
Suara deru mobil yang saling menyalip, ditambah juga suara klakson yang saling bersahutan terdengar memekakkan telinga. Bola mata seorang pria sesekali melirik pada wanita yang tengah menyandarkan punggungnya dengan tatapan tak bergairah. Tubuhnya berada disana namun pikirannya seperti pergi ke antah-berantah.
Karel berdehem pelan mencoba untuk mencairkan suasana. Namun Clein tak menghiraukan deheman dari pria itu. Hidupnya datar seperti mengambang tetapi kakinya berpijak.
"Apa yang memenuhi pikiran anda?" Tanya Karel dengan tatapan fokus pada jalanan.
Clein bergerak gusar dan melirik Karel dengan ekor matanya.
"Apapun yang saya pikirkan, itu tidak ada hubungannya dengan anda!" Desis Clein.
Karel mengatupkan bibirnya, di waktu seperti ini berbicara saja tetap salah di mata wanita itu. Padahal sebenarnya ia sendiri cukup kepo dengan isi pikiran Clein. Kalau ia tahu, setidaknya Karel akan dengan mudah mengganggunya.
Karel tiba-tiba menginjak pedal gas, Clein terkejut dan langsung memegang hand grip.
Bughhh
Kepalan tangan gadis itu memukul dada Karel cukup keras.
"Turunkan kecepatan mobil anda, Karel! Saya tidak ingin mati sekarang! Jika anda ingin mati, bunuh diri saja sendiri jangan ngajak-ngajak orang lain!" Sentak Clein.
"Saya pikir anda ingin segera mati karena tidak tahan hidup bersama dengan saya!" Cibir Karel yang kembali menurunkan kecepatan mobilnya.
"Daripada saya mati lebih dulu, lebih baik saya yang akan menjadi malaikat maut untuk anda! Dengan begitu hidup saya akan jauh lebih tenang di dunia ini!" Ujar Clein.
"Dan status anda akan berubah menjadi janda, apa anda mau?"
"Kenapa tidak? Umur saya masih muda, bahkan saya belum pernah tersentuh oleh siapapun. Saya tidak akan susah mencari laki-laki untuk menggantikan posisi anda sebagai suami!" Jawab Clein.
"Saat malam itu saja anda tidak sadarkan diri, bagaimana mungkin anda tahu kalau saya tidak menyentuh anda? Lagian yah, anda tidak akan mungkin dengan mudah lepas dari saya. semakin anda mencoba untuk melepaskan diri, maka akan semakin erat saya memegang kendali atas anda!" Jelas Karel.
Clein hanya diam tidak merespon apapun. Perdebatan yang tidak akan pernah berujung hanya akan membuat kepalanya sakit. Lebih baik diam dan menunggu saat tiba waktunya nanti.
Mobil Karel memasuki halaman mansion miliknya. Saat mobil berhenti, Clein langsung turun dan mengambil barangnya tanpa mau menunggu perintah dari Karel terlebih dahulu.
"Aneh! Marah-marah saja kerjaannya!" Gerutu Karel yang kemudian menyusul.
Cukup banyak barang bawaan milik Clein. Karel membiarkan Clein membawa semua barangnya tanpa mau membantu gadis itu. Clein menatap pintu yang menjulang tinggi itu kemudian menghela nafas panjang. Sekarang ia harus hidup jauh dari orang tuanya dan harus tinggal bersama dengan pria yang paling ia benci. Tidak bisakah ia merubah takdirnya?
"Buka pintunya!" Perintahnya pada Karel.
"Butuh bantuan juga kan? Sok-sok an bisa tapi ujung-ujungnya butuh tangan orang lain juga untuk membantu!" cibir Karel.
"Ckkk, yasudah gak usah!" Clein berjalan lebih dulu dan menendang pintu mansion milik Karel, sampai Rahma yang tengah mempersiapkan makanan di meja makan, terperanjat kaget ketika mendengar suara gebrakan yang cukup keras.
"Astaga! Clein hati-hati! Pintu itu harganya mahal, anda ini bisanya merusak saja!" Sentak Karel.
Clein tidak peduli dan memilih untuk masuk ke dalam mansion.
"Siapa itu? Ada apa?" Tanya Rahma yang berlari panik.
Kaki Clein langsung berhenti saat Rahma menghampiri dirinya dan juga Karel.
"Eh Tante." Sapa Clein memaksakan senyumnya.
"Tadi suara apa?" Tanya Rahma.
