Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Pura-Pura Taubat


__ADS_3

Robert menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya. Dia tidak ingin Zahra marah lagi, karena melihat asisten rumahtangga di rumah. Zahra memberikan uang gaji, menyuruh Roroy segera pergi.


"Aku tidak mau melihatmu lagi, cepat pergi atau aku laporkan ke polisi." Zahra menunjuk pintu keluar.


"Baik Nyonya." jawab Roroy, patuh dengan rasa takut.


Robert baru saja mau bicara, namun Zahra memilih pergi begitu saja. Robert merasa kesal, karena Zahra mengacuhkannya.


Cinta dan Stifen sudah sampai ke toko penjualan sembako. Semakin hari ramai saja para pembeli, kebanyakan yang berlangganan para pedagang kecil.


"Pak Stifen, alhamdulillaah penjualan lancar." ujar Bilqis.


"Alhamdulillah, terima kasih kalian telah menjalankan tugas selama aku pergi." jawab Stifen.


Fatihah dan Bilqis mengangguk sambil senyum. Cinta segera memeluk keduanya, karena merasa sangat rindu.


"Bagaimana dengan bulan madunya?" tanya Bilqis.

__ADS_1


"Alhamdulillah lancar." jawab Cinta.


"Syukur alhamdulillah, kami ikut senang mendengarnya." ujar Bilqis dan Fatihah.


"Baiklah, sebagai hadiah kita makan bersama. Lalu kalian akan mendapatkan bonus, seperti yang suamiku katakan padaku." Cinta tersenyum lebar.


Mereka melangkahkan kaki masing-masing, lalu duduk di dalam ruangan. Sudah lama tidak berjumpa, berbincang menjadi hal yang seru. Mereka bercerita mengenai baju, yang cocok untuk dipakai. Di depan suami tampil begini dan begitu.


"Cinta cantik kalau pakai dress mini, biar hati Pak Stifen berbunga-bunga." bisik Bilqis.


"Heheh... tidak percaya diri." Cinta geleng-geleng kepala, dengan candaan bersama temannya.


Menyalakan gas untuk memasak telur mata sapi, dan juga mie instan yang siap dikeringkan. Bilqis menyiapkan semuanya, sambil mendengar mereka berbicara. Fatihah bercerita dengan sedih, mengenai hari tak terlupakan.


"Aku mengerti, kondisi kamu saat itu tidak baik-baik saja. Aku tahu kamu sangat ketakutan, dan tidak ingin lagi bertemu Berto. Namun, kamu harus ingat saat itu ada aku yang menolongmu." ucap Cinta.


"Terima kasih Cinta! Saat itu kalau tidak ada kamu, aku sudah rusak." jawab Fatihah.

__ADS_1


Cinta mengusap punggung Fatihah, yang tampak mengusap-usap air matanya.


Makan malam Robert minta suapi Zahra, dia sengaja ingin mendapat kepercayaan lagi. Zahra diam saja, karena belum percaya.


"Papa ini menyimpan semuanya dari Mama, tanpa ada sedikit tindakan yang terendus. Bagaimana Mama bisa percaya lagi." ucap Zahra, dengan sedikit ketus.


"Mama, Papa tidak akan mengulangi kegenitan ini lagi. Papa janji, akan memberikan Stifen jabatan Aditama Grup kembali semula." jawab Robert.


"Apa yang bisa dikembalikan Papa, memaafkan bisa berulang tetapi berbeda dengan kepercayaan." ucap Zahra tegas.


"Begini saja, anggaplah Mama mempertahankan pernikahan demi Stifen. Dalam beberapa hari terus saja awasi aku, karena sungguh aku telah bertaubat." Robert berusaha merayu istrinya, agar mendapat kepercayaan kembali.


Keesokan harinya Robert sengaja pergi, ke usaha baru milik Stifen. Dia mengunjungi toko, dan juga kedai yang sedang tutup. Stifen melihat kedatangan papanya.


"Stifen, kamu kembali ke perusahaan Aditama Grup. Sekarang lagi banyak masalah, produksi minyak bisa berhenti bila tidak ada modal. Belum lagi investor pada protes, karena tidak mendapatkan imbalan penanaman saham." ujar Robert, dengan keluhannya panjang dan lebar.


"Aku sudah sibuk sendiri Pa. Aku rasa Papa bisa meminta bantuan Wakil Direktur Berto." Stifen menjawab dengan lirih, namun ingin memberi pelajaran pada papanya.

__ADS_1


__ADS_2