Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Genit Tukang Pengganggu


__ADS_3

Cinta melihat ke arah lemari, ada sebuah gagang besi. Dia berencana memukul Robert dengan alat tersebut. Nafasnya masih terdengar ngos-ngosan. Robert berteriak lantang di dalam ruang tamu, karena sudah berhasil membuka pintu dengan cara paksa.


Bugh!


Robert yang baru saja masuk ke ruangan pribadinya, langsung terkena sasaran pukulan begitu saja. Namun Cinta tidak menyadari kedatangan Zahra, karena terlalu cemas.


"Cinta, kamu kenapa memukul mertua kamu sendiri." ujar Zahra.


"Papa mau melecehkan aku Ma." jawab Cinta.


"Dia ini perempuan licik, dia tadi memaksa Papa. Papa hindari dengan mendorongnya, dia malah memukul." sahut Robert.


"Tidak seperti itu Ma, Papa pandai berdusta. Dia yang jahat, dia yang memulai semuanya. Mama harus percaya sama aku, bahwa dia telah mengkhianati pernikahan kalian." jelas Cinta.


Zahra menatap tajam ke arah Cinta. "Kamu menantu kurang ajar, berani sekali menggoda Papa mertua sendiri. Seperti ini sifatmu, saat suami tidak ada di rumah."


"Ma, aku tidak mengganggu Papa. Tapi dia yang terus menggodaku, padahal sudah aku hindari." jawab Cinta.

__ADS_1


"Laki-laki tidak akan tergoda, bila perempuan tidak mulai genit duluan. Stifen, kamu ajari istri kamu ini etika." ujar Zahra.


"Astaghfirullah Mama, aku kenal dengan istriku. Dia bukan perempuan sembarangan, yang mau bermesraan dengan pria asing." jawab Stifen.


"Lalu, yang Mama lihat apa?" Zahra berpangku tangan.


"Mama hanya salah paham." Stifen masih berusaha menjelaskan.


"Awalnya Mama ingin berbaikan dengan Cinta. Namun, melihat sikapnya hari ini pada Papa kamu membuat Mama sakit hati." ujar Zahra.


Zahra melengos begitu saja, lalu Stifen berjalan mendekat ke arah papanya. "Pa, tolong jelaskan semuanya. Papa pasti yang berusaha mendekati istriku."


"Papa tidak mau mengakuinya. Jelas-jelas istri kamu itu sengaja menggoda. Mengapa harus berias dengan menor, juga jalan berlenggak-lenggok." Robert pergi begitu saja, sambil sembunyi senyuman penuh kemenangan.


"Sayang, yang Papa kamu ucapkan itu dusta. Tolong kamu percaya sama aku, hiks..." Cinta memegang kedua tangan Stifen, sambil menangis tersedu-sedu.


"Iya sayang, aku percaya kok sama kamu." Stifen melihat air mata Cinta, yang sudah tidak terbendung lagi.

__ADS_1


Sore harinya, Bilqis hendak pulang ke mes. Tidak sengaja dia terpeleset ke tengah jalan, lalu Ade menariknya hingga pinggir jalan. Tiba-tiba mendekatkan wajahnya, dan langsung dihalangi dengan tas boneka. Pipi memerah, namun masih terus ingin maju.


"Akhy, dalam Islam tidak boleh seperti ini." ujar Bilqis.


"Harusnya aku tidak melanggar, maafkan tindakan ini. Aku sungguh malu!" Berlari kocar-kacir, sampai meninggalkan sebelah sepatunya.


Bilqis geleng-geleng kepala. "Dasar laki-laki! Jika ingin memiliki aku, maka nikahi terlebih dulu." Tanpa sadar malah tersenyum. "Ehh... mengapa kamu bilang kalimat seperti ini, seakan mau jadi istrinya."


Bilqis kembali ke mes, setelah lelah bekerja seharian. Fatihah ternyata sudah pulang duluan, karena sakit saat menstruasi mulai kambuh. Jadi, hari ini Bilqis pulang sendirian.


"Fatihah, kamu lagi ngapain?" Bilqis membuka pintu.


"Aku membuat jamu kunyit." jawab Fatihah.


"Aku tadi diberitahu karyawati kantor, kalau kamu sudah pulang." ujar Bilqis.


"Iya, aku sengaja menyampaikannya, biar kamu tidak mencari saat pulang. Nanti kamu kebingungan, karena aku tidak ada." jawab Fatihah.

__ADS_1


__ADS_2