pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


"Katakan saja, gak usah ragu."


"Marcel takut kak Clein marah."


"Kakak tidak tau apa yang akan kamu tanyakan. Tapi Kakak berjanji, Kakak tidak akan memarahi kamu. Cepat katakan, Marcel!"


Marcel terlihat menarik nafasnya dalam sebelum berbicara. Ia pun memberanikan diri berbicara dengan menatap manik mata Clein, meski ia merasa sangat gugup dan cemas. Tapi ia bisa mencobanya, toh ia juga tidak akan terlalu memaksa, meski sedikit berusaha meyakinkan.


"Minggu nanti Marcel sama beberapa pemain lain diundang untuk datang ke acara Football Internasional Awards yang di adakan di Riyadh, Arab Saudi. Banyak pemain terkenal juga yang hadir dari club luar negeri."


"Yaaa, terus? Bagus dong. Artinya permainan kamu berkembang pesat, Kakak turut senang. Apa yang salah?" Tanya Clein yang tidak mengerti.


"Tapi masalahnya kak Clein sama kak Karel juga di undang. Mereka berharap agar kakak bisa datang bareng Marcel." Lirih Marcel.


Saat mendengar nama Karel disebut, ekspresi Clein seketika berubah. Nampak ketidaksukaan yang terpancar di wajahnya. Clein menarik nafasnya dan menggeleng.


"Kakak tidak bisa datang!" Tegas Clein.


"Tapi kak, mereka ngundang Kakak sama kak Karel untuk wawancara aja. Mereka ingin kalian berdua klarifikasi soal masalah semalam. Agar apa yang di beritakan media engga simpang siur dan engga jadi berita hoax." Ujar Marcel.


"Kakak tidak bisa datang apalagi jika nanti kakak harus bertemu dengan pria itu! Kakak tidak ingin!"


"Kalau kak Clein gak dateng, sama aja kayak kak Clein membenarkan apa yang media beritakan? Bahkan ada media yang bilang kalau kakak itu wanita yang senang merendahkan seorang pria. Atas tindakan kakak semalam mereka berani menuangkan hal yang gak masuk akal atas pikiran sepihak mereka, tanpa mengetahui faktanya!"


"Kamu harus tau, Kakak dengan kakaknya Edvin itu musuh sewaktu di sekolah menengah atas. Kita itu ibarat air dan minyak, kakak dengan dia tidak bisa di satukan di dalam satu tempat karena kami berdua memiliki kebencian satu sama lain. Kamu tidak akan merasakan, jika kamu tidak berada di posisi kakak. Kakak tidak akan pergi, tolong jangan memaksa!" Clein mengusap lembut puncak kepala Marcel kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Marcel menghembuskan nafasnya kasar. Ia sudah mencoba untuk membujuk Clein, namun hasilnya sama. Clein tidak ingin pergi ke acara awards bersama dengannya. Marcel harus segera memberitahukan soal itu kepada Edvin. Agar sahabatnya itu tidak terlalu berharap banyak padanya.


*****


Di sisi lain Edvin tengah duduk di sofa berhadapan dengan Karel. Karel nampak berpikir keras soal kemauan adiknya itu.


"Apa Clein akan datang?"


"Belum tau, Marcel masih berusaha membujuknya."


"Kalau Clein datang maka Abang akan ikut!"


"Oke, sebentar. Edvin tanyain dulu sama Marcel."


Karel mengangguk dan mempersilahkan Edvin untuk menghubungi sahabatnya itu. Namun belum saja Edvin menekan nama Marcel di kontaknya, ia lebih dulu mendapatkan sebuah pesan chat dari sahabatnya itu.


Vin, sorry banget, kak Clein gak mau dateng ke acara awards itu. Dia gak pengen ketemu sama abang kamu. Aku gak bisa berbuat apa-apa lagi, udah berusaha ngebujuk juga tapi kak Clein tetep teguh sama pendiriannya.


Edvin berdecak pelan. Karel yang melihat adiknya tampak frustasi pun hanya menaikkan alis kanannya.


"Bagaimana?" Tanya Karel.


"Kak Clein gak mau dateng, katanya gak mau ketemu Abang."

__ADS_1


Karel tersenyum miring, sebelumnya ia sudah menduga bahwa Clein pasti berusaha untuk menjauhi dirinya. Namun Karel tidak bisa membiarkan itu, ia harus bertemu dengan Clein. Acara seperti itu bisa menjadi kesempatan besar untuk Karel mempermalukan Clein. Ia masih tidak bisa terima dengan tindakan Clein, apalagi saat media memberitakan berita yang terkesan merendahkan dirinya. Bagaimanapun Clein harus datang kesana.


