Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 25


__ADS_3

"saya terima nikahnya Clein Andrea Klarisa binti Rio Hendrata dengan maskawin tersebut tunai." Ucap Karel dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana Sah?"


"SAH!"


Kata sah menggema di seisi rumah Clein yang hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Clein mencengkram kuat jemarinya, rasanya sekarang ia ingin mati saja daripada harus hidup bersama dengan Karel. Pikiran Clein berkecamuk, apa yang harus ia katakan pada teman-temannya nanti? Mereka pasti akan kecewa saat mendengar kabar pernikahan Clein dan Karel.


Karel mengulurkan tangannya pada Clein. Clein melirik sekilas dan tetap pada posisinya. Ia tidak ingin sekalipun menyentuh tangan pria itu.


"Cepat cium tangan saya! Sekarang anda ini sudah sah menjadi istri saya!" Bisik Karel tepat di telinga Clein.


Clein menatap bengis wajah Karel.


"Anda pikir saya sudi? Jangan mencoba untuk memerintah saya!" Balas Clein penuh penekanan.


"Om dengar! Clein tidak ingin mencium telapak tangan saya, dia mengatakan kalau dia tidak sudi. Ucapannya sangat menyakiti hati saya om." Ujar Karel berpura-pura sedih.


"Clein, kamu gak boleh gitu. Tidak ada yang salah untuk mencium tangan Karel, sekarang kalian harus bisa saling menerima satu sama lain bagaimanapun pernikahan ini dibuat oleh diri kalian sendiri." Ujar Rio.


Clein menarik nafasnya dalam, tunggu Clein tunggu ikuti saja permainan dari Karel. Perlahan Clein meraih tangan Karel lalu menciumnya. Hanya sebagai formalitas dan Clein langsung menghempaskan tangan Karel dengan kasar.


Pernikahan ini bukanlah pernikahan yang Clein dambakan. Pernikahan yang dibuat oleh seorang Karel hanya untuk menjebaknya. Pernikahan paling mengenaskan dimana tidak ada hiasan, tidak ada gaun yang indah dan menikah dengan seseorang yang paling ia benci. Hidup satu atap bermain dalam skenario buatan untuk berakting sebagai suami dan istri, tidak akan pernah ada sebuah kata bahagia dalam hidupnya.


Akad nikah telah selesai dilaksanakan. Penghulu berpamitan untuk pergi. Clein tidak bisa berlama-lama disana dan memutuskan akan pergi ke kamarnya.


"Clein mau kemana?" Tanya Rio saat melihat putrinya berbalik.


"Kamar, Clein capek." Jawab Clein malas.


"Ajak Karel juga ke kamar kamu!"


Clein mengerang dalam hatinya, Karel lagi Karel lagi! Apa-apaan ini?! Clein mencoba menarik nafasnya berkali-kali. Ia sudah lelah berdebat. Jika ia tahu akan jadinya seperti ini mungkin ia tidak akan pernah datang ke acara syukuran yang dibuat untuk adiknya.


"Ayo!" Lirih Clein.

__ADS_1


"Karel sekarang kamu bisa tidur di kamar Clein. Kalian tidak perlu lagi melakukan hubungan itu secara sembunyi-sembunyi. Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri." Jelas Rio.


"Baik om. Tapi sepertinya Karel harus pulang dulu untuk mengambil pakaian Karel."


"Gak usah pulang, nanti mamah suruh Edvin buat bawain pakaian kamu." Ucap Rahma.


"Iyah kak, nanti Edvin bawain kesini. Udah sekarang nikmatin aja malam pertamanya." Ucap Edvin sembari mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Karel berusaha memaksakan senyumnya pada adiknya itu padahal di lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak ingin mendengar kata malam pertama di telinganya. Pernikahan itu dibuat bukan untuk menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.


"Yasudah kalau begitu Karel masuk ke kamar Clein dulu." Ucap Karel bersikap semanis mungkin.


Rio dan semuanya mengangguk dan mempersilahkan Karel untuk pergi. Clein hanya memutar bola matanya malas kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu.


Saat mereka sudah sampai di dalam kamar, Clein langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya. Clein mendorong tubuh Karel sampai punggung pria itu menyentuh tembok.


"Apa rencana anda sebenarnya Karel? Apa tujuan anda menjebak saya dan membuat pernikahan gila ini terjadi?!"


Mata Clein dan Karel saling beradu. Kilatan emosi menyambar begitu dalam. Karel yang ditatap hanya menarik sudut bibirnya dan menggeser tubuh Clein dengan mudah.


"Sebenarnya tujuan saya sekarang tidak jauh berbeda seperti tujuan awal, tentu saja tujuan itu adalah untuk menghancurkan hidup anda. Dengan menikah, saya sebagai suami anda akan memegang kendali penuh atas anda dan pernikahan ini akan menjadi pernikahan terbaik yang tidak akan pernah anda bayangkan sebelumya." Lanjut Karel.


