Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Asha Jadi Kompor


__ADS_3

Asha sengaja menemui Zahra di rumahnya, sedangkan Robert mengacungkan dua jempol di kejauhan. Zahra mempersilakan masuk, lalu Asha berjalan dengan santai.


"Aku buatkan air teh dulu iya." ujar Zahra.


"Iya, kamu tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin berbicara penting, tentang anakku." jawab Asha.


"Iya sudah, silakan bicara sekarang." ucap Zahra.


"Aku sedih, karena tidak tega mengatakannya. Saat kamu dan Stifen datang ke rumah, aku sengaja meminta mahar yang banyak agar kamu tidak merestui pernikahan mereka. Cinta ini bukan perempuan baik-baik, dia sudah ternodai dengan banyak laki-laki." Asha mengambil tisu, lalu mengelap air mata palsunya.


"Tapi, Stifen bilang Cinta masih suci." Zahra bingung.


"Itu karena Cinta punya seribu alasan. Siapa yang tahu, bila Cinta melakukan hal curang di belakang Stifen." Asha terus mengompori.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku menganggap dia seperti anakku sendiri. Namun yang membuat sakit hati, saat dia berduaan dengan suamiku." ujar Zahra.


"Nah, ini yang aku bilang dia berkhianat. Di belakang kamu, aku melihatnya menggoda Robert. Sungguh aku benar-benar gila, menyaksikan tingkah anakku yang memalukan." Masih berpura-pura menangis, untuk mencari perhatian Zahra.


Zahra hampir menangis, tidak percaya dengan yang Asha katakan. "Tapi kelihatannya, dia bukan perempuan seperti itu. Siapa yang bisa aku percaya sekarang, ucapan Stifen atau Robert dan kamu."


"Menurutku, kamu tidak usah memaafkan Cinta. Nanti, dia semakin semena-mena bila dimaklumi. Cinta sudah keterlaluan, karena merebut suami orang." Asha memperkeruh suasana.


Bilqis jadi malu, saat bertemu dengan Ade. Ingat kejadian konyol kemarin, seperti tangkap menangkap dalam drama saja. Dibilang senang sebenarnya tidak, cukup kesal dengan yang terjadi. Yang tidak habis pikir, mengapa terucap kata menikah.


Setelah kepergian Stifen, Robert datang lagi ke rumahnya. Cinta sudah mengunci gerbang, malas kejadian kemarin terulang lagi. Cinta memasak di dapur, lalu tersenyum ke segala arah. Cinta mengirimkan pesan pada Fatihah dan Bilqis, agar mampir ke rumah barunya.


"Cinta!" Robert berteriak di depan gerbang.

__ADS_1


Cinta membuka tirai jendela, dan merasa risih dengan kelakuan Robert. Cinta mencari cara, agar laki-laki itu menyerah.


"Apa aku bunyikan suara palsu saja, biar dia tidak berisik." Cinta segera menghidupkan suara sirene mobil polisi.


Sengaja diputar suara kuat, menggunakan toa besar. Robert lari terbirit-birit, mengira ada polisi sungguhan yang datang. Tanpa sengaja menabrak Zahra, yang hendak berkunjung ke rumah Cinta.


"Mama mau kemana?" tanya Robert.


"Mama mau ke rumah Cinta. Papa sendiri ngapain di sini, katanya mau pergi ke kantor." jawab Zahra.


"Iya Ma, Papa tadi membeli barang di sebuah toko. Kebetulan tidak jauh dari rumah Cinta, lalu dia memanggil Papa. Daripada digodain lagi, Papa memilih berlari terbirit-birit." ujar Robert.


"Benar-benar tidak sadar diri, menantu satu itu sudah kurang ajar. Bisa-bisanya dia tidak menghargai aku, yang berstatus sebagai orangtua Stifen." Zahra menyalami tangan Robert, lalu pergi setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


”Yes, Cinta bakalan dimarahi sama Zahra. Lalu setelah ini, aku bisa berbuat macam-macam. Otomatis, Cinta akan merasa sedih. Makanya, jangan nekat mengadu pada Stifen.” batin Robert gembira.


__ADS_2