
Clein tengah berkumpul bersama dengan keluarganya untuk makan siang. Suasana kembali hangat setelah kedatangan Marcel. Suara bel rumahnya terdengar, Clein menoleh dan melirik kepada keluarganya. Namun mereka hanya mengangkat bahunya, seolah mengatakan bahwa mereka tidak tau siapa yang datang. Mereka tidak mengundang tamu manapun hari ini. Dan tak ada satu orang pun yang membuat janji temu.
Bi Idah bergegas pergi dan membuka pintu. Ia melihat seorang pria tengah berdiri dengan jaket seperti yang sering di pakai oleh Clein terlihat melekat di tubuhnya. Pria itu menyunggingkan senyum tipis sebagai tanda sapaan terhadap Bi Idah.
"Cari siapa Den?" Tanya bi Idah sopan.
"Clein nya ada Bi?"
"Ada, den. Kalau boleh tau nama aden ini siapa yah? Supaya non Clein tau siapa yang datang."
"Nama saya Kenzo."
"Ohhh den Kenzo. Silahkan masuk dan silahkan duduk. Bibi panggilin non Clein nya dulu."
Kenzo mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu di sana. Setelah itu bi Idah bergegas menghampiri Clein.
"Siapa bi?" Tanya Marcel.
"Temennya non Clein, den. Namanya Kenzo."
Clein yang mendengar itu segera menyudahi aktivitas makannya. Ia berdiri dari tempat duduknya. Melihat Rio, kemudian Eliana lalu Marcel. Kedua orangtuanya begitupun Marcel mengangguk untuk mempersilahkan Clein menyudahi aktivitas makannya dan menemui Kenzo.
Clein melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Disana ia dapat melihat pria itu tengah duduk dengan memainkan handphonenya.
"Ada keperluan apa? Tumben sekali kamu datang kesini." Tanya Clein. Pria itu menoleh lalu berdiri.
"Tidak usah berdiri, duduk saja!" Lanjut Clein.
Kenzo mengangguk dan duduk kembali di sofa. Clein pun ikut duduk di sofa tepat di hadapan Kenzo.
"Begini Clein. Pemimpin dari geng Hitler, dia pengen ketemu sama lo untuk membahas soal tebusan untuk pembebasan Reynold."
"James?"
Kenzo mengangguk mantap. Clein tersenyum menyeringai.
"Reynold akan tetap menjadi tahanan kita! Meski James memberikan kekuasaannya untuk dijadikan sebagai tebusan untuk membebaskan Reynold, kita tidak akan membebaskannya sebelum kita puas menyiksanya. Reynold sudah terlalu banyak memberikan penderitaan bagi anggota komunitas kita. Maka dari itu kita akan memberikan sebuah penderitaan lagi untuknya!" Tegas Clein.
"Gue setuju, Clein! Gue cuma pengen menyampaikan pesan aja. Kalo lo gak pengen, kita bakalan kirim pesan penolakan pada pihak mereka."
Clein mengangguk.
"Kita tidak akan membuang waktu untuk bertemu dengan pria itu! Lebih baik kita fokus pada tujuan dari komunitas kita!" Ujar Clein.
"Baik Clein!"
"Setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Clein.
"Markas." Singkat Kenzo.
"Bareng saya! Dan saya minta tolong agar kamu membelikan banyak makanan berat sesuai jumlah anggota komunitas kita dan beli banyak cemilan juga. Di markas, Oki dan beberapa anggota lain tidak kembali ke rumah mereka hanya untuk menjaga Reynold dari geng Hitler. mereka pasti belum memakan apapun!" Ujar Clein.
Clein berjalan ke dalam kamarnya. Setelah kembali ia membawa banyak lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya pada Kenzo. Kenzo pun menerima uang itu lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kalau gitu gue beli makanan dulu. Nanti kalo udah, gue balik lagi kesini." Ucap Kenzo
"Sip, Saya juga harus bersiap terlebih dahulu." Balas Clein.
Kenzo mengangguk dan bergegas pergi untuk membeli makanan. Clein pun melangkahkan kaki menuju kamarnya. Disana Marcel sudah rapi dengan pakaiannya.
"Mau kemana?" Tanya Clein.
"Ke rumah Edvin kak."
Clein terdiam sebentar
"Boleh berteman dekat dengan Edvin. Tapi jangan terlalu dekat dengan kakaknya!" Ucap Clein dingin.
__ADS_1
"I-iyah kak, Marcel bakal jaga jarak kok sama ka Karel. Kan temen Marcel itu Edvin bukan kak Karel." Ujar Marcel menampilkan deretan giginya.
"Bagus! Kakak harap kamu bisa memegang kata-kata kamu! Kamu sangat tau kalau kakak tidak senang dengan sebuah kebohongan!" Ucap Clein.
"Iyah kak." Lirih Marcel.
