Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 40


__ADS_3

BRAKKK


Karel menutup pintu mobil dengan kasar. Ia duduk dengan tatapan lurus ke depan.


"Acara belum selesai tapi anda terus meminta untuk pulang. Tingkah anda ini seperti anak kecil saja!" Ujar Karel mendelikkan matanya.


"Sampai kapan acara selesai? Kita sudah berada di acara itu selama dua jam Karel! Anda sudah menyelesaikan maksud anda untuk memperkenalkan saya pada mereka. Setelah itu apalagi yang akan kita lakukan disana?" Desis Clein.


"Masih ada beberapa hal yang harus saya bicarakan tentang bisnis. Tapi, arghh... Anda sendiri malah mengacaukan semuanya." Ucap Karel mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Kenapa tidak Anda saja yang tetap berada disana? Kenapa tidak biarkan saya pulang sendiri?"


"Tidak bisa karena saya sudah memperkenalkan anda sebagai calon istri saya. Jika anda tidak bersama dengan saya, mereka pasti akan bertanya-tanya soal keberadaan anda. Pikiran buruk dari mereka akan menjadi gosip dan gosip buruk akan menyebar dengan luas. Saat itu image saya yang akan dipertaruhkan." Ucap Karel.


"Anda ini terlalu mempersulit hidup. Selesaikan pekerjaan anda tanpa melibatkan saya. Tuhan menciptakan otak agar bisa bekerja. Setidaknya cari alasan yang logis, yang mudah mereka percaya. Saya yakin tidak akan ada gosip buruk tentang anda maupun saya!"


Karel hanya diam dan melipat tangannya. Percuma berdebat dengan Clein yang tidak akan mendapat ujungnya.


"Frey! Cepat jalan!" Perintah Karel dengan nafas gusar.


Frey mengangguk kemudian melajukan mobilnya.


Di dalam mobil hanya ada keheningan. Clein dan Karel saling memalingkan wajah satu sama lain. Keduanya terlihat asik dengan pikirannya masing-masing. Jalanan seperti sesuatu yang mampu menarik perhatian dibandingkan apapun.


Dalam situasi seperti itu, Frey merasa canggung dan serba salah.


Mobil berhenti tepat di lampu merah. Mata Clein menerawang menatap jalanan dengan perasaan tak menentu. Tiba-tiba tatapan Clein terhenti ketika melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Shane?" Gumam Clein yang masih dapat di dengar oleh Karel.


Karel langsung menoleh dan melihat ke arah pandangan yang Clein lihat. Di atas motor hitam dengan balutan jaket kulit dan juga helm, Karel dapat melihat pria yang pernah berdebat dengannya di Riyadh, Arab Saudi saat itu.


Tangan Clein terangkat untuk membuka kaca mobil. Namun dengan cepat Karel menahan tangan itu.


"Apa yang akan anda lakukan?" Tanya Karel panik.


"Lepaskan Karel, awas! Saya mau panggil teman saya. Minggir! Jangan coba-coba untuk menghalangi saya!" Tegas Clein. Bukannya melepaskan, Karel malah semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Clein.


"Itu sama saja dengan anda bunuh diri, Clein. Anda ingin Shane curiga saat melihat saya bersama dengan anda? Kalau dia mengetahui pernikahan ini bagaimana?" Ujar Karel.


"Saya tidak peduli! Saya rasa sekarang, saya tidak bisa lagi hidup dalam bayang-bayang anda! Lebih baik jika saya memberitahukan soal pernikahan ini sendiri. Jika anda tidak mau melepaskan saya, mungkin Shane akan membantu saya soal itu." Tegas Clein.


Karel menggeleng dengan cepat. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Baginya Clein harus tetap menjadi tahanannya sebelum hidupnya benar-benar hancur. Karel harus mengikat Clein dalam sebuah ikatan untuk meremukkan hati Clein. Kalau ancaman Karel tidak mempan lagi, itu sama saja rencananya akan sia-sia.


Lampu berubah hijau.


"Frey, jalan!" Perintah Karel. Frey langsung menginjak pedal gas.


"SHANE!" Teriak Clein saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Di tempatnya Shane merasa ada seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh mencari dimana sumber suara itu. Namun ia tidak bisa menemukannya.

