Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 17


__ADS_3

Clein dan anggota komunitasnya yang akan ikut ke acara football internasional awards sudah berada di dalam pesawat. Hari ini mereka dijadwalkan untuk terbang karena acara akan di adakan minggu malam. Clein melihat kondisi teman-temannya, raut bahagia terpancar jelas di wajah mereka. Tak terasa sebuah senyuman terbit di bibirnya.


Clein menyandarkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya. Sebenarnya Clein tidak ingin untuk datang, akan tetapi ucapan Karel masih terngiang-ngiang jelas di telinganya. Clein tidak akan pernah membiarkan Karel untuk menginjak harga dirinya dan menganggapnya cupu karena berusaha menghindari Karel.


Clein harus bisa mengantisipasi jika ada pertanyaan yang menjebak saat sesi wawancara disana. Ia juga harus sedia payung sebelum hujan, jika nanti Karel akan bertindak tidak sesuai dengan logikanya. Clein akan melakukan permainan menarik dengan Karel di acara itu. Anggap saja sebagai balasan atas apa yang Karel lakukan padanya, dengan mengirim orang lain sebagai mata-mata untuk mengawasi dirinya.


Perlahan pesawat mendarat di Bandara King Khalid. Setelah pesawat berhasil mendarat, Clein langsung mengambil barang-barangnya dan turun dari sana.


Atmosfernya terasa langsung berbeda, Clein dapat menghirup udara yang berbeda dari negaranya.


"Wahhh gak nyangka udah di luar negeri aja." Ujar Revan menampilkan deretan giginya.


"Gak usah lebay!" Ketus Deva.


"Komen aja nih netizen!" Jawab Revan tak kalah ketus.


"Di negara orang masih aja berantem, malu tuh sama habibie-habibie disini." Ujar Kenzo.


"Gak berantem sehari aja buat mereka bagaikan hubungan tanpa status." Ucap Shane.


Tiba-tiba beberapa pria datang menghampiri mereka.


"Clein?" Tanyanya.


"Yes."


"Saya staff dari event internasional football awards, saya ditugaskan untuk menjemput anda." Clein dan teman-temannya terkejut saat pria itu menggunakan bahasa Indonesia.


Melihat keterkejutan di wajah mereka, pria itu hanya tersenyum.


"Nama saya Imran, saya masih orang Indonesia tidak usah terkejut." Ucapnya.


"Orang Indonesia tapi mukanya bule-bule, kayak orang asli sini." Ujar Revan.


"Saya memang blasteran Indonesia, Arab." Jawabnya dengan aksen yang masih bercampur dengan aksen bahasa Arab.


"Pantas saja." Ujar Shane.


"Mari ikuti saya! Kita akan pergi ke hotel yang sudah disediakan untuk kalian beristirahat." Ucap Imran.

__ADS_1


Clein mengangguk dan mempersilahkan Imran untuk berjalan lebih dulu.


Mereka semua berjalan menuju beberapa mobil keren yang di khususkan untuk menjemput mereka. Revan terlihat mendekat pada Clein dan mendekatkan wajahnya.


"Udah kayak tamu penting aja yah kita? pake di sambut-sambut kayak gini segala." Ujar Revan cengengesan.


Clein hanya menggeleng dan tersenyum.


Setelah sampai, mereka semua bergegas menaiki mobil dengan kawalan cukup ketat. Mobil pun melaju dan membawa mereka pergi menuju hotel.


******


Mereka semua telah sampai di hotel yang sangat mewah. Masing-masing dari mereka diantarkan ke kamarnya. Setelah resepsionis mengantarkan Clein ke depan pintu kamar hotel nomor 105, Clein kemudian masuk dan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perjalanan yang cukup melelahkan.


Acara awards akan diadakan nanti malam, Clein sangat malas untuk datang ke acara itu. Dimana ia harus bertemu dengan Karel dan membahas hal yang tak seharusnya dibahas di acara sebesar itu. Menurutnya tak ada gunanya klarifikasi, toh tidak ada juga pihak lain yang dirugikan dari apa yang ia lakukan terhadap Karel.


Clein memijit pelipisnya dan perlahan memejamkan matanya. Ia harus mengisi energi agar nanti malam jika perdebatan terjadi, ia tidak akan kalah. Clein tau jelas bagaimana karakter Karel. Pria itu selalu menganggapnya pesaing dan selalu merasa bahwa apa yang menurutnya benar itu benar, padahal pikirannya tak sejalan dengan pikiran orang lain.


Clein belum sempat masuk ke alam mimpinya, namun tiba-tiba pintu terbuka dan suara seorang pria yang mengucapkan kata 'terima kasih' terdengar ke telinganya. Clein bangun dari tempat duduknya dan memajukan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.