Clein mengangguk kemudian bergegas pergi ke kamarnya. Marcel menghembuskan nafas lega saat melihat Clein dari kejauhan. Ketika kakaknya berbicara tentang Karel, entah mengapa atmosfer disekitarnya berubah jadi mencekam. Kebencian Clein terhadap kakak sahabatnya itu tidak main-main. Entah kesalahan apa yang di buat Karel sampai kakaknya bisa seperti itu. Marcel hanya tau jika kakaknya itu orang yang sangat baik, meski diluar karakternya memang berbeda seperti ketika di rumah. Namun hatinya begitu lembut seperti kapas.
******
Clein telah rapi dengan pakaiannya. Jika biasanya dirumah ia memakai pakaian santai, kali ini ia memakai atasan tank top putih dibalut jaket hitam berwarna hitam dipadupadankan dengan celana jeans sobek di bagian lutut. Clein sering kali memakai pakaian dengan dominan warna hitam, karena ia menyukai warna itu. Warna yang terkesan gelap, mencerminkan nama depan komunitasnya. Clein tidak ingin ciri dari komunitasnya hilang hanya karena penampilannya.
Kenzo tengah menunggu di depan rumahnya. Clein pun bergegas mengeluarkan motornya.
"Mana makanan beratnya? Kok cuma cemilan aja?" Tanya Clein saat melihat Kenzo hanya membawa dua kantong kresek besar berisi cemilan.
"Susah bawanya, mana bisa gue bawa sendiri, Clein. Nanti di anterin ke Markas sama mereka, gue udah ngasih tau alamatnya kok."
Clein mengangguk
"Sini saya akan membawa satu kantong cemilan. Kamu keliatannya kesusahan gitu." Ujar Clein.
"Gak usah Clein, gue aja." Ucap Kenzo sembari berusaha menarik satu kantong kresek yang siap untuk jatuh ke tanah.
"Jangan egois, Kenzo. Saya akan membantu kamu, cepat bawa kesini!" Ujar Clein.
Kenzo pun menstandarkan motornya dan turun. Ia menghampiri Clein, lalu menyerahkan satu kantong kresek berisi cemilan.
"Lo kan pemimpin, Clein. Rasanya gak pantes kalo lo bantu bawa ginian." Ucap Kenzo.
"Kita semua sama! Jangan pernah membedakan sesuatu. Tuhan saja yang punya bumi beserta isinya, selalu menolong hambanya ketika hambanya mengalami kesulitan. Masa iyah saya yang hanya seorang manusia biasa, manusia yang diciptakan oleh Tuhan dari tanah sama seperti kalian, hanya diam dan membiarkan orang lain mengalami kesulitan?"
Kenzo tersenyum.
"Lo gak salah di pilih menjadi pemimpin, Clein. Dibalik kerasnya karakter lo, dibalik itu lo punya hati bak malaikat." Puji Kenzo.
"Tidak usah berlebihan. Sebaiknya kita cepat pergi ke Markas!" Ujar Clein
Kenzo kembali menaiki motornya, mereka pun bergegas melajukan motor mereka menuju Markas Black Tyrannical.
Sekitar 15 menit mereka di perjalanan, Clein dan Kenzo akhirnya sampai di tempat tujuan mereka. Banyak motor yang sudah berjejer rapi di depan Markas Black Tyrannical. Suara riuh tawa dan candaan terdengar sampai ke telinga Clein.
Shane terlihat keluar dari dalam Markas lalu menyambut Clein dan Kenzo dengan senyuman.
"Akhirnya datang juga. Ayo cepet anak-anak yang lain udah pada nunggu!"
"Nunggu kita apa nunggu makanan?" Goda Kenzo.
"Yang pastinya makanan sama Clein! Bukan lo!" Serobot Deva di belakang Shane.
"Huh, dasar si cowok sensian! Nanya ke siapa yang jawab siapa!" Ketus Kenzo.
"Sudah-sudah! Ayo masuk!" Ujar Clein.
Meski sedikit merasa kesal namun Kenzo mengikuti langkah Clein untuk masuk ke dalam markas. Ia membuang wajahnya saat Deva melihat ke arahnya.
"Udah jangan baperan, Lo kayak gak tau Deva aja. Dia emang biasa suka gitu, bukan sama lo aja sama Revan dan anak-anak yang lain juga sama." Ucap Shane.
"Seenggaknya Shane, gue kan niatnya mau bercandaan tapi dia selalu jawab serius pake nada yang gak enak di denger!" Gerutu Kenzo.
Clein yang mendengar ucapan Kenzo, langsung menatap ke arah Deva. Deva yang merasa dirinya di tatap pun hanya mengangkat bahunya tak acuh.
"Deva, cepat minta maaf!" Bisik Clein penuh penekanan. Namun Deva menggelengkan kepalanya dan tetap tidak ingin untuk meminta maaf pada Kenzo. Ia merasa bahwa ia tidak memiliki kesalahan apapun. Ia berpikir bahwa Kenzo saja yang terlalu berlebihan dalam merespon sesuatu hal.
"Deva!" Kali ini nada bicara Clein terdengar serius. Deva menghembuskan nafas kasar kemudian bergegas menghampiri Kenzo.
