Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 19


__ADS_3

Clein sudah berada di kamar hotelnya diikuti teman-temannya yang sedikit panik karena Clein terlihat terburu-buru. Clein mengambil koper dan merapikan semua pakaiannya.


"Kita harus kembali ke rumah sekarang!"


"Kenapa secepat ini Clein? Lo gak mau nunggu adek lo dulu? Kategori nominasi adek lo aja belum di bacain. Siapa tau dia menang, kan?"


"Saya tidak bisa berlama-lama disini! Tujuan saya sudah selesai untuk mempermalukan pria itu pada dunia! Saya muak jika harus satu tempat dengan pria gila itu! Soal Marcel, kita bisa menonton acaranya di handphone!"


"Lo gak takut adek lo ngerasa kecewa? Tindakan lo tadi bener-bener udah di luar nalar. Gue takut image adek lo malah jadi buruk. Ingat Clein acara ini bukan acara kaleng-kaleng. Asli gue beneran masih kaget ngelihat kejadian tadi. Acaranya langsung keos, kamera buru-buru dimatiin! Speechless deh gue!" Ujar Revan yang masih membayangkan kejadian di acara tadi. Saat bagaimana Karel di lempar oleh orang-orang disana.


"Dia pasti kecewa! Tapi dia juga akan paham maksud saya. Semua crew pasti lebih cerdas untuk menghandle acara itu. Kamu bisa lihat nanti! Acara akan kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa." Ujar Clein yang terlihat santai.


"Yaudah kalau gitu. Kita juga mau cepet beres-beres kalo emang lo tetep mau balik sekarang!" Ujar Shane.


"Ah buru-buru amat, belum juga gue foto sama goat sepakbola!" Ucap Kenzo sembari mengerucutkan bibirnya.


"Kalau kalian masih mau disini silahkan! Saya tidak akan memaksa! Saya bisa pulang sendiri!" Ujar Clein.


"Gak mungkinlah! Kalau lo balik, kita juga pasti ikut balik! Lo itu pemimpin, mau kemanapun lo pergi, kalaupun pergi ke ujung dunia, kita tetap harus ada di belakang lo!" Ucap Deva.


"Yoi setuju banget sama ucapan Deva kali ini." Timpal Kenzo.


"Iyah Clein. Gak usah marah dong, kita tetep bakal ikut pulang sama lo kok!" Tambah Revan.


"Saya tidak marah. Saya sendiri tidak masalah jika kalian masih ingin menikmati acara itu disini. Saya bisa pulang sendiri dan kalian bisa menyusul nanti." Ucap Clein.


"Gak ah gak mau. Kita mau tetep ikut lo pulang Clein!"


"Kalo itu keputusan kalian, cepat segera berkemas! Kita tidak bisa menunda-nunda waktu lagi!" Ucap Clein.


Semua orang mengangguk dan bergegas pergi ke kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


******


BRAKKK!!!


Pintu kamar di buka secara paksa, Karel berjalan dengan langkah cepat dan penuh emosi. Matanya menerawang ruang kamar itu untuk mencari keberadaan seseorang.


"HEI ******! KELUAR SEKARANG! JANGAN MENCOBA LARI DARI SAYA! SIALAN BERANI SEKALI ANDA MEMPERMALUKAN SAYA!" Teriak Karel.


Namun nihil, ia tidak melihat keberadaan Clein disana. Karel berjalan mencari gadis itu di kamar mandi, di belakang gorden sampai di sudut-sudut ruangan, namun Clein tidak berada disana.


"Gadis sialan itu pasti sudah pergi! Sial! Langkah yang begitu cepat! Dia sangat cerdik! Ckkk arghhh sialan! Sialan! Sialan!" Umpat Karel.


Ia melihat jam yang terpasang di dinding kamar hotel itu. Sebuah senyuman langsung tercetak di bibirnya.


"Saya masih bisa menyusulnya! Pesawat itu pasti belum take off." Karel langsung pergi dari sana dan akan menyusul Clein ke Bandara.


Di dalam Bandara, Clein tengah duduk dengan melipat tangannya.


"Dia pasti tengah mencari saya! Dia tidak akan mungkin diam saja! Tapi sayang dia tidak akan mungkin menemukan saya, dasar bodoh!" Batin Clein diikuti senyuman miring.


