Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 30


__ADS_3

Karel tengah berkutat dengan pekerjaan di dalam kamarnya. Setelah makan siang tadi, Clein hanya diam saja di dalam kamar dengan bersandar pada ujung ranjang. Dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, Karel terlihat serius melihat berkas-berkas disana.


Seperti berada dalam penjara, seperti manusia yang tidak mengenal haknya. Jika dulu Clein yang bisa menguasai Karel tapi kini sebaliknya. Belum saja satu hari hidup bersama dengan pria itu, Clein sudah merasa sangat menderita.


"Saya bosan! Tolong biarkan saya hidup bebas!" Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Clein.


Karel menghentikan aktivitasnya kemudian menaruh berkasnya, membuka kacamata dan melihat istrinya. Disana Clein terlihat tak berdaya. Karel juga berpikir sama, ia tidak bisa terus-menerus mengawasi Clein. Dia juga banyak pekerjaan yang harus di kerjakan. Karel harus punya solusi terbaik karena tujuan utamanya belum sepenuhnya tercapai.


"Selain pergi ke komunitas anda, anda biasanya pergi kemana?" Tanya Karel memecah keheningan beberapa detik.


"Latihan berkuda, kadang latihan menembak dan kadang juga melatih anak-anak seni beladiri pencak silat. Kadang saya pergi berburu untuk mengasah kemampuan memanah saya." Jawab Clein.


Karel tercengang mendengar penuturan Clein. Yang ia tahu Clein itu hanya pandai membantah, berkelahi sepanjang waktu dan hampir di setiap pelajaran dia tidak pernah mengikutinya. Sekarang, setelah tujuh tahun berlalu, Clein sangat luar biasa pikirnya.


"Anda pasti berbohong!" Ujar Karel menyipitkan matanya.


"Bohong? Mungkin kebohongan hanya identik dengan anda. Membawa saya pada pernikahan ini dengan menjebak saya kemudian membohongi semua keluarga!"


"Dibahas lagi dibahas lagi! Apa tidak ada pembahasan lain?" tanya Karel kesal.


Clein hanya diam. Ia sudah terlalu kesal oleh tindakan dari pria itu. Sebelum pernikahan itu terjadi, Tidakkah ia harus memilih? Jika saja ia tidak menghormati orang tuanya, mungkin rasanya sekarang pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.


"Saya akan izinkan anda untuk pergi menekuni hobi anda. Seperti berkuda, berburu, mengajari anak-anak pencak silat dan latihan menembak!" Clein bergerak maju.


"Serius?" Tanya Clein antusias.


"Tentu. Tapi anda akan ditemani oleh seseorang. Dia adalah salah satu orang kepercayaan saya!" Ujar Karel.


"Kenapa kayak gitu? Gak adil banget. Saya bisa pergi sendiri, saya bukan anak kecil yang harus dijaga setiap waktu."


"Siapa yang akan menjamin jika anda pergi sendiri, anda tidak akan menemui teman dalam komunitas anda?"


"Ah sial! Karel tau saja apa yang saya pikirkan!" Batin Clein.


"Tapi mereka itu teman-teman saya. Mereka itu menjadi teman saya bukan satu atau dua bulan tapi sudah bertahun-tahun. Berhentilah bersikap egois, saya juga manusia makhluk sosial, Karel. Saya membutuhkan manusia lain dalam hidup saya." Ujar Clein.


"Sekarang hidup anda tidak bergantung pada mereka. Saya juga manusia, anda bisa bergantung pada saya."


"Yakin kalau anda manusia? Bukankah anda ini binatang yang senang memperdaya seorang wanita?"


"Syut, anda ini diminta untuk tidak membahasnya lagi malah kembali membahas!" Ketus Karel.


Clein menghembuskan nafas kasar kemudian beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri Karel lalu duduk di samping pria itu.


"Bukankah anda benci pada saya?" Tanya Clein.


"Ya memang saya sangat membenci anda!" Jawab Karel tanpa sedikitpun mengelak.


Telunjuk Clein berputar-putar mengikuti bingkai wajah Karel.


"Tapi, kenapa anda membawa saya pada sebuah pernikahan? Bukankah kebencian itu akan membuat anda merasa jijik saat melihat saya, apalagi tinggal satu atap, dimana setiap jam anda akan melihat wajah saya." Ujar Clein.