__ADS_1


"Kayaknya gue denger suara Clein, tapi dimana dia?" Gumam Shane yang masih diam di tempatnya. Matanya bergerak mengelilingi setiap tempat, siapa tau dugaannya benar.


"Ah mungkin perasaan gue aja yang terlalu rindu sama Clein, sampai-sampai gue berhalusinasi kayak gini." Gumam Shane kembali. Ia berusaha mengenyahkan semuanya dan melajukan motornya.


Clein mendorong tubuh Karel dengan kasar. Ia menatap tajam manik mata Karel.


"Bangs*t Karel! Kenapa anda mencoba untuk menghalang-halangi saya?! Saya ini tidak pernah ingin hidup bersama dengan anda! Saya tidak bisa hidup di penjara dan harus mengikuti semua kemauan anda! Saya tidak akan peduli lagi dengan ancaman anda soal akan memberitahukan pernikahan ini!" Sentak Clein.


"Anda pikir akan mudah untuk lepas dari saya, Clein! Anda salah! Saya tidak akan mungkin melepaskan anda!"


"Kalaupun anda tidak melepaskan saya, saya akan tetap melepaskan diri. Saya rasa ini waktu yang tepat untuk lepas dari anda sebelum pernikahan ulang terjadi." Tegas Clein.


"Kalau anda bersikeras seperti itu, maka anda harus siap kehilangan segalanya. Termasuk teman-teman anda. Saya tidak akan segan-segan untuk menyakiti mereka!" Ujar Karel.


Clein mendesis, ia memegang tuxedo Karel dengan kasar.


"Sejengkal saja anda menyentuh teman-teman saya, saya tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidup anda." Lirih Clein penuh penekanan.


"Silahkan saja, Clein. Setelah saya menyakiti teman-teman anda, lalu anda mengakhiri hidup saya. Tidak akan ada tujuan yang akan anda dapatkan selain sebuah penyesalan!" Balas Karel.


Clein menaikkan alis kanannya.


"Maksud anda?"


"Anda siap melihat teman-teman anda disakiti oleh saya? Ingat Clein ancaman saya ini bukan ancaman main-main! Saya bisa menghabiskan teman-teman anda sampai pada bisnis-bisnis anda! Apa anda siap melihat kehancuran itu?" Lirih Karel mendekatkan bibirnya di telinga Clein.


Frey mencoba membenarkan posisi duduknya. Ia memijit pelipisnya lelah, kapan perdebatan antara suami istri itu bisa berakhir, pikirnya.


Clein diam membatu di tempatnya. Bibirnya seperti tak mampu untuk membalas ucapan Karel. Ada ketakutan yang tersirat disana. Clein takut jika Karel serius dengan ucapannya. Clein tau kalau Karel yang sekarang itu jauh berbeda dengan Karel yang dulu. Kuasa pria itu jauh lebih besar dan tentu saja ia bisa dengan mudah melakukan apapun yang dia mau.


Mobil Karel memasuki halaman mansion. Mobil berhenti dan Clein masih sibuk dengan pikirannya mengenai tekanan yang Karel berikan. Karel melirik Clein dengan ekor matanya dan tersenyum miring. Tanpa sepatah kata pun Karel memilih untuk turun lebih dulu.


BRAKKK


Clein terperanjat kaget dan lamunannya seketika buyar. Clein dapat melihat punggung Karel yang mulai menjauh masuk ke dalam Mansion. Frey melihat Clein dari kaca spion yang menempel pada plafon mobil.


"Saya tau hidup anda ini sangat sulit nona, tapi saya hanya berpesan ikuti saja apa yang tuan Karel inginkan.  Sejauh ini keinginannya tidak begitu menyulitkan. Saya rasa kalau anda mengikuti keinginannya, hidup anda akan baik-baik saja." Lirih Frey.


Clein melihat punggung Frey.


"Semua keinginannya sangat menyulitkan Frey. Tekanannya sangat besar. Saya hanya ingin lepas dari pernikahan ini. Sakit harus hidup bersama pria yang tidak saya cintai." Ucap Clein.


"Saya tau. Tapi tuan Karel ini pria yang serius dalam setiap kata-katanya. Tunggu saja sampai waktunya tepat, saya sangat yakin anda akan bisa melalui ini." Ucap Frey.


