Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Mertua Genit


__ADS_3

Keesokan harinya, Robert menghampiri Cinta. Dengan genitnya dia mengedipkan mata.


"Hai Cinta!" sapa Robert.


"Ada apa Pa." jawabnya.


"Tidak ada apa-apa, cuma ingin berduaan sama kamu." ujar Robert.


"Lebih baik Papa pergi, tidak usah ganggu aku." Cinta mengusirnya.


Cinta masih berusaha tenang, karena dia juga sedang menyiram tanaman. Bunga-bunga mawar kesukaan Zahra, tumbuh bermekaran di sana. Robert berjalan mendekat, lalu Cinta segera berlari.


"Cinta sini kamu, jangan coba menghindar." Robert berteriak.


"Papa hentikan, jangan usik hidupku." jawab Cinta.


"Inilah resiko, karena kamu menikah dengan Stifen." ujar Robert.


"Papa ini bukan salahku, kami berdua memang sudah direncanakan untuk bersama." jawab Cinta.


Robert terus mempercepat langkah kakinya, dan Cinta berlari mengitari kolam renang. Robert tidak mau berhenti, bertekad untuk terus mengejarnya.


"Kamu dengar iya Cinta, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu." Robert tersenyum jahat.


"Papa, aku sekarang anak menantu mu. Tolong hentikan, bersikap seperti ini." Cinta tidak sengaja terpeleset.


Byur!

__ADS_1


Tubuhnya jatuh ke dalam kolam renang, bersamaan dengan itu Zahra muncul. Robert segera bersembunyi, karena takut ketahuan.


"Tolong!" Cinta berteriak.


Zahra hendak meraih tangannya, namun Cinta sudah tenggelam duluan. Zahra benar-benar panik, dan berteriak meminta tolong. Bibi Teiya segera menghampiri kolam renang, membantu Cinta naik ke atas permukaan. Zahra membantu menekan dada Cinta, agar air keluar dari dalam tubuhnya.


"Uhuk... uhuk..." Cinta terbatuk-batuk.


"Cinta, kamu sudah sadar." ujar Zahra.


"Iya Ma, sekarang jauh lebih baik." jawab Cinta.


"Syukurlah, Mama lega mendengarnya." ucap Zahra.


"Iya Ma." jawab Cinta.


"Apa yang terjadi, kenapa wajah Cinta terlihat pucat?" tanya Robert.


"Dia tadi jatuh di kolam renang." jawab Zahra.


"Haduh anak menantuku, kenapa kamu tidak hati-hati." Robert pura-pura tidak tahu.


"Dia tidak sengaja Pa, jangan menyalahkannya. Manusia tidak pernah tahu, kapan dia akan terkena musibah." Zahra yang menjawab.


”Padahal waktu aku terjatuh, ada Papa didekat ku. Dia hanya pura-pura tidak tahu saja.” batin Cinta.


Pada malam harinya, Stifen sudah pulang ke rumah. Dia segera memasuki kamarnya, untuk melihat keadaan Cinta.

__ADS_1


"Sayang, kata Mama kamu tadi jatuh ke kolam iya?" tanya Stifen, dengan panik.


"Iya sayang, tapi tidak apa kok." jawab Cinta.


"Aku khawatir sayang saat pertama kali mendengarnya." ucap Stifen.


"Besok aku akan lebih teliti lagi." jawab Cinta.


Tok! Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu kamar, lalu Stifen mempersilahkan Robert masuk ke dalam. Tiba-tiba Robert masuk ke dalam kamar, membawa makanan untuk Cinta. Stifen merasa biasa saja, karena mengira Robert hanya menganggap menantu.


"Cinta, kamu makan dulu iya. Papa sudah buatkan ini, spesial buat kamu." ucap Robert.


"Iya." jawab Cinta cuek.


Robert pergi meninggalkan ruangan itu, lalu setelahnya Stifen menyuapi makanan untuk Cinta.


"Sayang, aku lihat kamu sedang banyak tekanan." ujar Stifen.


"Tidak kok sayang, aku biasa saja." jawabnya.


Stifen dan Cinta saling menyuapi makanan, ke mulut masing-masing. Lalu setelah itu, Stifen meletakkan piring di atas nakas.


"Aku mau membaca buku dulu iya." ujar Stifen.


"Iya sayang, silakan. Aku juga nanti mau tidur." jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2