"Gimana yah, di hati saya ini sebetulnya ada sebuah rasa iba. Apalagi saya tidak dapat mengontrol hasrat saya pada malam itu. Sudah saya katakan seperti apa yang saya katakan sebelumnya, jika kamu hamil bagaimana?" Ujar Karel.

__ADS_1


"Ck, kita tidak pernah melakukannya! Saya tahu anda hanya mencoba mempermainkan saya dan keluarga saya. Saya bisa merasakan tubuh saya biasa-biasa saja setelah bangun. Berhenti berbohong, karena saya ini tidak bodoh!" Ujar Clein.


"Apa sebelumnya anda pernah berhubungan dengan laki-laki lain? Saya heran darimana anda tahu rasa setelah berhubungan? Anda saja saat itu sedang tidak sadar." Ucap Karel.


Clein diam membatu, benar juga apa yang dikatakan oleh Karel. Ia mana tau rasa setelah melakukan hubungan itu seperti apa.


"Jika Karel memang melakukannya bagaimana?" Batin Clein


Tangan Clein terangkat untuk mengusap perutnya yang masih rata.


Tatapan Karel beralih pada tangan Clein. Gadis itu mulai termanipulatif oleh kebohongan Karel. Mencari hiburan tidak perlu untuk pergi jauh-jauh, rasanya di rumah saja sudah cukup melihat bagaimana Clein mempercayai dirinya.


"Sudah tidak usah dipikirkan, anda tenang saja! Kalaupun Anda hamil anda tidak usah khawatir Clein, saya ini kan sudah sah menjadi suami anda. Nanti juga kalau ada anak di perut anda dia bakalan punya bapak." Ujar Karel.


"Jangan menakut-nakuti saya!" Balas Clein mendelikkan matanya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar, keduanya melihat ke arah sumber suara.


"Siapa?" Tanya Karel.


"Mana saya tau! Anda buka dan lihat saja sendiri!" Ketus Clein yang kembali lagi duduk di atas kasur.


"Ihh! Dasar istri durhaka!"


Karel bergegas membukakan pintu, disana Rahma tengah berdiri diikuti senyuman manisnya. Clein langsung bangun dan menghampiri Rahma.


"Nak Clein. Padahal gapapa istirahat aja, gak usah samperin mamah." Ucap Rahma.


Clein hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dengan kondisi seperti itu rasanya canggung sekali untuk seorang Clein.


"Kenapa mah?" Tanya Karel.


"Mamah mau bicara sebentar sama kamu." Ucap Rahma.


"Kenapa gak disini aja?"


"Eummm... begini ada hal penting yang ingin mamah bicarakan sama kamu." Ujar Rahma pada Karel dengan sesekali melirik Clein. Tatapan Karel kemudian beralih pada Clein juga. Akhirnya ia paham.


"Kita bicara di kamar mamah saja." Ucap Karel.


Rahma mengangguk dan berjalan lebih dulu. Alis Clein saling bertaut ia cukup penasaran dengan apa yang akan Karel dan mamahnya bicarakan.


Sebelum pergi menyusul Rahma, Karel memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil dua handphone, salah satunya handphone milik Clein.


"Handphone ini harus saya bawa! Kalau tidak, anda pasti akan menghubungi teman-teman anda!" Ujar Karel mengangkat tinggi handphone istrinya.


Karel juga berjalan ke arah jendela ia menekan tombol remot dan semua jendela beserta gordennya tertutup rapat.


"Ini terlalu berlebihan, seharusnya anda tidak berbuat seperti ini! Tidak dengan memenjara saya disini!"


Karel tidak peduli dengan ucapan Clein, Karel bergegas menutup pintu digital miliknya dan menekan sandi yang telah ia rancang. Clein ini bukan wanita biasa, dia ini wanita yang agak sedikit bringas. Ide dan cara licik pasti memenuhi otaknya. Apalagi dia seorang pemimpin yang pandai mengatur strategi, Karel tidak ingin jika ia kalah ide dari gadis itu.

__ADS_1


BRAKKK


Clein menendang pintu dengan kasar kemudian menyugar rambutnya ke belakang.


"SIALAN! BANGS*T KAREL! SAYA INI MANUSIA BUKAN BINATANG YANG BISA ANDA KURUNG SEMAU ANDA!" Teriak Clein.


