
Keesokan paginya, undangan pernikahan sudah tersebar. Para karyawan dan karyawati Aditama Grup menjadi heboh.
"Tidak menyangka iya, kalau Pak Stifen bakalan jadian sama Cinta." ujarnya.
"Apa selama ini, mereka pacaran di dalam kantor." berbisik.
"Belum tentu juga, kelihatannya jauh-jauhan." ucapnya.
"Bisa jadi tidak diperlihatkan." jawabnya.
Suara riuh terdengar di kantor, dapat terdengar di telinga Cinta. Terserah mereka mau berpendapat apa, karena Cinta tidak berpacaran dengan Stifen.
"Pagi Ibu Bos!" sapa seorang perempuan muda.
"Pagi! Tapi, aku bukan Bu bos kalian." jawab Cinta.
"Ah Ibu bos, selalu merendah saja." ujarnya.
"Aku tidak merendah, memang kenyataannya bukan Bu bos." Cinta tersenyum.
Beberapa hari kemudian, acara pernikahan dilaksanakan. Pak penghulu mengucapkan kalimat ijab qobul, diikuti oleh pihak mempelai. Lalu setelah itu, membaca doa pernikahan. Para tamu undang makan jamuan yang telah dihidangkan.
"Sayang, akhirnya kita sudah sah." ucap Stifen.
__ADS_1
"Iya sayang, alhamdulillah." jawab Cinta.
Selesai ijab qobul selesai, Cinta membereskan barang-barangnya di mes. Stifen juga membantu membawanya, hingga sampai ke dalam rumah.
"Sayang, ana uhibbuka fillah." ungkap Stifen.
"Ana uhibbuki fillah." jawab Cinta.
"Stifen, kamu mengajak Cinta tinggal di sini?" tanya Robert, dengan raut wajah sumringah.
"Iya Pa, karena dia sudah menjadi istriku." jawab Cinta.
Cinta segera masuk ke dalam kamarnya, bersamaan dengan Stifen juga. Asha ternyata ada di dalam, bersama dengan Zahra.
"Iya Ma, terima kasih telah melakukan ini semua." jawab Stifen.
"Mulai sekarang, panggil aku Ibu." Asha memandang dengan berbinar-binar.
"Iya Bu." jawabnya.
Zahra menyenggol lengan Asha, mengajaknya keluar dari kamar. Mereka sibuk sendiri, mengerjakan hal yang seharusnya. Ntah sekedar beres-beres, atau sibuk yang lainnya. Mereka tidak ingin mengganggu Stifen dan Cinta, yang sedang perlu waktu berdua.
"Sayang, apa aku boleh minta satu hal." ucap Cinta.
__ADS_1
"Minta apa sayang, aku akan mengabulkannya bila sanggup." jawab Stifen.
"Aku tidak ingin, tinggal di rumah ini. Aku ingin kita tinggal terpisah, dengan kedua orangtua kamu." Cinta mengingat Robert, yang terobsesi padanya.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Namun, tidak bisa diurus dengan secepatnya." jawab Stifen.
Cinta menganggukan kepalanya, pertanda setuju dengan usulan ide Stifen. Mereka mengambil handuk masing-masing, lalu menuju ke kamar mandi.
Pada malam harinya, Cinta dan Stifen mengaji bersama. Melantunkan ayat suci dengan penuh penghayatan, hingga sampai diakhir ayat. Cinta dan Stifen telah belajar mengaji bersama, lalu berganti dengan rutinitas selanjutnya. Mereka salat isya berjamaah, dan diakhiri dengan berdoa bersama.
"Sayang, besok aku pergi kerja sama kamu." ucap Cinta.
"Tidak sayang, kamu tidak boleh kerja lagi." jawab Stifen.
"Jangan karena aku menyandang status istri, lalu kamu mengkhawatirkan aku bekerja di luar." ucap Cinta.
"Bukan karena itu sayang, tapi aku ingin kamu istirahat di rumah." jawab Stifen.
Cinta menurut saja, apa yang Stifen ucapkan. Dia malas untuk berdebat, karena perbedaan pendapat sepele. Tapi terus terang dengan batin sendiri, Cinta takut berada di rumah. Dia tidak siap, menghadapi Robert yang genit. Ada rasa malas, yang seolah berteriak di sanubari.
"Sekarang, ayo kita melakukan yang seharusnya." ajak Stifen.
"Iya sayang." jawab Cinta.
__ADS_1
Mereka berdua merebahkan tubuh masing-masing, di atas ranjang tidur. Stifen dan Cinta membaca doa bersamaan, sebelum bermesraan ke tingkat yang lebih jauh.