Seorang pramugari menyambut Clein dan mengarahkan tempat duduk pada gadis itu. Clein meletakkan koper pada cabin atas pesawat. Clein menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya untuk merilekskan pikirannya. Kursi disampingnya masih kosong, Clein tidak berharap di kursi kosong tepat di sampingnya, ada seseorang yang akan menempati. Malam ini Clein hanya butuh ketenangan.


Clein mematikan handphonenya ketika pesawat bersiap untuk take off. Setelah handphonenya berhasil ia matikan, Clein pun memejamkan matanya.


"Selamat malam! Anda terlihat buru-buru sekali untuk pergi?"


Clein langsung membuka mata dan melihat kesamping kirinya. Disana ia dapat melihat seorang pria rapi memakai hoodie dengan kacamata hitam yang ia pakai.


"Anda sepertinya terlihat senang melihat kedatangan saya." Ejek Karel.


"Tentu. Saya sangat menunggu kedatangan anda. Sepertinya anda ingin berterimakasih pada saya. Apa anda kurang puas dengan yang saya lakukan di acara tadi?" Ujar Clein, ia berusaha bersikap santai dan menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


"Clein, Clein! Jika anda ingin bermain-main dengan saya, maka saya akan mengikuti permainan anda." Tangan Karel bergerak maju untuk menyentuh paha Clein. Namun dengan cepat Clein memotong pergerakan Karel.


"Jangan pernah sekalipun anda menyentuh saya! Seujung kelingking saja anda menyentuh kulit saya saya tidak akan segan-segan untuk memotong jari-jari anda!"


Karel tertawa sumbang.


"Anda pikir saya takut dengan ancaman anda?" Karel memiringkan wajahnya. Ia menarik rambut Clein dengan kasar dan mendekatkan bibirnya pada wajah Clein.


"Apa-apaan! Lepaskan!" Clein masih menahan suaranya agar tidak mengganggu orang-orang yang berada di pesawat.


Teman-teman Clein tidak tau apa yang terjadi pada pemimpin mereka karena tempat duduk mereka jauh di belakang tempat duduk Clein. Karel semakin menarik keras rambut Clein, sampai-sampai kepala Clein hampir sejajar dengan dudukkan kursi di pesawat.


"Anda tidak bisa lagi mendominasi saya, Clein! Anda tidak bisa lagi mengancam saya! Saya yang ada di masa sekarang bukan saya yang ada di masa lalu! Sekarang kita sejajar! Bahkan saya bisa mengatakan bahwa saya berada di atas anda! Bukan hanya menyentuh, mulut anda yang seperti ular berbisa saja bisa saya cecap kapanpun saya mau!" Ucap Karel penuh penekanan. Ia menghempaskan jambakan tangannya dari rambut Clein.


Clein berdecih dan menatap pria itu sengit.


"Kata-kata itu hanyalah mimpi! Tindakan anda tidak ada satupun yang mampu menjatuhkan saya! Berhentilah membual, buktikan satu saja ucapan anda itu!"


"Saya akan membuktikannya, tapi tidak sekarang! Lihat saja!" Ujar Karel.


"Baik, saya akan Lihat! saya ingin tahu seberapa jauh anda akan bertindak." Ucap Clein dengan nada meremehkan.


"Clein!" Karel menekan pundak Clein dengan kasar.


"Jangan berteriak, turunkan nada bicara anda! Ini bukan pesawat pribadi anda, jadi lebih baik jika anda duduk diam sampai pesawat ini tiba di tempat tujuan." Ucap Clein santai menyingkirkan tangan Karel dan sesekali memijat tengkuknya yang terasa pegal akibat tarikan dari Karel.


"Awas saja jika pesawat ini sudah mendarat saya akan melanjutkan perdebatan ini kembali."


"Baik Karel baik,, saya akan menunggu!" Ucap Clein kembali memejamkan matanya.


Clein tidak menyangka bahwa pria itu bisa nekat menyusulnya. Clein meralat ucapannya yang sempat mengatakan bahwa Karel pria bodoh. Ternyata pria ini tidak sebodoh seperti yang ia kira.

__ADS_1


Karel melirik Clein sekilas, sudah berada di samping gadis itu, namun tetap saja ia tidak bisa melakukan banyak hal padanya. Waktu dan tempat rasanya selalu tidak tepat. Apa yang Karel katakan selalu saja berhasil dijawab oleh Clein dengan ejekan. Karel harus benar-benar memutar otak untuk membalas perbuatan Clein. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan mengandalkan otaknya bekerja. Ia harus berkompromi dan meminta saran pada seseorang.


...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...


__ADS_2