
Asha melihat rekeningnya ditransfer uang yang banyak dari Robert. Dia tertawa kuat, sampai membuat tetangga terkejut. Padahal sedang asyik-asyiknya bermain ayunan.
"Eh, mengapa dia agak aneh?" tanya anak perempuan rambut kuncir dua.
"Tidak tahu, di emperan pun tertawa sendiri." jawab orang di sebelahnya.
"Itu terjadi sejak anak gadisnya menikah dengan orang kaya."
"Biasa, dia 'kan suka pamer." Menoleh ke arah lawan bicara.
Cinta menunggu kedatangan Fatihah dan Bilqis. Dia sudah memasak banyak makanan, agar keduanya senang. Tidak butuh waktu lama, ternyata benar mereka datang.
"Cinta, kami rindu." Fatihah dan Bilqis memeluknya secara bersamaan.
"Iya, aku juga rindu kalian berdua." jawab Bilqis.
"Ayo masuk ke dalam." tawar Cinta.
"Iya Cinta, kita makan." Fatihah bersemangat sekali, sampai menampilkan deretan giginya saat tersenyum ceria.
Sampai di meja makan, mereka membaca doa bersama. Bilqis tidak berkedip, menatap lauk enak yang disajikan.
"Ya Allah, sahabatku beruntung sekali diberikan rezeki suami kaya. Mana soleh lagi, membuat kami iri saja." Bilqis sampai menepuk-nepuk pundak Cinta.
__ADS_1
"Bilqis, aku doakan juga supaya kamu segera bertemu jodoh." Cinta tersenyum, seraya menyentuh tangan Bilqis.
"Doa untukku mana?" canda Fatihah.
"Semoga kamu juga." jawab Cinta.
"Aamiin." Fatihah dan Bilqis berbicara serentak, tersenyum saling pandang.
Ketika memasukkan makanan ke mulut, mereka sengaja diam untuk menghayati makanan. Fatihah dan Bilqis bersyukur atas rezeki hari ini. Jarang sekali, mereka bisa makan buah-buahan. Cinta meraih gelas di atas meja, setelah makan beberapa sendok.
"Kalian makan saja yang puas, jangan merasa sungkan." ujar Cinta.
"Tidak akan sungkan, kita bersahabat sangat lama." jawab Bilqis.
"Aku tetap ingin, meminta kupas buah mangga. Bilqis, kamu pasti sangat bersedia." ujar Fatihah.
"Hmmm... ini enak sekali. Warna kulitnya saja terlihat sangat ranum" ujar Bilqis.
"Cepat kupas, jangan banyak bicara lagi." pinta Fatihah dengan manja.
"Hahah... kalian lucu sekali." Cinta tergelak tawa.
Setelah selesai makan, Cinta melihat Bilqis dan Fatihah beranjak dari kursi duduk. Mereka berpamitan dengan Cinta untuk pulang. Masih ada urusan lain, yang akan dilakukan oleh mereka.
__ADS_1
"Eh ..., aku ingin mengunjungi rumah Ibu. Temani aku yuk!" ajak Bilqis.
"Mau ngapain?" tanya Fatihah.
"Biasa, mau kasih uang bulanan untuk Ibu dan Adik. Kamu tahu 'kan, dari dulu aku dibesarkan dengan uang yang tak sedikit." Bilqis ingat biaya sekolahnya dulu.
"Iya sudah, ayo kita pergi." jawab Fatihah.
Fatihah dan Bilqis pergi menggunakan mobil taksi, karena rumah Cinta lumayan jauh dari desa. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai. Mengucapkan salam terlebih dulu, lalu dijawab dengan orang yang ada di dalam rumah.
"Ibu, aku membawakan oleh-oleh." ujar Bilqis.
"Tidak perlu repot-repot, kamu kembali saja sudah senang." jawabnya, dengan raut wajah sumringah.
"Iya Ibu, ayo Fatihah masuk." ucap Bilqis, seraya menoleh ke arah temannya.
"Iya Bilqis." jawab Fatihah.
Robert melihat kalung emas di toko perhiasan. Dia berencana memberikannya pada Cinta, agar dipakai setiap hari.
”Cinta, Cinta, kamu terlihat cantik sekali. Apalagi dengan kalung yang berkilauan ini.” batin Robert.
Setelah merasa puas, baru Robert pulang ke rumah. Zahra melihat Robert senyum-senyum sendiri, sambil menatap kalung emas.
__ADS_1
"Haduh, Papa romantis sekali. Pasti mau beri kejutan untuk Mama." ujar Zahra.
"Eh, Iya Ma." Robert hanya nyengir, menutupi niat hati sesungguhnya.