Keduanya saling menatap tak percaya, bola mata Clein hampir saja copot saat melihat seorang pria bertuxedo itu berdiri di depannya. Tak berbeda dengan pria itu, pria itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Menguntit? Apa-apaan kamu! Ini kamar saya, saya juga di undang ke acara awards ini dan kamar ini menjadi fasilitas saya selama disini!"


"Enak saja! Ini kamar saya! Saya datang lebih dulu dibandingkan anda. Resepsionis juga yang mengantarkan saya ke kamar ini!"


"Resepsionis juga mengantarkan saya kesini! Itu hanya alasan kamu saja, Clein. Saya tahu, kamu sengaja datang lebih dulu dan mengambil kamar saya, kamu ingin bermalam dengan saya kan? Ckkk pemikiran saya tak salah bahwa kamu ini adalah seorang gadis murahan!"


"Jaga ucapan anda, Karel! Ucapan kotor yang tak seharusnya anda lontarkan! Saya pikir anda sendiri yang ingin bermalam dengan saya! Bagi saya seorang ****** bukan hanya berasal dari kalangan wanita saja, tapi ****** juga bisa berasal dari kalangan pria, contohnya anda! Saya tidak murahan dan saya bisa membeli mulut dan harga diri anda!" Tegas Clein menatap tajam manik mata Karel.


"Sialan!" Karel mencengkram tangan Clein dengan kasar kemudian mendorong tubuh Clein dan mengunci pergerakan dari gadis itu.


"Haruskah saya menelanjangi tubuh anda dan melepaskan cairan yang akan membuat anda memohon belas kasih saya? Ingat, wanita punya rahim yang akan melahirkan seorang anak! Saya bisa saja menembus selaput dara anda dan menghancurkan harapan-harapan anda di masa depan!" Ucap Karel dengan tersenyum menyeringai.


Tangan Clein mengepal dengan sempurna. Ia menendang area sensitif pria itu lalu membalikkan keadaan dengan posisi Karel berada tepat di bawah tubuhnya. Karel terlihat meringis kesakitan dengan merapatkan kakinya, karena kedua tangannya di cengkram erat oleh Clein.


"Simpan kata-kata itu untuk gadis lain! Anda tidak akan mudah melakukan hal yang menjadi fantasi bodoh anda! Silahkan nikmati kamar dan rasa sakit ini!"


Bughhh!!!

__ADS_1


Clein melepaskan pukulan tepat di perut Karel. Setelah pria itu melemas, Clein bergegas mengambil barangnya dan berniat untuk mencari kamar lain. Clein berniat untuk menanyakan kepada resepsionis, sepertinya ada kesalahan dalam pembagian kamar. Belum saja acara itu dimulai, takdir sudah lebih dulu mempertemukannya dengan pria sialan itu. Tak apa, simulasi sebelum besok malam tiba.


Shane melihat Clein berjalan kearah luar dengan barang-barangnya. Pria itu sedikit berlari kecil untuk sampai pada Clein.


"Clein! Mau pergi kemana?" Tanya Shane dengan tangan terulur menyentuh pundak Clein.


Clein menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Saya akan menemui resepsionis untuk meminta kamar lain." Jawab Clein.


"Why? Ada apa dengan kamar sebelumnya? Bukankah kamu sudah mendapatkan kamar, Clein?"


"Ada pria gila yang tiba-tiba masuk dan mengklaim bahwa itu adalah kamarnya!"


Shane menaikkan alis kanannya.


"Pria gila?" Tanyanya.


Clein mengangguk tanpa menjawab.


"Sudah yah, saya harus pergi ke resepsionis secepatnya untuk menanyakan kamar lain. Kepala saya pusing saya butuh istirahat, ini sudah larut malam juga." Ujar Clein.


"Tidur di kamar gue aja Clein. Nanti biar gue yang pindah ke kamar lain."


"Tidak usah. Kamu juga harus istirahat Shane."


"Gue gapapa Clein, gue belum ngantuk juga dan gue gak perlu istirahat. Badan gue masih baik-baik aja." Ucap Shane.


Sedikit paksaan dari Shane, akhirnya mampu membuat Clein mau menuruti keinginan pria itu untuk memakai kamarnya. Shane merasa kasihan dengan Clein, wajahnya terlihat sangat lelah.


"Kalau gitu saya istirahat dulu ya Shane. Terimakasih banyak." Ucap Clein.


"Sudah seharusnya seperti itu, Clein." Jawab Shane. Dia memberikan cardlock pada Clein. Clein mengambilnya dan mengangguk kemudian pergi dari sana.


Melihat punggung Clein yang mulai menjauh Shane terdiam sebentar.


"Sebenarnya siapa pria gila yang Clein maksud?" Batin Shane penasaran.


...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...

__ADS_1


__ADS_2