"Tujuan anda tidak akan pernah tercapai. Saya tidak akan pernah menganggap pernikahan ini ada! Diantara kita tidak akan pernah ada yang namanya suami dan istri. Status kita masih sama, hanya sebagai musuh! Saya tidak akan pernah membiarkan Anda sedikit pun mengendalikan saya!" Tegas Clein.


"Saya tidak peduli dengan tanggapan anda soal pernikahan ini! Yang saya inginkan hanya agar anda menganggap saya sebagai seorang suami, dimana suami adalah seseorang yang harus anda hormati dan anda harus menuruti semua perkataan saya! Terkecuali soal hubungan ranjang saya tidak akan memintanya dan saya sama sekali tidak menginginkan soal itu!" Ujar Karel.


Clein berdecih pelan


"Saya tidak akan pernah mau!"


"Itu terserah anda! Anda tau? Walaupun pernikahan ini belum sah di mata hukum, akan tetapi pernikahan ini sah di mata agama. Ada saksi yang menyaksikan pernikahan kita. Jika anda tidak mau mengikuti perkataan saya, Maka saya akan menyebarkan soal kabar pernikahan kita pada teman-teman anda. Pada akhirnya mereka akan benci terhadap anda dan husss-" Karel menggantungkan ucapannya.


"Anda tidak akan lagi menjadi pemimpin komunitas Black Tyrannical, kemudian dengan cepat anda akan di tendang dari komunitas itu." Lanjut Karel diikuti tawa yang puas.


"Tolong jangan katakan apapun pada teman-teman saya! Jangan pernah sekalipun anda membeberkan soal pernikahan ini pada siapapun!" Mohon Clein.

__ADS_1


"Pilihannya hanya satu, jadilah gadis penurut!" Tegas Karel.


"Baik! Jika anda mampu menyembunyikan status ini, maka saya akan menuruti semua kemauan anda. Terkecuali soal urusan ranjang."


Karel menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Clein


"Nah gitu dong." Ucap Karel dengan semangat lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


mata Clein membulat dengan sempurna. Berani sekali pria itu tidur di kasurnya. Clein tidak pernah mau tidur di ranjang yang sama dengan Karel dan ia juga tidak mau tidur di atas lantai yang dingin.


"Turun Karel! Jangan tidur di kasur saya! Tidurlah di bawah!" Clein menghampiri Karel lalu menarik kaki pria itu.


"Kasur ini besar Clein, anda bisa tidur disini." Karel menepuk-nepuk sisi kasur yang terlihat kosong.


"Di samping saya." Lanjutnya.


"Sudah saya katakan, jangan berbicara soal urusan ranjang. Mana mungkin saya mau tidur disana!"


"Urusan ranjang itu soal anda melaksanakan kewajiban anda terhadap saya bukan soal tidur di ranjang yang sama. Tapi terserah anda. Jika anda ingin tidur di lantai yang dingin, silahkan saja!" Jawab Karel santai membenarkan posisinya lalu memejamkan matanya.


"Sialan! Saya bisa saja menendang anda keluar! Saya bisa saja patahkan leher anda!" Ujar Clein.


"Sudah jangan bermimpi. Ingat kartu anda sudah saya pegang!" Ucap Karel dengan masih memejamkan matanya.


Clein berdecak dan menahan agar emosinya tidak membuncah. Clein bergegas untuk naik ke atas kasur. Ia melirik pria yang kini masih memejamkan matanya dan sepertinya dia belum pergi ke alam mimpi.


"Tetap berada di ujung kasur! Jangan pernah melewati batas anda!" Clein menggeser guling tepat diantara dia dengan Karel.


"Hmmm. Anda bukan selera saya, jadi anda bisa tidur dengan tenang!" Ujar Karel membuka matanya lalu menatap gadis itu malas.


Clein terdiam. Ia mengeratkan jaketnya dan memeluk dirinya sendiri. Tatapannya terarah pada langit-langit kamarnya. Clein yakin kalau sebelum akad di mulai, Karel tidak melakukan apapun padanya. Clein tidak merasakan apapun pada tubuhnya, semua terasa biasa-biasa saja.


Bagaimana ia bisa hidup dalam bayang-bayang Karel? Memang ini yang Karel inginkan, memenjarakan Clein lalu membuatnya menderita. Jika sudah seperti ini apa yang bisa ia perbuat? Clein tidak ingin jika teman-temannya menjauhi dirinya, kalau saja mereka tahu akan statusnya yang telah menikah. Mereka pasti akan sangat terkejut ketika tau siapa pria yang Clein nikahi.


...To be continue...

__ADS_1


Terima Kasih Sudah Membaca 💚


__ADS_2