
Cinta muncul lalu tertawa mengerikan, menampakkan giginya yang bertaring. Baju yang dikenakan berlumuran darah, dengan raut wajah yang pucat.
"Papa, tolong tanggungjawab padaku." Cinta mengarahkan telapak tangan ke arah Robert.
"Sana pergi, jangan mendekati aku." Robert berteriak.
Cinta mencekik Robert, hingga kesulitan bernafas. Robert ingin mendorongnya, namun kesulitan untuk melawan Cinta. Tenaganya begitu kuat, hingga Robert hanya mampu menggelengkan kepala.
Zahra melihat Robert, yang terbaring di atas kursi sofa. "Cepat bangun Pa!"
Robert terbangun dari tidurnya. "Mama, Papa takut. Tolongin Papa Ma, Cinta jadi hantu."
"Hahah... Papa ini lucu sekali. Dia itu menantu paling manis, mana mungkin menyeramkan."
Robert celingak-celinguk, dengan tangan panas dingin. Bayangan Cinta menghantui kepalanya setiap saat.
Tiga bulan kemudian.
"Stifen, Papa kamu akhir-akhir ini aneh, banyak melamun dan berteriak histeris." ujar Zahra.
"Papa perlu diajak berobat." jawab Stifen.
__ADS_1
"Iya sudah, kita coba pengobatan medis terlebih dulu." ucap Zahra.
"Iya Ma, mana baiknya lakukan saja." Stifen menuruti saran dari Zahra.
Stifen pergi ke acara pernikahan Ade dan Bilqis, lalu berniat sekalian ke psikiater. Berencana menanyakan keluhan Robert, yang semakin hari tambah menjadi-jadi.
"Bilqis, akhirnya kita sudah sah menjadi suami istri.", ucap Ade.
"Iya, ini karena keberanian kamu untuk melamar ke rumah." jawab Bilqis.
Fatihah datang untuk mengucapkan selamat. Wajahnya tampak berseri-seri, namun di sisi lain memikirkan Cinta. Sudah tiga bulan menghilang, masih belum ada kabarnya juga.
"Bagaimana Fatihah, kamu lancar ta'aruf?" tanya Bilqis.
Stifen baru saja usai menikmati hidangan, lalu mengucapkan selamat pada Ade dan Bilqis. Stifen segera pergi, untuk membawa papanya berobat.
"Dok, Papa saya sering melihat hantu istriku." ujar Stifen.
"Tidak, manusia yang sudah meninggal berbeda alam dengan kita. Kalau pun bisa muncul bayangan orang tersebut, mungkin saja karena merasa bersalah." jawab seorang psikiater muda.
"Istriku hanya menghilang, dia tidak mati." ucap Stifen.
__ADS_1
"Dok, ini bukan bayangan tapi realita." Robert ngotot.
"Bapak mohon tenang iya, tidak sedikit orang yang mengalami gejala seperti ini." jawabnya.
Sementara di sisi lain, ada Asha yang asyik menonton televisi. Dia melihat kucing yang menendang toples, hingga jatuh ke lantai. Asha mengambil makanan, lalu melihat ke kolong meja. Muncul bayangan wajah Cinta, yang tersenyum sangat mengerikan.
"Bu, mengapa Engkau begitu kejam. Mengapa memberikan kunci rumah pada Papa Robert. Selama ini aku kurang apa, uang pun aku beri padamu. Ayo ikut mati bersamaku, biar lebih adil." Suara menggema tersebut, terasa menggerogoti telinga Asha.
Asha melemparkan bantal guling, bahkan remote hingga membentur dinding. "Ibu mohon Cinta, tolong maafkan kesalahan kami. Jangan bunuh kami, dengan membalas dendam." Berteriak histeris.
Dalam perjalanan pulang, Robert sibuk menunjuk jalanan. Robert terus berteriak, bahwa Cinta menjadi hantu. Robert memaksa Stifen menghentikan kemudinya, dia ingin segera turun dari mobil. Tidak tahan mendengar suara tawa Cinta, seakan ingin menuntut balas.
"Tolong! Tolong!" Robert berteriak histeris, saat melihat batang pohon.
Orang-orang gaduh, melihat Robert berlari ke rel kereta. Robert tiba-tiba merasa pusing, melihat Cinta ada di mana-mana. Stifen cemas tatkala klakson kereta berbunyi, lalu menabrak papanya.
"Papa, jangan tinggalin aku." Stifen berteriak, sambil berlari.
Bersamaan dengan itu, Asha muncul. Tangannya diborgol, dengan didampingi dua orang polisi. Asha menyesali perbuatannya, lalu bertekuk lutut pada Stifen.
"Maafin Ibu Stifen, sebenarnya Cinta sudah meninggal. Dia dikubur pada lantai gudang, usai dipaksa Papa kamu berbuat macam-macam. Ibu minta maaf, karena telah membantu Papa kamu menjalankan aksinya."
__ADS_1
"Mengapa kalian begitu tega, pada perempuan sebaik istriku." Stifen terkejut, ada ruang di hati yang mendadak hampa.
Stifen berlari untuk segera memeriksa tempat, yang menjadi istirahat terakhir istrinya. Hujan turun bersamaan dengan langkah Stifen yang menangis, meratapi takdir tragis istrinya.