
Tiba-tiba saja, ponsel Stifen berbunyi. Padahal lagi asyik-asyiknya bermesraan dengan Cinta. Stifen segera membalas pesan dari Bilqis. Tidak butuh waktu lama, sudah sampai ke rumahnya.
Cinta dan Stifen melanjutkan perjalanan, hingga mendekat ke arah bukit. Stifen turun dari mobil, lalu membeli jagung di orang yang berjualan. Stifen berbicara bahasa Inggris dengan pasih, sampai Cinta menatap suaminya penuh kekaguman.
"Sayang, kamu bicara apa tadi?" tanya Cinta.
"Aku bilang mau beli jagungnya sepuluh biji." jawab Stifen.
"Oh gitu, kirain bicara apa sayang." ujar Cinta, dengan suara yang lembut.
"Tidak bicara basa-basi sayang, ayo kita pergi sekarang! Aku akan membuat api unggun, lalu membakar jagung berdua." Stifen senyum-senyum ke arah istrinya.
Fatihah dan Bilqis sudah sampai ke sebuah rumah. Bilqis melihat ibunya yang bernama Norah, sedang sibuk mengompres sakit demam adiknya.
"Bu, dia sakit apa?" tanya Bilqis.
__ADS_1
"Tidak tahu pasti Bilqis, yang jelas panasnya tidak turun juga." jawab Norah.
"Kita bawa ke puskesmas terdekat saja Bu." tawar Bilqis.
"Iya Bilqis, karena sudah empat hari seperti ini." jawab Norah.
Stifen dan Cinta membakar jagung bersama, dan mengibas dengan kipas saat sudah masak. Stifen dan Cinta memasukkannya ke dalam mangkuk, agar lebih mudah saat memakannya. Lagipula masih panas, biar suhunya berkurang.
"Sayang, ini enak dicampur dengan kecap." ujar Cinta.
"Asal makannya sama kamu, pasti rasanya enak. Suasana adalah hal yang utama, meski masakannya sederhana." Stifen menunjuk bintang yang bersinar di angkasa. "Sayang, Ibu tiri kamu sepertinya tidak memperlakukan kamu dengan baik. Di balik sifat diam di kantor, kamu sedang memikirkan sesuatu hal besar." ujar Stifen.
"Jangan salah paham, aku tidak perlu mengikuti detail pun sudah tampak jelas. Aku bisa tahu dengan sendirinya, namun kamu bersikeras menyembunyikan. Sungguh tidak adil, bila tekanan besar ditanggung oleh pundak Cinta Nakila." ucap Stifen.
"Biarlah sayang, dunia sementara juga. Kendaraan terakhir keranda, rumah terakhir tanah lalu dikubur. Pada saatnya, semua manusia juga akan menghadap Allah." Cinta malas membahasnya, sudah merasa lelah.
__ADS_1
"Sekarang, aku yang akan membahagiakan kamu. Maka, hiduplah dengan baik mulai hari ini. Hari-hari selanjutnya, kamu tidak boleh menangis lagi."
"InsyaAllah selama kamu ada, aku akan tetap tersenyum. Kamu adalah sistem pendukung terbesar, sekaligus penggerak mood paling berpengaruh." puji Cinta.
"Giliran kamu lagi merayuku, sungguh peniru paling handal." Stifen geleng-geleng kepala, gemas melihat pipi Cinta.
"Sayang, kamu hobi sekali menguyel-uyel aku." Cinta mengusap pipinya yang berwarna merah.
Zahra melihat Robert yang baru saja pulang, lalu membantunya melepaskan dasi. Zahra melihat baju kemeja Robert ada bekas merah.
"Papa, bekas lipstik siapa ini?" Zahra melihatnya dengan detail.
"Haduh Ma, tentu bukan kelakuan Papa. Ini tadi teman kerja di kantor, usil sekali mengelap ke baju Papa." alibi Robert.
"Pa, tapi bentuknya seperti bukan colekan jari. Namun, seperti bentuk sebuah bibir menempel." Zahra menebak tepat sasaran.
__ADS_1
"Sudahlah Ma, Papa capek. Jangan mengajak berdebat iya, Papa mau istirahat." jawab Robert.
Zahra segera menumpuk baju kotor Robert di keranjang khusus. Besok dia akan mencucinya, bila sudah bertumpuk lumayan banyak. Zahra menghampiri Robert kembali, lalu melihat mata suaminya.