
Adzan subuh berkumandang, Clein menggeliat pelan dan mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Ia bangun dan duduk untuk melihat jam yang terpasang di dinding kamarnya. Clein bersiap untuk mengambil air wudhu sekaligus mandi pagi. Selepas sholat subuh ia tidak akan tidur kembali dan memilih untuk berolahraga pagi di taman rumahnya.
Clein berjalan menuju kamar mandi namun suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Clein memilih untuk membuka pintu dan menunda untuk pergi ke kamar mandi. Tidak seperti biasanya sepagi ini ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Pintu terbuka, disana Clein dapat melihat wajah Marcel yang sedikit murung dan sedih. Melihat itu tentu saja membuat Clein khawatir. Apalagi jam menunjukkan pukul 04:42 Wib.
"Ada apa dengan kamu? Kenapa wajahnya sedih begitu? Ini masih subuh loh dek."
"Marcel mau ngasih tau kakak kalau ayahnya Edvin meninggal kak." Lirih Marcel.
Clein sangat terkejut mendengar kabar itu.
"Innalilahi wainnailaihi roji'un. Kapan meninggalnya Marcel?"
"Tadi kak jam tigaan subuh. Marcel baru aja dapat telepon dari Edvin."
"Ya Allah. Kamu akan pergi ke rumah Edvin sekarang?"
"Iyah kak, Marcel mau langsung kesana aja. Ini Marcel mau sekalian izin juga, boleh gak kak?"
"Tentu saja boleh! Mana mungkin kakak ngelarang kamu. Edvin pasti lagi butuh teman sekarang. Saat kondisi seperti ini, sebagai sahabat kamu harus berada disisinya." Ujar Clein.
"Kakak mau ikut kesana bareng Marcel?"
"Kamu aja dulu sendiri. Nanti kakak akan kesana sama temen komunitas yang lain."
"Yaudah kak. Marcel pamit pergi dulu yah?" Marcel mencium punggung telapak tangan Clein.
"Sebaiknya sebelum pergi ke rumah Edvin, kamu sholat subuh terlebih dahulu!"
"Iyah kak, ini juga mau."
Clein mengangguk. Marcel kemudian pergi dari kamar Clein. Clein memilih untuk kembali dan masuk ke dalam kamar mandi. Clein merasa kasihan dengan Tante Rahma dan juga Edvin, mereka pasti merasa sangat terpukul. Namun Clein tidak sedikitpun merasa iba terhadap Karel. Clein akan datang untuk melayat kesana, hanya saja ia datang bukan untuk Karel melainkan hanya untuk Rahma dan Edvin.
******
Anggota komunitas Black Tyrannical dan juga Clein sudah berkumpul di depan gang. Mereka semua tengah menunggu perintah Clein selanjutnya. Clein tidak memberikan alasan kenapa mereka harus berkumpul di waktu sepagi itu.
"Kita mau kemana? Masih ngantuk nih gue, Clein." Ujar Revan dengan muka bantalnya.
"Gue kira ada keadaan darurat makanya lo kumpulin kita sepagi ini. Tapi keliatannya semua baik-baik aja." Tambah Kenzo.
"Kita akan pergi ke rumah Karel!"
"WHATTT?!" pekik Revan, Kenzo dan Deva tak percaya
"Untuk apa kita pergi ke rumahnya? Apa kita akan memberikan pelajaran padanya sepagi ini?" Tanya Shane.
"Saya tidak berniat untuk melakukan itu. Tapi kita bisa lihat nanti!" Jawab Clein.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Deva yang masih tidak mengerti ucapan Clein.
"Ikut saja!"
Clein melajukan motornya terlebih dahulu. Meski dengan perasaan bingung, namun mereka tetap mengikuti motor Clein di belakang. Mereka masih belum memiliki jawaban pasti dari pertanyaan yang berkecamuk di pikiran mereka. Mereka masih tidak tau apa tujuan Clein sebenarnya dengan mengajak mereka untuk pergi ke rumah pria yang jelas-jelas adalah musuh dari Clein sendiri.