"Biasa itu-"
Clein langsung membalikkan tubuhnya lalu memelototi Karel agar pria itu tak mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Itu Clein mah kerjaannya marah-marah aja! Dia pikir pintu mansion Karel beli sama pasangnya pake daun apa, udah tau pake duit main tendang-tendang aja!" Gerutu Karel. Karel tersenyum meledek saat Clein melemparkan tatapan tajam padanya. Ada saja waktu untuk bermain-main.
"Clein? Kenapa nak? Kenapa sampai tendang pintu?" Tanya Rahma lembut merangkul Clein mencoba untuk bertanya pelan-pelan.
"Itu, itu Tante, Karel tidak mau membantu Clein. Clein susah buat buka pintu karena tangan Clein penuh. Jadi, yasudah Clein tendang aja pintunya." Jujur Clein.
"Karel! Kamu ini, istri kamu butuh bantuan kok gak di tolongin?" Kesal Rahma.
"Udah-udah ayo nak, simpan saja barangnya disitu, nanti biar Karel yang bawa barang-barang kamu ke dalam kamar." Lanjut Rahma.
"Kenapa jadi Karel?" Tanya Karel tak terima.
"Kamu kan suaminya, selain itu kamu seorang pria! Sudah kewajiban kamu untuk membantu Clein, masih saja pake nanya! Sudah mamah mau ajak Clein makan. Nanti kamu bisa menyusul ke meja makan!" Ujar Rahma.
Karel mencebikkan bibirnya kesal, disini dia yang anaknya tapi entah kenapa mamahnya malah lebih mau mengurusi Clein dibandingkan dirinya. Karel mengangkat barang-barang itu dengan sekali hentakan.
"Pake bawa gitar segala, emangnya mau konser!" Gerutunya kemudian langsung membawa barang-barang Clein ke kamarnya.
Rahma menarik kursi dan mempersilahkan Clein duduk. Ia mengisi piring kosong di depan Clein dengan nasi.
"Mau pakai apa aja sayang?" Tanya Rahma.
"Apa aja Tante."
"Eh jangan panggil Tante lagi dong kan sekarang kamu sudah menikah sama anak Tante, panggil Tante dengan sebutan mamah. Kamu juga sudah Tante anggap sebagai anak sendiri." Ujar Rahma tersenyum lembut.
"Ah I-iyah mah." Lirih Clein tersenyum canggung.
"Bagus, begitu kan mamah dengernya suka. Jadi mau pakai apa aja makannya? Ayam, sayur, sambal?"
"Apa aja mah. Clein gak pilih-pilih makanan kok." Jawab Clein.
Rahma menyendokkan sayur, sambal dan ayam yang tersedia di meja makan. Ia sangat bersyukur dengan kejadian tak terduga seperti semalam, setidaknya Clein bisa menjadi menantunya. Rahma tau betul Clein ini anak yang baik. Rahma tidak ambil pusing dengan permusuhan anaknya sampai anaknya itu bisa meniduri musuhnya sendiri yaitu Clein.
Siulan bersenandung, Karel datang lalu duduk tepat di samping Clein. Ia melihat piring istrinya.
"Wuih makan banyak nih, sepertinya pertempuran semalam cukup membuat energi anda terkuras!" Goda Karel.
Clein mencubit paha Karel lalu melirik Rahma dengan tatapan canggung.
"Aduh aww!" Ringis Karel menyingkirkan tangan Clein lalu mengusap-usap pahanya.
"Dasar gila! Pertempuran apa yang anda maksud? Menyentuh saja tidak! Anda ini senang sekali membuat orang lain salah paham!" Lirih Clein dengan tatapan fokus pada Rahma yang terlihat menutup mulutnya menahan tawa.
"Kata siapa? Anda saja tidak sadar Clein! Duh semalam tuh, ckkk wow itu anda sangat sempit dan menjepit punya saya. Tubuh anda indah, molek, saya seperti langsung terbang ke atas awan!" Ucap Karel tanpa rasa malu.
Clein menajamkan matanya, Rahma sudah pasti mendengar ucapan Karel.
"Sepertinya pembahasan seperti itu nanti saja dibahasnya Karel. Biarkan istrimu makan dengan tenang." Ujar Rahma.
"Biasa mah, namanya juga pengantin baru kadang suka khilaf." Balas Karel cengengesan.
"Tapi harus bisa di kontrol juga Karel." Ujar Rahma memperingatkan.
"Iyah-iyah mah. Wah makanan enak nih, kebetulan Karel laper belum makan dari pagi."