"Katakan pada Marcel untuk mengatakan hal ini pada kakaknya. Abang menunggu Clein untuk datang di acara itu, jika Clein tidak datang dan mencoba untuk menghindari Abang, katakan bahwa dia hanya seorang pengecut."


Edvin terdiam sebentar.


"Eu-euummm Edvin gak bisa bang. Kalimat itu terlalu kasar. Edvin takut jika Marcel dan kak Clein akan tersinggung."


"Ikuti perintah Abang! Abang jamin, Clein tidak akan menolak untuk datang ke acara itu!"


Meski ragu namun Edvin akan mencobanya. Ia mengetik pesan seperti apa yang dikatakan Karel, kakaknya. Semoga kali ini berhasil, ia akan meyakinkan Marcel dengan menambahkan kata-kata darinya, agar Marcel tidak tersinggung.


"Akan sangat menyenangkan!" Lirih Karel tersenyum menyeringai.


Di rumahnya Marcel tengah menunggu balasan pesan dari Edvin. Selang beberapa saat ia membuka pesan itu dan membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak terima jika kakaknya yang paling ia sayangi dianggap pengecut oleh pria yang merendahkan Clein semalam.


Jangan diambil hati perkataan abangku. Dia hanya ingin membantumu untuk membujuk kak Clein. Ingat, kita jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mumpung abang Karel belum berubah pikiran. Kata abangku dia akan datang kalau kak Clein juga datang. Jadi dicoba dulu saran abangku.


Marcel hanya menghela nafas gusar. Tepat saat itu Clein telah selesai mandi dan memakai jubah mandinya. Marcel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Clein. Clein hanya melihat sekilas dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.


"Kak?" Panggil Marcel. Suaranya sangat lirih nyaris tak terdengar.


"Sudah Kakak katakan kakak tidak akan datang. Kakak sudah cukup jelas mengatakannya. Jangan pancing emosi kakak, Cel." Ucap Clein.


Marcel menundukkan kepalanya.


"Tadi Edvin ngechat Marcel, katanya kata kak Karel, dia bilang dia menunggu kakak untuk datang ke acara awards itu. Kalau kakak gak dateng dan mencoba menghindari nya, dia bilang.... Euuu dia bilang..." Marcel menjeda ucapannya membuat Clein penasaran.


"Bilang apa? Kalau bicara jangan setengah-setengah!" Ujar Clein tak sabar.


"Dia bilang,,, katanya kakak pengecut!" Tambah Marcel.


Clein mengepalkan tangannya, sorot matanya berubah tajam. Ia mendudukkan tubuhnya diatas ranjang dengan tatapan lurus ke depan.


"KAREL! SIALAN! BAJINGAN!" Umpat Clein membuat Marcel memundurkan tubuhnya. Sekarang Clein terlihat sangat menyeramkan. Ia seperti siap memangsa setiap orang yang berada di dekatnya.


"Pasti ada alasan di balik ini! Dia pasti sengaja! Baik, kita lihat permainan apa yang akan kamu mainkan, Karel!" Monolog Clein.


Clein melihat wajah Marcel yang mulai ketakutan. Ia segera mengganti ekspresinya seperti semula. Clein berusaha tenang dihadapan adiknya. Harus tetap seperti itu, ia harus bisa mengesampingkan amarahnya agar adiknya merasa nyaman.


"Kakak akan datang! Tapi Kakak akan bawa beberapa orang dari komunitas kakak untuk hadir disana!"


Mendengar itu Marcel tersenyum senang.


"Pesankan sebelas tiket untuk sebelas orang termasuk kakak. Beritahu kepada penyelenggara acara tersebut untuk menyiapkan translator saat masa wawancara nanti. Bahasa Inggris kakak sangat buruk, jadi kakak butuh translator!"


"Oke, siap kak!" Marcel mengangguk dengan semangat. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ternyata cara itu berhasil dan semoga baik Clein ataupun Karel akan berbaikan dan semakin dekat, pikir Marcel. Marcel pun bergegas pergi dari kamar Clein. Ia akan melaksanakan semua perintah kakaknya dan memberitahukan berita bahagia itu pada Edvin.


...Terima kasih sudah membacađź’š...


Semoga kalian suka di setiap chapternya yah, jangan pernah bosan untuk support terus cerita ini..


see you...

__ADS_1


__ADS_2