
Keesokan harinya, Cinta, Bilqis, dan Fatihah pergi ke perusahaan. Tidak lupa pula, sarapan pagi terlebih dulu. Kerja memang penting, tapi menjaga kesehatan juga penting.
”Cinta, kamu sudah datang juga. Dari tadi, aku menunggu kamu.” batin Stifen.
Cinta masuk ke dalam ruangannya, melihat Stifen yang sedang berdiri didekat jendela kaca. Cinta duduk di kursinya, mengerjakan yang harus dikerjakan. Tentu saja, sambil memikirkan tagihan Robert.
”Bagaimana iya caranya, supaya uang itu terkumpul. Empat puluh juta bukanlah uang yang sedikit, bila harus terkumpul dalam waktu sebulan.” batin Cinta.
Stifen menghampiri Cinta, yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Cinta, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Stifen.
"Tidak ada Pak." Cinta malas bercerita.
"Baiklah, bila kamu tidak mau mengatakannya. Aku tidak memaksa, namun bila ada hal sulit katakanlah." ujar Stifen.
"Aku akan mengatakannya, bila aku tidak bisa mengatasinya lagi." jawab Cinta.
"Cinta, apa boleh aku ke rumah kamu?" tanya Stifen.
"Hmmm.... untuk apa?" tanyanya gugup.
__ADS_1
"Aku ingin mengajak Mamaku, untuk berkenalan dengan Ibumu." jawab Stifen.
”Aku bukannya tidak mau mengajak kamu Stifen. Tapi aku takut, bila Ibu akan mengusir kamu.” batin Cinta.
Stifen meneruskan ucapannya. "Kok kamu diam saja, boleh atau tidak?"
"Hmmm... Iy... iya boleh." jawabnya terbata-bata.
"Baiklah, bulan depan aku akan ke rumahmu." ujar Stifen.
Cinta hanya mengganggukan kepalanya, Stifen tersenyum di dalam hati. Rasa ingin melamar Cinta, memang ada di benaknya.
Cinta melihat ponselnya, ternyata ada perlombaan pembacaan Al-Qur'an. Cinta ingin mengambil kesempatan tersebut untuk memenangkan hadiahnya, yang berkisar sekitar lima puluh juta.
Pukul 11.45. Cinta beristirahat bersama Bilqis dan Fatihah. Mereka duduk di kantin, yang dekat dengan pabrik kelapa sawit.
"Eh Cinta, apa kamu sudah menemukan solusinya?" tanya Fatihah.
"Sudah, aku bakalan mengikuti perlombaan pembacaan Al-Qur'an." jawab Cinta.
"Hmmm.... Itu merupakan ide yang bagus." sahut Bilqis.
__ADS_1
"Iya benar, semoga berhasil." jawab Cinta.
Ucapan cinta diaamiin kan oleh Fatihah. Kedua sahabatnya itu, memang mendukung keputusan Cinta.
Keesokan harinya, Cinta mendaftarkan diri pada petugas. Dia ingin menjadi peserta lomba pembacaan Al-Qur'an. Fatihah dan Bilqis masih setia, untuk menemani Cinta. Mereka berdiri di samping Cinta, sejak antrian awal tadi. Cinta duduk di kursi para pendengar, yang menyaksikan perlombaan tersebut.
"Cinta semangat!" ujar Fatihah.
Bilqis tersenyum, sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Posisi telapak tangannya digenggam di atas udara. Sebuah pertanda, bahwa dirinya juga memberi semangat.
Tanpa disangka, ternyata Stifen ada di sana. Dia menjadi juri, dalam perlombaan tersebut.
"Cinta, sepertinya kamu berjodoh dengannya." goda Bilqis.
"Bilqis, berhenti menggodaku." Cinta tersenyum malu.
"Cie malu-malu, ada akhy Stifen tuh." Fatihah mengedipkan matanya.
Cinta hanya menunduk, masih malu mengakui perasaannya. Tanpa diduga, dia menaruh hati diam-diam.
Sebuah suara memanggil nama Cinta Nakila. Gadis itu maju ke depan, dengan berjalan pelan-pelan. Stifen tidak asing dengan nama tersebut, menoleh ke arah Cinta.
__ADS_1
”Masyaa Allah, dia sungguh anggun. Apa mungkin, aku bisa bersatu dengannya. Aku mencintai dia, dekatkan hati kami ya Allah dalam ikatan halal.” batin Stifen.
Cinta mulai duduk, lalu tangannya membuka kitab Al-Qur'an. Cinta mulai mengeluarkan suaranya yang merdu, menghipnotis para pendengar.