
Waktu semakin cepat merangkak maju. Tidak terasa hari ini akad ulang serta resepsi akan di laksanakan. Karel memilih untuk menyewa sebuah gedung hotel di kota yang berbeda atas permintaan dari Clein.
Dekorasi gedung terlihat sangat mewah dan elegan. Warna putih dan Sage dipadukan dengan sangat cantik. Tamu undangan yang tidak begitu banyak sudah berdatangan untuk menyaksikan ikatan sakral yang akan dilangsungkan. Karel sudah duduk di sebuah kursi di temani penghulu, ayah Clein dan juga saksi.
Di dalam kamar, Clein terlihat mendesah pelan. Sudah sampai di hari pernikahan namun ia belum bisa melakukan apa-apa. Setelah ini Karel akan memperkuat hubungannya.
"Nona apakah anda sudah siap? Di bawah sana semua orang tengah menunggu." Ucap Seorang wanita salah satu staf wedding organizer.
Clein melihat wajah wanita itu dengan tatapan memelas, kemudian ia mengangguk lemah.
Staf itu bergegas untuk membantu Clein berdiri. Kebaya pengantin telah terpasang dengan sempurna di tubuh proporsional milik Clein. Tak lupa juga siger sunda sebagai penghias kepala yang menambah kesan sempurna. Semuanya Karel sendiri yang memilihkan. Clein tidak ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan itu. Ia hanya diminta untuk mengukur baju pengantin saja.
Perlahan Clein keluar dari sebuah kamar di dampingi oleh beberapa staf. Langkahnya yang anggun berjalan menuruni anak tangga. Semua tatapan mata menyorot pada gadis cantik itu. Begitupun dengan Karel tanpa mau ia tahan senyuman terbit di bibirnya.
Clein turun langkah demi langkah sampai ia tiba di samping Karel. Tangannya terasa dingin, ia benar-benar gugup. Clein mencoba menarik nafasnya dalam.
"Baik, apa anda sudah siap?" Tanya penghulu pada Karel.
"Siap." Balas Karel mantap.
Penghulu mempersilahkan Rio dan juga Karel untuk bersalaman.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Karel Alvarez bin Dean Arya Alvarez dengan anak saya yang bernama Clein Andrea Klarisa dengan maskawin seperangkat alat sholat dan Emas 300 gram di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Clein Andrea Klarisa binti Rio Hendrata dengan maskawin tersebut tunai." Ucap Karel lantang dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, sah?"
"SAH!"
Ucapan alhamdulillah terdengar dari beberapa tamu yang hadir.
Clein menghela nafas panjang. Kali ini ia sangat gugup karena pernikahannya di saksikan oleh banyak orang, tidak seperti sebelumnya yang hanya di saksikan oleh beberapa orang saja. Kini tak hanya di mata agama pernikahan keduanya sah, akan tetapi di mata hukum juga.
Karel menoleh ke sampingnya dengan menyunggingkan senyum. Clein hanya memutar bola matanya malas, baginya Karel itu terlalu banyak drama. Senyuman itu hanyalah topeng agar pernikahan mereka di pandang oleh tamu yang hadir, sebagai pernikahan yang didasari atas dasar cinta bukan atas dasar rencana. Karel memasangkan cincin di jari manis milik Clein begitupun sebaliknya.
"Kali ini jangan menolak untuk mencium tangan saya. Lihat! Tatapan orang-orang hanya fokus pada kita." Bisik Karel.
Clein melihat sekeliling dan benar semua tatapan mengarah padanya, mereka menunggu akan adegan apa lagi yang akan disuguhkan oleh kedua mempelai. Clein menarik tangan itu dengan lembut lalu menciumnya setengah tulus. Karel mendekat untuk berusaha merapatkan badannya namun dengan cepat Clein menahan dan menatap Karel tajam. Bukan Karel namanya kalau ia tidak nekat memaksa. Karel mencondongkan tubuhnya kemudian mencium kening Clein.
"Kalau sedang seperti ini tidak usah sok jual mahal." Bisik Karel kemudian kembali ke posisinya.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah." Ucap pak penghulu.
"Aamiin terima kasih." Ucap Karel.
"Tuan dan nona, sekarang waktunya kalian berdua untuk naik ke kursi pelaminan." Ucap seorang staf.
Karel mengangguk. Clein cukup kesulitan dengan pakaiannya apalagi berat siger sunda yang ia pakai cukup membuat kepalanya sedikit pening. Karel melihat pada Clein kemudian mengulurkan tangannya.
Clein hanya menatap tangan itu. Namun seketika ia teringat kembali akan rencananya. Ia tidak boleh memperlihatkan ketidaksukaannya lagi pada Karel. Ia harus berpura-pura sudah menerima statusnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Uluran tangan disambut dengan baik oleh Clein.
