Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Dikambinghitamkan


__ADS_3

Cinta dan Bilqis tersenyum ke arah polisi, yang hendak menangkap Berto. Fatihah mengabaikannya, sampai tidak sadar makan kroket. Tidak terlalu banyak, tapi beberapa bagian kue saja.


"Fatihah, aku tahu kamu trauma. Sekarang tutup mata, jangan sampai melihatnya." Bilqis sibuk mengarahkan telapak tangan, ke arah kelopak mata Fatihah.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Cukup aku tidak mendengar namanya lagi." jawab Fatihah.


"Iya sudah, maafkan kata-kata Ku bila ada yang salah." ujar Bilqis.


"Jangan sungkan, aku tidak apa-apa." jawab Fatihah, dengan santai.


Cinta dan Stifen pergi ke lapangan golf, untuk mencari sesuatu yang menyenangkan. Mungkin dengan berolahraga, akan menyegarkan otak. Sejak kemarin, yang mereka pikirkan bisnis dan bisnis. Memang untuk bertahan hidup, kita harus memiliki penghasilan tetap atau cepat.


"Eh, mengapa kamu sangat antusias ingin ke sini?" tanya Cinta.


"Ini adalah olahraga ternyaman, di seluruh penjuru kota." jawab Stifen.

__ADS_1


Zahra melihat Robert yang baru saja pulang, ntah kemana seharian ini. Membuat kerusuhan saja istrinya tidak tahu, yang dia tahu suaminya kerja di perusahaan Aditama Grup.


"Zahra, aku sekarang sudah menangkap pelaku sesungguhnya. Cinta ini diam-diam mencairkan uang dari bank 99." ujar Robert, yang sengaja melemparkan kesalahan.


"Mengapa dia sangat matrealistis. Sifatnya yang lancang mencuri rekening perusahaan, mana bisa dibiarkan begitu saja." jawab Zahra.


"Tapi bagaimana pun menantu sendiri. Kita tidak boleh melaporkannya ke kantor polisi." ujar Robert, masih menyembunyikan kenyatannya.


"Sebenarnya bukan itu yang aku inginkan. Aku lebih menginginkan perubahan. Meski pun perlahan-lahan, tapi itu lebih baik. Aku ingin keluarga kita harmonis, dengan adanya cucu. Aku tidak mempermasalahkan masa lalu Cinta, yang terpenting dia mau berubah. Namun sudah aku siram air, dia masih tidak mau mengakui kesalahannya." jawab Zahra, yang tampak kecewa.


"Sayang, apa pun yang terjadi, aku ingin tetap mempertahankan pernikahan kita." ujar Stifen.


"Iya sayang, aku juga tidak ingin bercerai. Sungguh ini sangat romantis sekali, semoga tidak lekas memudar dimakan usia." jawab Cinta, sedikit berharap.


"Sayang, aku ingin tetap menjagamu dan juga mencintaimu." Stifen menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Iya sayang, itu juga yang aku inginkan." jawab Cinta.


Nurma melihat Berto yang terengah-engah, karena baru lari dari kejaran polisi. Nurma diam saja, tidak mengambilkan air untuknya.


"Apa kamu tidak melihat, bahwa suamimu ini baru pulang. Coba letakkan makanan di atas meja, biar aku tidak lapar lagi." keluh Berto.


"Aku rasa, aku tidak punya kewajiban untuk itu. Kamu mengabaikan aku saja, rasanya sudah sangat sakit." jelas Nurma.


"Istri macam apa kamu, sudah berani melawan sekarang." bentak Berto.


"Suruh saja selingkuhan muda kamu, untuk melakukannya. Aku mau tidur di kamar, tubuhku ingin istirahat. Satu hal lagi, kamu masih punya kaki dan tangan." Nurma melengos begitu saja, melangkahkan kaki menapaki tangga.


Asha pesta minuman keras di rumahnya, sudah mengundang banyak teman sosialitanya. Mereka semua senang karena disuguhkan makanan enak.


"Lain kali, jangan hanya pizza dan sushi. Tambah lagi yang lebih lezat, ada daging dengan bumbu rempah pilihan." ujar seorang perempuan paruh baya, yang berdandan paling menor.

__ADS_1


"Tenang saja, lain kali beserta ikan jumbo aku siapkan untuk kalian." Asha tersenyum, menoleh ke semua orang.


__ADS_2