Clein menghembuskan nafas kasar. Frey terlihat tidak tega melihat Clein. Wanita itu sudah sangat baik padanya. Ia tahu sulitnya menjadi Clein, ia harus mengorbankan masa depannya untuk menikah dengan Karel dan Karel memperlakukan Clein dengan sangat tidak baik.


"Bolehkah saya memberi solusi nona?"


Clein kembali melihat pada Frey.


"Boleh, apa?" Tanya Clein penasaran.

__ADS_1


"Kalau nona Clein menghadapi tuan Karel sama kerasnya saya rasa tuan Karel akan melakukan hal yang sama. Lebih baik jika nona hadapi tuan dengan kelembutan." Saran Frey.


Clein mengerutkan keningnya.


"Saya masih tidak mengerti maksud anda apa, Frey?"


"Berpura-pura jatuh cinta padanya, berakting seolah-olah anda bahagia dengan pernikahan ini. Saya sangat yakin kalau tuan Karel akan merasa muak lalu dengan cepat melepaskan anda." Lanjut Frey.


"Berpura-pura jatuh cinta? Seperti apa?"


"Lakukan tugas anda sebagai seorang istri dengan baik. Perlakukan tuan Karel layaknya seorang suami. Kemudian bermanja-manja padanya, kurang lebih seperti itu." Ujar Frey. Ia juga tidak begitu paham soal hubungan suami-istri karena Frey tidak punya pengalaman soal pernikahan.


"Anda yakin cara seperti itu akan berhasil?"


"Dicoba dulu tidak ada salahnya." Balas Frey.


"Terima kasih Frey atas sarannya, saya akan memikirkannya terlebih dahulu." Ucap Clein.


"Baik nona."


Clein turun dari mobil kemudian menyusul Karel masuk ke dalam mansion. Clein berhenti di tempatnya saat melihat Karel tengah duduk santai di ruang tamu. Pria itu tengah sibuk memainkan handphonenya.


Clein meremas jemarinya, haruskah ia melakukan saran dari Frey sekarang? Tapi rasanya Clein tidak siap. Perlahan Clein melangkahkan kakinya. Ia berdiri tepat di samping sofa yang Karel duduki. Ia terlihat menarik nafas panjang sebelum berbicara pada Karel.


"Maafkan saya." Lirih Clein.


Karel masih tetap diam dan sibuk membalas beberapa pesan yang masuk ke handphonenya.


"Yang saya lakukan tadi memang sangat salah. Seharusnya saya mengikuti saja apa yang anda inginkan." Ujar Clein yang berpura-pura menyesal.


"Di-dimulai hari ini saya akan mencoba untuk tidak membantah anda dan melakukan tugas saya sebagai seorang istri dengan baik. Saya juga bersedia untuk melakukan pernikahan ulang lusa nanti. Sekali lagi saya minta maaf." Lirih Clein.


Karel menghentikan jemarinya dari layar handphone. Ia mengalihkan pandangannya pada Clein. Sepertinya kepala gadis itu terbentur. Karel cukup terkejut ketika kata maaf keluar dari bibir Clein. Apakah itu hanya sebuah siasat saja?


"Pasti ada sebuah rencana yang tengah anda jalankan." Ujar Karel.


Clein memejamkan matanya, Karel cukup jeli dalam mengetahui sesuatu. Clein berusaha bersikap setenang mungkin.


"Rencana apa? Saya melakukan ini hanya karena saya lelah jika harus terus berdebat dengan anda. Saya rasa saya tidak punya cukup kekuatan lagi untuk melawan anda." Balas Clein.


"Saya tidak bisa mudah percaya." Ucap Karel.


"Tidak apa-apa. Saya hanya berkewajiban untuk meminta maaf. Selebihnya itu terserah anda." Ucap Clein.


Karel terdiam dan melihat Clein masih dengan tatapan curiga.


"Saya masuk ke kamar dulu, jika anda butuh bantuan saya, anda bisa panggil saya saja." Lanjut Clein kemudian pergi menuju kamarnya.


Entah ada jin mana yang tengah merasuki Clein. Sulit untuk percaya kalau dia mau bersikap seperti itu.


Saat menaiki anak tangga, Clein hanya berdecak pelan.

__ADS_1


"Huh, bisa Clein bisa! Sementara ini kamu harus mengesampingkan soal image!" Gumam Clein sembari menarik nafas dalam.


__ADS_2