Suasana jalanan terlihat ramai karena saat itu bukan hari libur. Saat pagi menjelang, mereka pasti sibuk untuk melaksanakan aktivitas mereka baik itu sekolah ataupun bekerja. Masyarakat yang mengetahui dan melihat rombongan komunitas Black Tyrannical saat itu langsung menyingkir dan memberi jalan pada Clein dan anggotanya. Bukannya merasa takut, namun mereka sangat menghargai komunitas Black Tyrannical yang sudah banyak membantu mereka. Suara klakson serta senyuman terlihat menghiasi wajah orang-orang. Clein dengan tulus membalas senyuman mereka. Begitupun anggota komunitas Black Tyrannical yang lain, mereka terlihat senang komunitasnya di support seperti itu.
Motor melaju dan memasuki sebuah gerbang dengan bendera kuning yang terpasang serta banyaknya karangan bunga yang berada di depan gerbang. Orang-orang pun terlihat banyak berdatangan. Kedatangan Clein dan anggota komunitasnya menarik perhatian orang-orang yang berada di sana. Selain Clein, teman-temannya terlihat sangat terkejut. Mereka sudah dapat menebak bahwa di rumah itu ada seseorang yang meninggal. Namun mereka belum tahu siapa orang itu.
Orang tua Clein terlihat sudah berada di sana. Rio dan Eliana langsung menghampiri Clein saat tahu putrinya telah datang ke sana. Banyaknya anggota komunitas Black Tyrannical yang Clein bawa, membuat Rio dan Eliana sedikit khawatir.
"Ayah berharap kamu tidak akan membuat keributan disaat kondisi seperti ini." Ujar Rio.
Orang tua Clein sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Clein dan juga Karel. Tentunya Marcel yang memberitahukan soal itu. Bukan berniat mengadu, namun Marcel memang tipikal anak bontot yang manja dan terbuka terhadap orang tuanya.
"Clein juga berharap begitu, akan tetapi Clein tidak berjanji. Clein tidak akan memulai jika dia tidak memulainya lebih dulu. Seharusnya ayah paham." Ujar Clein.
Rio hanya diam. Kedewasaan Clein, ia tidak dapat memungkiri hal itu.
"Tapi ayah tidak ingin jika nanti kamu membuat Edvin dan ibunya semakin sedih. Ayah juga berharap kamu paham soal itu." Ucap Rio. Clein memegang tangan Rio dan melempar seulas senyum tipis.
"Clein tidak akan menyakiti Edvin dan Tante Rahma. Urusan Clein hanya pada Karel. Ayah tidak perlu khawatir."
Rio hanya mengangguk dan sangat percaya pada putrinya.
Tatapan mereka saling beradu tajam. Clein sedikit bahagia melihat kesedihan yang terpancar dari mata Karel. Namun ia tidak bahagia dengan kematian om Dean. Seolah yang Clein inginkan untuk menderita hanyalah Karel bukan orang lain.
Clein berjalan memakai selendang hitam untuk menutupi rambutnya yang sengaja ia bawa. Selendang itu ia sampirkan dengan asal hanya untuk menutupi rambutnya. Clein diikuti semua anggotanya menghampiri Rahma lebih dulu.
"Tante." Lirih Clein. Rahma langsung memeluk tubuh Clein dan tangisnya langsung pecah.
"Clein, om Dean Clein. Tante rasanya tidak bisa lagi untuk hidup." Isak Rahma.
Clein mengusap lembut punggung Rahma.
"Semua yang hidup pasti akan mengalami mati, Tante. Kita harus siap kehilangan sesuatu karena semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Clein turut berduka cita, Tante harus tetap sabar dan jangan bersedih lagi. Om Dean sudah bahagia disana." Ujar Clein.
Rahma melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Clein. Kamu sangat baik. Walaupun Tante baru mengenal kamu, tapi tante tau kamu wanita yang sangat baik." Ucap Rahma.
Clein hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Karel memutar bola matanya malas.
"Wanita yang pandai berakting! Kamuflase yang terlihat sempurna!" Batin Karel.
Setelah itu Clein menghampiri Edvin dan membawanya dalam pelukan. Edvin tidak dapat menahan air matanya. Semuanya luruh, ia sangat dekat dengan papahnya namun ternyata takdir berkata lain, tuhan lebih sayang kepada papahnya itu. Clein mendekap tubuh Edvin dengan erat.