"Jalannya pelan-pelan, kepala saya sekarang terasa berat. Apalagi saya tidak bisa melangkah lebih lebar dengan pakaian ini." Ucap Clein.
Karel melihat Clein dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia cukup paham dengan kondisi Clein. Tanpa ba-bi-bu Karel langsung menggendong tubuh Clein ala bridal style. Clein hampir saja meronta namun dengan cepat ia sadar dengan keadaan dan bersikap lebih tenang. Suara riuh terdengar.
"Karel turunkan saya! Semua orang memperhatikan kita, saya merasa malu!" Lirih Clein penuh penekanan.
"Memangnya kenapa kalau mereka melihat? Toh mereka tahu kalau kita ini sepasang suami istri." Balas Karel.
Setelah sampai di kursi pelaminan Karel pun langsung menurunkan Clein. Gadis itu mencoba untuk menjauhi Karel.
Karel duduk tepat di samping Clein. Ia menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan istrinya. Tangannya menarik jemari Clein untuk ia genggam. Clein merasa tidak nyaman dan mencoba untuk menarik tangannya namun sayangnya genggaman Karel sangatlah erat.
"Di depan semua orang kita harus bersikap romantis. Tamu yang datang bisa saja mengamati pergerakan anda dan asumsi buruk kembali akan dibicarakan nantinya. Saya tidak ingin media tau soal ini, kalau mereka sampai tau bukan hanya saya tapi juga anda yang akan rugi." Jelas Karel.
"Bukannya saya menolak untuk bersikap romantis. Saya hanya tidak terbiasa saja." Balas Clein.
"Kalau begitu dimulai detik ini anda harus membiasakan diri jika saya mendekat lebih intim. Anda juga tidak perlu khawatir soal batasan karena saya tau batasan saya." Ujar Karel.
Dari kejauhan Alita tengah berdiri dengan segelas minuman ditangannya. Gaun berwarna
lavender melekat indah ditubuhnya yang bak model itu. Tatapannya beradu dengan tatapan Karel, senyuman menggoda diikuti kedipan mata manja menghiasi wajahnya.
******
Clein menyandarkan punggungnya lelah ketika semua tamu undangan sudah berangsur-angsur pulang. Ia merenggangkan otot-otot yang terasa sangat pegal karena harus berdiri dan menyalami tamu undangan yang terus berdatangan. Sepertinya Karel kembali berbohong padanya. Kemarin dia mengatakan tidak mengundang banyak tamu, tapi nyatanya tamu undangan yang hadir di pernikahannya sangatlah banyak.
Beberapa kali Clein harus berganti gaun dan juga harus mengganti hiasan di kepalanya, hal itu membuatnya sedikit kewalahan. Clein bukan seorang gadis feminim, semua yang dilakukannya hari ini sangatlah asing. Biasanya ia hanya menggunakan pakaian santai dengan celana robek dipadukan tank top atau tidak kaos oblong, tapi hari ini ia dipaksa harus berpenampilan serta bersikap feminim. Sungguh sangat menyiksa diri Clein.
"Mau kemana?" Tanya Karel dengan mata yang masih fokus pada layar handphone. Clein pun menghentikan langkahnya.
"Saya mau ke kamar. Saya ingin cepat mandi karena tubuh saya terasa lengket." Jawab Clein. Sebenarnya ia malas untuk menanggapi, namun ia tidak boleh menggagalkan rencana atas saran dari Frey.
"Mau saya gendong?" Tawar Karel.
Clein menggeleng dengan cepat.
"Tidak usah! Kaki saya masih mampu berjalan untuk sekedar masuk ke dalam kamar." Balas Clein. Karel hanya mengangguk dan kali ini ia tidak memaksakan kehendaknya.
Clein di dampingi oleh satu orang staf pergi menuju kamar.
Tepat saat di depan pintu kamar hotel, Clein membalikkan tubuhnya.
"Terima kasih banyak sudah banyak membantu saya." Ucap Clein pada wanita di depannya.
"Sama-sama nona, itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya." Ucapnya membungkukkan badan.
"Selamat beristirahat." Ucap Clein. Wanita itu menganggukkan kepalanya sopan. Clein pun masuk ke dalam kamar hotel.
Clein melepas heels yang sedari tadi terpasang di kakinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Ucap Clein ketika kedua heels itu berhasil lepas dari kedua kakinya. Setelah melepaskan heels, lalu Clein membuka mahkota di kepalanya dan membuka gelungan rambutnya.
Hari yang sungguh melelahkan. Clein membuka semua gaunnya lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Di bawah shower Clein berdiri. Rasanya segar ketika butiran-butiran air jatuh mengenai puncak kepalanya.