"Maaf gue salah. Harusnya lo juga paham Kenzo, harusnya lo memahami karakter gue yang begitu. Aslinya hati gue ini baik kok, walau kadang omongan gue gak nyenengin lo." Deva mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Kalau gue ngomongnya sama lo sih gapapa. Tapi ini kan gue lagi ngomong sama Shane. Tiba-tiba lo maen jawab-jawab aja, mana pake nada gitu lagi!"
"Iyah-iyah sorry. Gue kan udah minta maaf, jadi lo maafin gue ngga?" Deva menggerakkan tangannya yang sedari tadi belum dibalas oleh Kenzo.
"Iyah gue maafin!" Kenzo membalas uluran tangan itu.
"Nah gitu dong." Deva memeluk tubuh Kenzo. Suasana di sana pun berubah hangat. Kemudian dengan cepat Kenzo melepaskan pelukan Deva.
Clein dan Kenzo menaruh cemilan itu diatas meja. Para anggota komunitas Black Tyrannical pun segera menyerbu cemilan yang Clein bawa.
"Oki mana?" Tanya Clein yang tidak melihat Oki berada di kumpulan anggota lain.
"Hadir!"
Tatapan Clein berhenti pada pria yang mengangkat tangannya, ia tengah tidur terlentang dengan mata masih terpejam. Clein hanya menggelengkan kepalanya dan ia mengambil beberapa cemilan lalu menghampiri pria itu.
"Makan cemilannya untuk mengganjal perut kamu. Saya tau kamu belum makan apapun dari semalam." Ucap Clein menaruh cemilan itu di dada Oki.
Oki pun membuka matanya dan melihat cemilan itu.
"Gue laper Clein, gue gak mau ini, ini gak bikin kenyang, maunya nasi."
"Nasi nanti. Kenzo sudah memesannya. Untuk sementara waktu, ganjal saja dulu dengan cemilan itu." Ucap Clein.
"Thanks Clein!" Ucap Oki.
Clein mengangguk kemudian memilih duduk di sofa yang berada di dalam Markas itu. Shane pun memilih duduk tepat di samping tubuh Clein. Ia melihat wajah Clein dari samping.
"Kayaknya lo lagi mikirin sesuatu? Ada masalah?" Tanya Shane.
Clein menoleh dan menyandarkan punggungnya. Semua orang pun langsung melihat ke arah Clein.
"Sabtu nanti saya harus pergi ke Riyadh, Arab Saudi. Malamnya saya harus menghadiri acara Football Internasional Awards bersama Marcel." Ujar Clein.
"Keren dong Fa, lo bakalan pergi ke luar negeri. Apalagi setahu gue itu acara awards bergengsi." Ucap Revan.
"Semuanya aja lo bilang keren, Van!" Seru Deva.
"Ya iyah dong. Pasti banyak bintang bola dunia juga yang akan hadir disana. Apa gak keren itu?!" Balas Revan.
"Kenapa lo juga harus datang? Fokus utama mereka pasti sama pemain bintang sepak bola doang, terutama Marcel." Ucap Son.
"Mereka ingin mewawancarai saya soal masalah semalam. Bukan hanya saya yang diundang, tapi juga pria yang berdebat dengan saya di lapangan." Ucap Clein.
Semua anggotanya saling menatap satu sama lain.
"Alasan mereka mengundang pria itu juga apa?" Tanya Shane.
"Mereka ingin saya dan dia mengklarifikasi masalah semalam secara bersama-sama."
"Gak usah dateng, Clein. Kalo lo ketemu sama tuh cowok, dia pasti bakalan berperilaku gak sopan kayak semalam lagi!" Ucap Kenzo.
"Bener kata Kenzo." Tambah Revan.
"Saya tetap harus datang. Dia mengatakan kalau saya tidak datang dan mencoba untuk menghindarinya, dia bilang kalau saya ini hanya seorang pengecut."
"Sialan! Gila kali itu cowok!" Ujar Deva sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Jadi gimana apa kamu akan tetap hadir ke acara itu?" Tanya Oki.
"Tentu! Jika dia sudah menantang saya, maka saya akan datang dan akan menghadapinya. Apapun yang dia lakukan terhadap saya, maka saya akan membalasnya lebih dari apa yang dia lakukan!" Tegas Clein.
Semua orang terdiam. Mereka tidak bisa berbuat apapun jika Clein sudah mendapatkan keputusannya. Apalagi nada bicaranya sudah terdengar tegas, saat itu tak ada lagi saran yang akan bisa diterima.
"Saya akan membawa sebelas anggota saja untuk ikut ke acara itu! Kali ini saya serahkan pada Son untuk mendata siapa saja sebelas anggota yang akan ikut bersama dengan saya. Untuk sisanya yang tidak ikut, kalian bisa tetap berjaga di Markas!" Ucap Clein lagi.
"Siap!" Ucap mereka serentak. Clein mengangguk kemudian bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Shane temani saya untuk melihat Reynold!"
Shane mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Clein di belakang. Disana Son mengambil selembar kertas dan mulai berunding dengan anggota yang lain untuk memilih sebelas anggota yang akan ikut bersama Clein ke acara Football Internasional Awards.