"Syuttt, syuttt sudah, daripada menangis lebih baik kamu doakan papah kamu. Jangan biarkan tangis ini memberatkan om Dean. Kamu ingin kan jika papah kamu bahagia di surga?"
__ADS_1
Edvin mengangguk sembari melepas pelukannya. Jemari Clein membelai lembut pipi Edvin dan menghapus air matanya.
"Lepaskan papah kamu dengan ikhlas. Allah lebih tahu mana yang terbaik. Don't cry, baby." Ucap Clein lembut.
Edvin menarik nafasnya dan kembali mengangguk. Clein mengusap lembut puncak kepala Edvin.
Setelah berusaha memberi kekuatan Clein berjalan untuk menghampiri pria yang paling ia benci. Pria itu terlihat berusaha tegar dan menatap Clein dengan tatapan dingin. Clein berhenti tepat di depan Karel.
"Saya tidak menerima kata-kata mutiara dari gadis yang hidup di balik topeng. Kata-kata yang di ucapkan hanyalah sebuah pembodohan untuk menutupi suatu keburukan. Ironis beberapa orang percaya dengan bualan dari seorang gadis manipulatif!" Ujar Karel dingin.
Clein berdecih pelan dan tersenyum miring.
"Saya tidak akan mengeluarkan kata-kata mutiara dan saya tidak ingin kata-kata mutiara dilontarkan pada pria seperti anda! Pria cupu yang diam-diam mencoba untuk menyerang saya dan komunitas saya dari belakang!" ujar Clein.
Karel mengerutkan keningnya.
"Maksud anda?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Sekarang kita berdua berbicara secara tatap muka, dan dengan hormat tanpa adanya kekerasan saya ingin bertanya tuan Karel." Clein mendekatkan tubuhnya pada Karel dan jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Tatapan Clein tajam dan penuh intimidasi.
"APA TUJUAN ANDA MENGIRIMKAN SEORANG MATA-MATA?!" Tegas Clein dengan sedikit meninggikan nada bicaranya. Semua orang menatap ke arah mereka. Rio hanya memijit pelipisnya dan kekhawatirannya benar terjadi. Clein dan Karel kembali menjadi pusat perhatian.
Karel membulatkan matanya dengan sempurna. Apakah Clein mengetahui keberadaan Frey? Tapi bagaimana bisa? Karel tahu bahwa Frey adalah seorang mata-mata yang handal. Tapi apa yang ia dengar dari bibir Clein? Gadis itu sudah mengetahui perihal mata-mata yang ia kirimkan.
"Anda terkejut? Terkejut mendengar kalau saya mengetahui hal itu?"
Karel hanya diam.
"Saya menghormati anda dalam kondisi seperti ini. Jadi saya tidak akan melakukan apa-apa. Tapi saya akan memberi anda satu pesan." Clein menarik tuxedo Karel dengan kasar dan mendekatkan bibirnya pada telinga Karel.
"Jadilah pria jantan yang menghadapi sesuatu secara langsung! Tidak dengan melibatkan orang lain dan membawa orang lain dalam masalah anda sendiri! Dengan begitu anda akan dipandang secara terhormat!" Tegas Clein.
Setelahnya Clein pergi meninggalkan Karel dan berpamitan pada Rahma dan Edvin. Dengan diikuti semua anggotanya, Clein pergi meninggalkan Mansion milik Karel.
"Wow speechless gue Clein, cowok itu keliatan gak berkutik! Padahal lo gak ngangkat tangan lo buat balas dia. Cuma omongan doang, tapi kayaknya dia langsung kena mental!" Puji Revan.
"Aura Clein emang gak usah diragukan lagi. Manusia mana pun pasti bakalan bungkam!" Timpal Shane.
"Hidup Clein!" Teriak Kenzo.
"Hidup!" Ucap semua anggota serentak."
Clein hanya menggeleng pelan dan langsung naik ke motornya. Ia berpikir bahwa itulah yang seharusnya ia lakukan. Clein masih punya belas kasih pada Karel karena Edvin dan Rahma. Jika dia hanya memikirkan emosi serta logika tanpa perasaannya, entah jadi apa Karel nantinya. Hari ini kesabarannya masih setebal tisu.
...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...
...
...
__ADS_1