Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Ketahuan Playboy


__ADS_3

Zahra berbelanja bersama teman-temannya, lalu melihat ke arah Robert. Dia sedang memeluk pinggang Roroy, dengan jalan berlenggak-lenggok.


Mata Zahra melotot tidak percaya. "Papa! Itu 'kan Roroy, asisten rumahtangga baru di rumah."


"Kamu mau beli apa?" tanya Robert.


"Aku mau beli make up keluaran terbaru." jawab Roroy, dengan genit.


"Ayo sayang, aku borong yang banyak untuk kamu." ucap Robert.


"Terima kasih Kakak tampan." jawab Roroy, dengan senyum menggoda ke arah Robert.


Tiba-tiba muncul Zahra, dengan cepat kakinya menghampiri pusat perhatian. Zahra berdiri didekat Robert, sambil berdehem berulang kali.


"Hmmm... enak iya, ada yang mesra-mesraan." ujar Zahra.


Robert menjawab tanpa menoleh. "Heheh... iya dong, apalagi ini musim dingin."


"Lupa sama istri di rumah iya." ucap Zahra.


"Tidak juga si, dia bisa menjadi ATM berjalan." jawab Robert.

__ADS_1


Zahra naik pitam mendengarnya, dia memukul lengan Robert. Saat menoleh ke arah lawan bicara, Robert terkejut bukan kepalang. Bagaimana Zahra ada di sini pikirnya.


"Mama, maafkan Papa iya. Papa tadi cuma bercanda." alibi Robert.


"Aku tidak percaya, aku melihat sendiri kalian berlaku mesra." Zahra melirik tajam, ke arah Roroy.


Robert meringis saat Zahra menjewer telinganya, lalu jadi tontonan banyak pengunjung mall tersebut. Sampai ke parkiran kendaraan, masih tidak dilepaskan suaminya.


"Zahra jangan galak dong! Aku malu dilihat banyak orang." ujar Robert.


"Makanya, kamu harus punya malu sebelum dilihat." jawab Ahra, dengan ketus.


Sudah puas bulan madu di Islandia, Cinta dan Stifen kembali ke rumah. Mereka berdua istirahat, karena tubuh merasa lelah. Baru saja pulang dari luar negeri, sudah ada panggilan masuk dari Zahra. Dia menyuruh Stifen ke rumah berulang kali.


"Iya sayang, ayo kita pergi sekarang." jawab Cinta.


Stifen dan Cinta masuk ke dalam mobil, lalu kendaraan roda empat melaju. Cinta sudah menggunakan sabuk pengaman, dan tak berselang lama mereka sampai.


"Cinta, Mama sengaja menyuruh kamu ke sini, karena mau minta maaf. Mama sudah memergoki sendiri, kalau Papa mertuamu yang genit." ujar Zahra.


"Iya Ma, tidak apa-apa. Tapi lain kali, Mama harus selidiki sungguh-sungguh. Sembarangan menuduh juga tidak baik." jawab Cinta.

__ADS_1


"Cinta, maafin Papa iya. Lain kali, Papa akan membuang pikiran dunia. Papa akan berusaha bertaubat mulai sekarang." Robert hanya berpura-pura saja.


"Pa, minta maaf juga perlu pembuktian. Kita lihat beberapa bulan ini, apa Papa akan membuat ulah." jawab Stifen.


"Kamu ini, sama Papa sendiri kasar sekali." ujar Robert.


"Ini namanya suami setia menjaga istri." jawabnya dengan wajah bercanda, namun intonasi serius.


Keesokan harinya, Cinta dan Stifen kompak membereskan pekerjaan rumah. Perbincangan ibu-ibu komplek mulai lagi, saat melihat Stifen membawa keranjang baju basah.


"Suaminya rajin sekali membantu cuci pakaian."


"Pasti karena takut sama istrinya."


"Istriku tidak galak, hanya saja inisiatif diri sendiri. Suami yang baik, pasti akan membantu kerepotan di dapur. Dikerjakan bersama, akan lebih cepat selesai." jawab Stifen.


"Benar-benar beruntung istri kamu, karena punya suami paham Sunnah." perempuan paruh baya itu melihat penuh kekaguman.


"Tidak begitu juga, masih jauh dari kata baik." jawab Stifen, sambil menunduk.


"Rendah hati lagi, coba saja suamiku seperti itu." ucap perempuan paruh baya.

__ADS_1


"Syukuri apa yang ada, jangan dibanding-bandingkan lagi." jawab Stifen.


__ADS_2