Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Rumah Sakit


__ADS_3

"Assalamualaikum!" ucap Zahra.


"Waalaikumus'salam." jawab Stifen.


"Papa masuk rumah sakit, paru-parunya terasa sakit. Cepat kamu ke sini, kalau masih menganggapnya orangtua." Zahra ingin Stifen datang.


"Baiklah, aku akan menjenguknya." jawab Stifen patuh.


Di rumah sakit, Robert dibawa ke ruangan. Setelah kondisinya diperiksa, ternyata dia baik-baik saja.


"Papa ngapain memandang cincin terus?" tanya Zahra.


"Kalung batu aki ini sedang populer, dipercaya banyak orang sebagai pelindung."


"Hus, itu namanya syirik Papa. Tidak baik menyekutukan Allah Swt." ujar Zahra.


"Mengapa Mama malah jadi seperti Stifen, suka sekali menceramahi Papa. Dengar iya Ma, dia itu anak durhaka. Lihat, pergi bersama Cinta menantu kurang ajar itu." Robert menoleh ke arah jendela kaca rumah sakit.


"Sabar Papa, ada masanya kita berproses membuat mereka bertaubat." Zahra tersenyum ke arah Robert.

__ADS_1


"Baiklah, karena Papa suami yang setia maka Papa akan menemani Mama menunggu waktu itu tiba." Robert menggenggam tangan Zahra.


"Ini baru keputusan bijak." Zahra menepuk pundaknya.


Stifen dan Cinta masuk ke dalam ruangan, setelah mengucapkan salam. Robert mencari cara agar Zahra pulang ke rumah, agar bisa berduaan dengan menantunya.


"Stifen, nanti sore antar Mama kamu iya. Papa ingin ditemani dengan Cinta." ujar Robert.


"Iya Papa, aku akan mengantarnya." jawab Stifen.


"Suamiku, aku punya satu permintaan." ujar Cinta.


"Hmmm... aku ingin Fatihah dan Bilqis ke sini. Pokoknya, mereka akan menjadi temanku."


"Cinta, kamu terlalu tidak sopan. Ada mereka berdua, membuat Papa tidak leluasa berbicara denganmu." jawab Robert.


"Papa, aku sudah ikhlas sekali menemani Papa di sini. Hanya satu persyaratan itu, apakah begitu berat." Cinta menunduk, dengan raut wajah lesu.


"Sudahlah, ada kedua sahabatnya lebih baik. Nanti kalau Cinta berbuat macam-macam, malah ada saksi Papa." Zahra tersenyum.

__ADS_1


"Mama mertua sungguh baik, aku pasti menjaga Papa dengan tulus." Cinta memeluk Zahra.


Zahra mengusap kepala Cinta. "Kamu jangan berbuat seperti kemarin lagi, itu sungguh keterlaluan. Sejak awal kamu masuk rumah kami, Mama sangat menyukaimu. Jadi tolong, kamu tinggalkan kebiasaan buruk yang lama. Kalau ada masa lalu yang kelam, kamu tinggalkan saja dan berubah mulai sekarang."


Cinta bingung dengan ucapan Mama mertuanya. "Aku tidak mengerti, dengan apa yang Mama katakan."


”Kenapa kamu tidak mau mengakuinya, apa tidak kasian dengan Stifen yang tulus padamu. Dia pasti kecewa, karena tidak mengetahui yang sesungguhnya.” batin Zahra.


Di dalam mobil perjalanan pulang, Zahra mencoba mengajak berbicara. Dia memberanikan diri, untuk membahas yang tidak seharusnya.


"Mama tanya, apa waktu malam pertama ada bercak darah di seprei?" tanyanya secara spontan.


"Hah? Mama mengapa sangat gamblang?" Stifen jadi malu sendiri, karena tidak ada kata maaf pada kalimat awal. Stifen agak canggung, dengan Zahra yang melontarkan pertanyaan rumahtangganya.


"Jawab saja, Mama ingin tahu. Sebenarnya bukan ingin ikut campur, tapi Mama ingin memastikan apa dia perempuan baik-baik."


Stifen mengangguk sambil tersenyum. "Iya Ma, dia masih suci kok. Aku dapat melihat reaksi lucunya, dan itu menjadi kebahagiaan yang tidak aku lupakan. Aku bersyukur dapat memilikinya, dia benar-benar menjaga diri." jelasnya.


Fatihah dan Bilqis melihat ke arah Robert dengan kesal. "Hei mertua genit, jangan berani berbuat macam-macam pada sahabatku." ancam keduanya serentak.

__ADS_1


__ADS_2