
Cinta dan Robert saling mendorong, hingga menyenggol kuali dan minyak tertumpah. Robert terus saja melakukannya, hingga Stifen dan Zahra datang.
"Papa kenapa mendorong Cinta?" Stifen menatap papanya.
"Papa ingin menyelamatkan istri kamu, karena terjadi kebakaran di dapur." alibi Robert.
"Bukan seperti itu, Papa kamu telah mengganggu aku yang konsentrasi masak." sahut Cinta.
"Kamu jangan menyangkalnya, dari awal memang tidak pernah menghargai. Lihat, pipi Papa sampai ditampar olehnya." Robert pura-pura lagi, biar Cinta disudutkan.
Zahra menyiram air dengan ember yang dibawanya. Dia segera menarik lengan Robert yang sedikit terbakar api. Cinta benar-benar kesal, dengan mertua laki-lakinya yang genit. Ada saja alasan yang dicarinya, untuk menyusahkan posisi Cinta di rumah itu.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Zahra.
"Awalnya Papa hanya menanyakan resep masakan enak, dia malah menampar Papa. Dia bilang Papa mengganggu konsentrasinya, seperti yang dia katakan tadi." jawab Robert kesal.
"Cinta ini terlihat sopan diawal, mengapa setelah menjadi menantu malah seperti ini." ujar Zahra.
__ADS_1
"Dia hanya ingin mendapat restu kita. Sebenarnya, Papa mengetahui satu hal tentang Cinta. Namun, sulit sekali menjelaskannya pada Stifen. Dia pasti tidak percaya, dengan apa yang pernah Papa lihat." jelas Robert.
"Dia kenapa Papa, cepat cerita." Zahra mendorong paha Robert, menggesa-gesa agar suaminya cepat bercerita.
"Sejak awal Papa tidak setuju mereka menikah, karena Cinta adalah gadis di sebuah rumah bordir." Robert pura-pura menangis, mengusap air mata palsunya.
Zahra memeluk suaminya. "Papa, sungguh mulia hatimu. Kamu rela ditindas menantu, demi Stifen bahagia." Merasa sangat terharu.
"Itulah sebabnya, Cinta sejak awal tampak memusuhi Papa. Dia membuat Papa bagai penumpang di rumah sendiri." jawab Robert.
"Mama akan berikan dia pelajaran, supaya dia bertaubat. Jangan melanjutkan diri menjadi perempuan munafik." ujar Zahra.
Stifen menggenggam tangan Cinta. "Lebih baik kita pergi dari rumah ini, bila kamu tidak nyaman dengan Papa." ujarnya.
"Apa alasan kita pergi." jawab Cinta.
"Aku akan bilang ke Mama, kalau kita mau bulan madu." ucap Stifen.
__ADS_1
"Iya sayang, ini bagus juga." Cinta sedikit lega.
Keesokan harinya, Robert menghampiri Cinta di dapur. Baru saja mau mengganggu, sudah ada Zahra yang datang. Zahra mengedipkan mata ke arah Robert, lalu kakinya berjalan mendekat.
"Cinta, kamu sudah pernah berpacaran dengan laki-laki?" tanya Zahra.
"Belum Ma, aku menghabiskan waktu untuk berjualan dan bekerja, lalu langsung menikah dengan Stifen." jawab Cinta.
"Meski tidak pernah berpacaran, tidak memungkinkan bahwa seorang perempuan masih suci." Zahra menatap kedua bola mata Cinta.
"Maksud Mama apa? Mama mencurigai aku?" Cinta merasa ada yang tidak beres, mungkin sudah terhasut Robert pikirnya.
"Mama tidak mengatakannya, namun kamu yang bilang sendiri. Stifen terlalu baik untuk dipermainkan, jika seseorang tidak tulus lebih baik mundur." Zahra memperingatkan dengan tegas.
"Ma, aku sayang sama Stifen, sama seperti keluarga sendiri."
"Kamu tidak sayang dengan diri sendiri, bagaimana bisa sayang dengan orang lain." ujar Zahra.
__ADS_1
"Benar, di dunia jarang orang yang mau mengakui kesalahan." timpal Robert.
"Aku tidak mengerti, mengapa Mama jadi berubah denganku. Aku benar-benar ingin membahagiakan suamiku, meski tanggapan orang lain terhadapku tidak sesuai kenyataan." Cinta berusaha menahan tangis.