
Cinta dengan tergesa-gesa berlari ke dalam perusahaan. Tidak enggan mengajak satpam, agar membantunya ke ruangan lantai atas.
"Mau mencari siapa?" tanya satpam.
"Temanku yang bernama Fatihah." jawab Cinta.
"Dia sekarang pasti sudah ganti atasan. Stifen sudah berhenti tugas, sejak Pak Berto menjadi wakil direktur." jelas satpam.
"Hah? Bisa seperti ini." jawab Cinta.
"Mau bagaimana lagi, ini permintaan Pak Robert. Padahal perusahaan berada di atas kejayaan, karena pimpinan dari Pak Stifen yang berkompeten. Dia yang memulainya dari awal, saat perusahaan mengalami kebangkrutan 5 tahun lalu." jelas satpam.
Stifen menghidupkan lampu kamar, lalu melihat ke sekelilingnya. Tidak ada juga tanda-tanda, bahwa istrinya ada di rumah. Stifen yakin, kalau dia sedang pergi.
"Tumben tidak izin, biasanya bilang dulu." monolog Stifen.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari Cinta. Stifen terkejut, saat mengetahui Cinta berada di perusahaan Aditama Grup. Pikirannya melayang kemana-mana, punya perasaan tidak enak. Stifen segera keluar dari rumah, menuju ke parkiran mobil.
Bilqis yang disekap di gudang meronta-ronta, namun Robert malah tertawa lantang. Dia ingin Cinta yang datang ke perusahaan, untuk menolong Fatihah. Cinta berdiri di depan pintu, lalu mengetuknya berkali-kali. Tidak juga ada sahutan, sampai Robert muncul mendadak.
__ADS_1
"Silakan Pak satpam pergi, biar aku bicara berdua dengan Cinta." ujar Robert.
"Baiklah, permisi Pak." Bapak satpam pergi.
"Aku ingin ruangan ini dibuka." Cinta menunjuk pintu, yang menjadi tempat Fatihah bekerja.
"Kamu terlalu buru-buru, santai saja." jawab Robert.
"Temanku ada di dalam, bagaimana mungkin bisa santai." Cinta tidak dapat tenang, takut Fatihah sudah diapa-apain.
"Oh iya, kamu 'kan temannya." Robert mengetuk pintu dengan kuat. "Berto, buka pintunya! Di sini ada aku, yang membawa seorang perempuan."
"Fatihah, kamu tidak diapa-apakan dengan Om Berto 'kan?" Cinta berdiri dengan cepat, lalu langsung menggenggam kedua tangannya.
"Hiks... hiks..." Hanya memilih menangis, daripada berkata-kata.
Robert giliran menarik paksa Cinta, Fatihah membantu mendorong Robert. Tidak butuh waktu lama, Berto menarik paksa Fatihah. Seperti sebelumnya, Berto mencium bibirnya secara paksa.
"Lepaskan aku!" Fatihah menangis.
__ADS_1
Berto memaksa Fatihah, sampai menurunkan salah satu pakaiannya. Fatihah merasa dipermalukan, karena mengenakan celana pendek saja. Berto menyudutkan Fatihah sampai ke tembok. Fatihah meronta-ronta, saat bajunya disobek.
"Papa, tolong lepaskan temanku." Cinta tidak tega melihatnya.
"Sudahlah, lebih baik kamu pikirkan apa yang akan kita lakukan." jawab Robert.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu didobrak. Fatihah tidak ingin ada orang, yang lebih banyak melihat auratnya. Dia segera memasang kembali perlengkapannya, lalu mengenakan jilbab hingga rapi.
Bruk!
Pintu berhasil terbuka karena didobrak, Stifen berhasil masuk. Meski tidak terlalu tepat waktu, namun cukup untuk menyelamatkan istrinya.
"Mengapa Papa membawanya ke ruangan ini." Stifen menatap curiga.
"Cinta yang merayu Papa, bisa berbuat apa untuk menolaknya." jawab Robert.
"Kalau Papa orang lain, aku tidak akan sungkan untuk memberikan pelajaran." Stifen menghampiri Berto, lalu meninju pipinya dengan kuat.
Bugh!
__ADS_1
"Sudah aku beritahu dari awal, jangan mengganggu perempuan." Stifen segera menyudahinya, karena melihat Cinta keluar ruangan bersama dengan Fatihah.