Sekitar hampir 30 menit Clein berada di dalam kamar mandi. Ia membalut tubuhnya menggunakan handuk dan bergegas membuka pintu kamar mandi. Saat pintu dibuka, Clein membulatkan matanya dengan bibir mengatup sempurna. Ia terkejut saat menyaksikan adegan tak terduga yang ada di depannya. Disana Karel dan juga seorang wanita tengah saling bercumbu mesra bahkan tubuh wanita itu sudah setengah telanjang.
Karel yang menyadari akan kehadiran Clein, ia langsung menghentikan aksinya dan menjauhkan tubuh wanita itu. Clein terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali. Ini bukan mimpi dan ini nyata. Ada sedikit rasa sesak mengenai dadanya. Clein langsung menggeleng pelan.
Clein melangkahkan kakinya kembali ketika dua manusia itu hanya diam di tempatnya. Sang wanita pun terlihat buru-buru untuk memperbaiki kondisi pakaiannya.
"Tidak apa-apa lanjutkan saja." Ucap Clein saat mengambil pakaiannya di dalam lemari.
"Alita pergilah!" Lirih Karel. Alita yang sedikit panik pun mengangguk dan bergegas pergi.
Setelah mengambil pakaian, Clein berniat untuk pergi kembali ke dalam kamar mandi, namun dengan cepat Karel menarik lengan Clein sampai gadis itu duduk di atas pangkuannya.
"Ka-karel, awas saya mau memakai baju!" Ucap Clein panik. Clein hanya menggunakan handuk dan jika Karel bergerak sedikit saja maka handuk itu akan jatuh dari tubuhnya. Clein pun dengan cepat menahannya.
"Saya dapat mendengar ada nada ketidaksukaan saat anda berbicara tadi. Apa anda cemburu dengan yang baru saja saya lakukan?" Bisik Karel yang terdengar sensual di telinga Clein. Sampai bulu kuduk Clein meremang.
"Karel, Karel, saya sudah menyuruh anda untuk melanjutkan kegiatan tersebut, bagaimana bisa saya cemburu? Kita itu menikah bukan karena cinta. Saya tidak peduli anda ingin berhubungan dengan gadis manapun, saya sama sekali tidak peduli. Saya hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik karena tugas saya, bukan karena perasaan saya." Ujar Clein.
"Baguslah kalau anda paham. Saya pikir perubahan sikap anda itu dikarenakan anda yang sudah mencintai saya. Tapi ternyata dugaan saya salah, saya sangat bersyukur untuk itu." Ucap Karel yang melonggarkan pelukannya.
Clein mengernyitkan keningnya.
"Apa yang anda lakukan tadi sengaja hanya untuk mengetahui perasaan saya?" Tanya Clein.
"Tidak juga. Hal itu terjadi karena saya juga menginginkannya. Kebetulan kekasih saya datang dan itu mengalir begitu saja." Ucap Karel.
"Dia kekasih anda? Anda memiliki kekasih?" Tanya Clein tidak percaya.
"Seperti yang sudah anda dengar tadi. Kali ini saya tidak akan menyembunyikan hubungan saya dengannya lagi. Sudah saatnya saya mengatakan semuanya. Saya harap anda mengerti." Ucap Karel.
Clein langsung berdiri di tempatnya.
"Terus kenapa tadi tidak dilanjutkan saja?" Tanya Clein.
"Jika saya lanjutkan apa anda akan menontonnya?" Bukannya menjawab Karel malah membalikkan sebuah pertanyaan.
"Menjijikan mana mungkin saya mau melihat adegan kotor itu!"
Karel tersenyum kecil.
"Alasan utama saya tidak melanjutkannya karena kehadiran anda akan mengganggu konsentrasi saya nantinya. Saya takut ketika saya berada di puncak kenikmatan, anda akan tergoda lalu memaksa saya untuk membelai tubuh anda." Balas Karel.
Clein hanya diam di tempatnya sembari menatap Karel sengit. Bibir Karel itu perlu di ruqyah agar menghasilkan ucapan-ucapan baik, pikirnya.
"Kenapa diam saja disini? Sepertinya anda ini mencoba untuk menggoda saya. Apa adegan tipis-tipis tadi membuat anda bergairah? Ckkk tapi sayang sekali semua yang ada pada anda tidak menarik perhatian saya, Clein." Desis Karel. Ada nada ledekan dari nada bicaranya.
__ADS_1
"Dih saya juga tidak sudi kalau anda sentuh, sialan!" Ketus Clein lalu masuk ke dalam kamar mandi. Karel tertawa pelan lalu memegang juniornya.
"Ternyata berlagak sok jual mahal lumayan menyiksa diri sendiri." Gumam Karel merebahkan tubuhnya dan berusaha menidurkan juniornya yang sedari tadi tegang.