Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Ta'aruf


__ADS_3

Fatihah hendak pergi ke toko, namun ada yang mencegatnya di jalan. Orang tersebut adalah Berto, klien yang bertemu saat meeting kemarin.


"Hai Fatihah!" Menyapa sambil mengedipkan matanya.


"Ada perlu apa." ujar Fatihah spontan.


"Tidak ada perlu apa-apa, cuma mau kenal lebih dekat sama kamu." jawab Berto.


"Aku tidak mau kenal sama kamu." Fatihah menghindari Berto, yang semakin mendekat.


"Dasar sombong! Di perusahaan Aditama Grup, yang cantik bukan hanya kamu." jawab Berto.


"Iya sudah, cari sana gadis lain yang mau sama kamu." Fatihah menatap tidak suka.


"Aku tidak mau orang lain, aku maunya cuma kamu." jawab Berto.


Berto semakin mendekat, dia memaksa untuk mencium Fatihah. Gadis itu menolak, dan berteriak meminta tolong. Kebetulan sekali, Cinta hendak pulang ke mes. Dia melihat Fatihah, yang sedang dipaksa Berto. Cinta mengambil kayu yang ada di jalan, lalu memukulnya pada pundak Berto.


"Ayo kita pergi Fatihah." ajak Cinta.


"Iya Cinta, ayo cepat." Fatihah menarik tangan Cinta.


Mereka berdua segera berlari tunggang langgang. Sedangkan Berto berdiri dari posisi duduknya, dia segera mengejar Cinta dan Fatihah.


"Fatihah, kamu tidak apa-apa?" tanya Cinta, masih dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa." jawab Fatihah, yang tidak kalah ngos-ngosan.


Tak berselang lama, mereka sudah sampai. Pintu dibukakan oleh Bilqis, setelah mereka mengucapkan salam.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Bilqis heran.


"Kami dikejar dengan klien akhy Stifen." jawab Fatihah.


"Hah, ngapain dia mengejar kalian?" Bilqis tampak bingung.


"Dia itu kurang ajar padaku, lalu Cinta membantu aku untuk melawannya. Cinta membawa kayu balok, untuk memukul pria genit itu." tutur Fatihah.


"Oh iya, aku mengerti." ucap Bilqis.


"Aku bawa lauk pauk." Cinta mengangkat kedua tangannya.


"Tidak mungkin membawa dari rumah Ibu tiri, pasti kamu membeli di kedai." jawab Bilqis.


"Iya, tentu saja." ujar Cinta.


"Sudah kuduga." jawabnya.


Pada malam harinya, Cinta bercerita tentang Stifen yang melamarnya. Hal tersebut, membuat Fatihah dan Bilqis terkejut.


"Cie, sebentar lagi bakalan nikah." goda Fatihah.

__ADS_1


"Cie, bakalan jadi permaisuri akhy Stifen." timpal Bilqis.


"Kita tidak tahu juga, lihat saja nanti." jawab Cinta.


"Kok gitu, pasti jadi kok. Aku sudah menduga dari awal, kalau dia pasti naksir sama kamu." ujar Bilqis.


"Karena kita tidak pernah tahu, jodoh itu rahasia Tuhan." jawab Cinta.


"Iya sudah, kamu persiapkan saja semuanya." ujar Fatihah.


"Iya Fatihah." jawabnya.


Keesokan harinya, mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan Aditama Grup. Mereka sudah berpakaian rapi, dengan jas dan baju kemeja di dalamnya. Mereka pergi bersama seperti biasanya, dengan berjalan kaki. Jarak rumah mes dan perusahaan juga tidak begitu jauh.


"Aku pergi ke ruangan ku dulu iya." Cinta melambaikan tangannya, sambil tersenyum.


"Iya Cinta, sampai jumpa kembali." Fatihah melambaikan tangannya, diiringi lambaian tangan Bilqis.


Cinta membuka ruangannya, terlihat Stifen sudah berada di dalam. Dia sedang memeriksa laporan dari mandor keperawatan.


"Cinta, tolong kamu bantu rekapitalisasi absen pemanen sawit iya." titah Stifen.


"Baik Pak." jawab Cinta.


Cinta berjalan mendekat lalu duduk di kursi, setelah Stifen mempersilahkannya untuk duduk. Cinta mengambil kertas berwarna merah muda, kuning, dan putih. Lembaran kertas tersebut, distapless menjadi satu.

__ADS_1


__ADS_2