"Kamu gak sarapan?"
"Gimana mau sarapan, minta di buatin sarapan yang enak malah dikasih makan batu! Jauh dari ekspetasi."
__ADS_1
"Hah?! Batu? Maksudnya?!"
Clein menginjak kaki Karel dengan kasar.
"Berhenti! Rapatkan bibir anda! Sekali lagi bicara, saya akan jadikan anda samsak tinju!" Ancam Clein.
Karel bergidik ngeri saat mendengar ancaman dari Clein.
"Karel? Batu apa? Masa iyah Clein ngasih kamu makan batu."
"Ah itu bukan apa-apa mah, Karel cuma bercanda aja." Balas Karel diikuti tawa sumbang.
"Oh mamah kira Clein kasih kamu makan batu. Mamah udah kaget aja."
Karel menggeleng pelan dan Clein tersenyum getir.
******
"Kondisi saudara Deva sekarang kritis, dia kehilangan banyak darah. Saya akan mencoba semaksimal mungkin." Ucap dokter pada Shane dan beberapa anggota komunitas Black Tyrannical yang tengah menunggu di depan ruang ICU.
"Bagaimana dengan Andres?" Tanya Shane.
"Andres dalam kondisi baik, pelurunya sudah berhasil di keluarkan. Darahnya tidak banyak yang keluar. Andres masih beruntung, jika sampai telat sedikit saja tembakan di lengannya bisa saja mematikan."
"Alhamdulillah syukurlah." Ucap Shane bisa bernafas lega.
"Tolong lakukan yang terbaik dokter, saya mohon tolong selamatkan teman kami, Deva." Ucap Revan.
"Saya hanya bisa melakukan yang terbaik selebihnya itu urusan Tuhan. Sebaiknya jika sekarang kalian berdoa pada Tuhan agar teman kalian bisa melewati masa kritisnya."
"Pasti dok. Kami semua akan berdoa." Ucap Revan diangguki yang lainnya.
"Kalau begitu saya permisi." Semuanya mengangguk.
"Shane, gimana Clein udah ada kabar belum?" Tanya Son.
"Belum! Gue bakalan terus telponin dia. Kalau nanti Clein belum juga bisa dihubungi, mungkin gue bakal datang ke rumahnya." Jawab Shane.
"Tumben-tumbenan ini Clein, seharusnya dia bisa menepati janjinya. Apa Clein udah males ngurusin komunitas kita?" Tanya Arhan.
"Mana mungkin Clein kayak gitu, gak mungkin lah!" Ujar Revan berusaha menanggapi dan menolak isi pemikiran Arhan.
"Ya bisa aja kan dia capek, bosen, mana ada yang tahu hati manusia. Atau mungkin Clein kayak Reynold yang berusaha buat mengkhianati komunitas ini? Apalagi setelah penembakan itu, Clein gak ada. Penyerangan ini kayak udah direncanain matang-matang!" Lanjut Arhan.
"Tutup mulut lo! Gue gak seneng lo ngomong buruk soal Clein! Gue udah kenal lama sama Clein, gue tau sifat dia kayak gimana! Jangan coba-coba adu domba, Arhan!" Timpal Oki.
"Apa? Kenapa lo yang kesinggung? Gue kan cuma ngasih pendapat."
"Tapi pendapat lo gak di perlukan disini!" Ujar Oki penuh penekanan.
"Udah! Kalian ini malah berantem, bukannya doain Deva biar cepet sembuh. Nambah-nambahin masalah aja!" Ujar Kenzo kesal.
"Tau sih! Kalian pikir dengan adu bacot kayak gini, Deva akan cepat sadar, hah?!" Tambah Revan yang terlihat sangat kesal.
Shane mengacak-acak rambutnya frustasi, diantara perdebatan-perdebatan teman-temannya kepalanya seperti akan pecah. Shane memilih untuk menghindar dan menenangkan dirinya. Pikirannya bercabang antara Clein, membalaskan dendam pada James dan pada kesembuhan Deva dan juga Andres. semuanya bercampur menjadi satu.
"Tuh kan! Ini salah lo sih, Arhan! Shane jadinya pergi kan?! Tuh mulut jaga makanya!" Ujar Revan.
Arhan hanya diam dan berusaha menjauh. Padahal itu hanya pendapatnya saja tetapi entah kenapa orang-orang merasa kesal. Bagi Arhan tidak ada yang tidak mungkin, apalagi kejadian itu berhubungan dengan ketidakhadiran Clein disana.
__ADS_1