Karel tidak dapat mendengar teriakan Clein karena kamar pria itu di rancang kedap suara. Clein harus mencari kelemahan Karel agar pria itu tidak lagi bisa menginjaknya. Ya, itu yang hanya bisa ia lakukan saat ini.


Karel sudah sampai di kamar mamahnya.


"Ada apa mah?"


"Mamah mau ngasih tau kamu kalau tadi Alita datang ke rumah." Ujar Rahma.


"Beneran mah? Serius?" Tanya Karel.


"Mamah serius Karel. Memangnya kamu belum mengakhiri hubungan kamu sama dia?" Tanya Rahma.


Rahma memang mengetahui hubungan Karel dengan Alita. Akan tetapi Rahma tidak pernah menyukai gadis itu, penampilan yang selalu sexy dengan make-up tebal, Rahma bisa menilai kalau Alita itu bukan gadis yang baik. Bahkan pemikiran Rahma di perkuat ketika dua minggu lalu ia bertemu dengan Alita yang tengah mabuk dipinggir jalan. Alita bukanlah gadis yang pantas untuk dijadikan seorang istri. Itu juga yang menjadi alasan kenapa Rahma langsung menyetujui pernikahan Karel dengan Clein. Agar Karel bisa jauh dari Alita.


"Belum. Karel masih mencintai Alita mah." Jawab Karel.


"Ya Tuhan Karel! Kamu ini sudah memiliki istri. Pernikahan kamu dengan Clein itu jelas karena perbuatan kamu sendiri dan dengan sukarela mengiyakan pernikahan itu terjadi. Jangan buat mamah malu sama kelakuan kamu. Clein itu gadis baik, mamah gak pengen kamu nyakitin Clein!" Jelas Rahma. Raut kecewa terlihat jelas di matanya.


"Tapi mah, Alita itu wanita yang sangat berharga di hidup Karel. Dia udah banyak bantu Karel dalam hal bisnis. Bukan hanya itu, Alita juga wanita yang paling pengertian yang pernah Karel kenal."


"Mamah tidak mau dengar apapun! Kamu harus cepat putuskan Alita, kalau tidak mamah yang akan datangiĀ  dia dan memaksa dia untuk menjauh dari kamu. Clein gadis baik, dia gadis yang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan!" Tegas Rahma.


Karel terlihat menarik nafasnya dalam.


"Baik, Kalau itu yang mamah mau. Oke Karel akan putuskan Alita. Mamah tidak perlu ikut campur, Karel bisa selesaikan ini sendiri." Jawab Karel.


"Bagus! Mamah butuh pembuktian dari kamu. Ucapan di bibir, mamah enggak butuh itu." Ucap Rahma.


"Apa ada lagi yang ingin mamah bicarakan?"


"Ada. Mamah akan pindah dan tinggal di rumah mamah yang lama." Ucap Rahma.


Karel mengerutkan keningnya.


"Kenapa gak tinggal disini mah? Papah kan udah gak ada, kalau mamah sendirian nanti mamah kesepian." Ucap Karel. Ada kekhawatiran dalam hatinya.


"Disana mamah gak sendirian, ada mbok Atik juga yang nemenin mamah. Mamah rasa, mamah gak perlu lagi tinggal disini. Mamah pengen kalian berdua membangun rumah tangga dengan mandiri tanpa campur tangan siapapun. Kalian ini akan tumbuh menjadi keluarga, membangun sebuah keluarga itu gak mudah. Nah dari situ mamah pengen tau tingkat kedewasaan kamu sebagai seorang pria sekaligus imam untuk istri kamu gimana." Ujar Rahma.


"Tapi mah, Karel ini khawatir kalau mamah jauh dari Karel. Karel jadi gak bisa kontrol kesehatan mamah."


"Mamah bakalan sering-sering dateng kok kesini. Sebelum Edvin balik lagi juga ke Asrama, dia bakalan tinggal sama mamah. Jadi kekhawatiran kamu sebaiknya kamu simpan, adekmu itu sudah dewasa, dia bisa jagain mamah." Jelas Rahma.


"Karel gak bisa apa-apa kalau itu sudah jadi keputusan mamah, yang paling penting mamah jaga kesehatan jangan sampe sakit." Ucap Karel.


"Kamu juga ingat, cepat putuskan Alita!" Tegas Rahma.


"Iyah-iyah mah." Jawab Karel.

__ADS_1


__ADS_2