
Setelah cukup lama bermain di mes, Stifen berpamitan untuk pulang. Cinta, Bilqis, dan Fatihah, membuka bungkus makanan.
"Hmmm.... membuat kami terharu. Ternyata makanan kesukaan kamu." Bilqis mengedipkan matanya ke arah Cinta.
Cinta terlihat salah tingkah, pipinya bersemu merah. Fatihah tersenyum-senyum, sambil menggoda si Cinta.
"Cie Stifen, cie kamu suka iya." ujar Fatihah.
"Apaan sih Fatihah, dia sudah punya tunangan." Cinta menjawab dengan malu-malu.
Robert baru saja datang, segera menghampiri mereka. Robert berkacak pinggang, lalu bertepuk tangan.
Plok! Plok! Plok!
"Hai Cinta, sampai jumpa kembali. Aku mau minta duit, yang sudah Ibu kamu ambil." ujar Robert.
"Aku tidak ada uang tuan." jawab Cinta.
"Itu urusan kamu, bukan urusanku. Aku hanya minta ganti, uang kerugian yang sudah aku keluarkan." ucap Robert.
"Om tenang saja, Cinta pasti akan mengganti uangnya." jawab Fatihah.
"Eh anak kecil, kamu tidak tahu apa-apa. Jangan ikut campur, dengan urusan kami." ujar Robert.
"Meski kami tidak tahu apa-apa, tapi kami akan tetap membela sahabat kami." jawab Bilqis.
"Dasar suka mencampuri urusan orang lain." ucap Robert.
__ADS_1
"Biarin, kami tahu cinta tidak bersalah." jawab Bilqis.
Bilqis dan Fatihah segera pergi, meninggalkan Robert sendirian. Tentu saja menarik tangan Cinta, agar segera masuk ke dalam.
"Jengkel sekali lihat Om tua genit itu." gerutu Bilqis.
"Tua-tua keladi itu namanya, dia tidak ingat umur." tambah Fatihah.
"Aku juga heran, kenapa dia harus tertarik sama aku." jawab Cinta.
"Karena kamu cantik Cintaku sayang." ujar Fatihah.
"Tapi, aku tidak mau sama tuan Robert itu." jawab Cinta.
"Tidak akan, kami akan membantu kamu bebas darinya." ujar Bilqis.
"Woy dengar iya, kalian harus menggantinya dalam waktu sebulan ini. Empat puluh juta, harus dibayar tunai." teriak Robert dari luar.
Robert segera pergi meninggalkan rumah itu, sambil tertawa kecil. Dia merasa puas karena berhasil, membuat mereka kebingungan.
"Iya juga, sembilan juta dikurang lima tinggal empat. Terus bagaimana ini, uangnya masih kurang." ujar Bilqis.
"Iya juga, kita harus mencari pinjaman." jawab Fatihah.
"Jangan, nanti kita susah bayarnya. Aku akan cari cara lain, dengan salat malam. Semoga Allah memberi petunjuk, untuk setiap kesulitan yang menimpa diriku." tutur Cinta.
"Aamiin." jawab Bilqis.
__ADS_1
"Aamiin Cinta, kamu yang semangat." timpal Fatihah.
"Iya Fatihah, Bilqis, terimakasih." ucap Cinta terharu.
"Iya, kita saling mendukung saja." jawab Fatihah.
Stifen pulang ke rumahnya, sambil senyum-senyum sendiri. Zahra menatap Stifen dengan heran.
"Kamu kenapa?" tanya Zahra.
"Ma, aku suka sama seseorang." jawab Stifen.
"Mama setuju, kamu memang sudah harusnya menikah. Mama ingin mempunyai cucu Stifen." ujar Zahra.
"Belum juga dilamar Ma, sudah bahas cucu." jawab Stifen tersenyum.
"Siapa nama perempuan itu?" tanya Zahra.
"Namanya Cinta Nakila Ma, dia kerja di pabrik sawit kita. Hanya saja dia dibagian pabrik, menjadi sekretaris ku." jawab Stifen.
"Ayo Stifen, kamu harus ta'aruf sama dia. Jangan lupa ajak Mama, untuk segera melamarnya." ujar Zahra.
"Mama jangan buru-buru, Stifen juga baru kenal." jawab Stifen.
"Lebih cepat, lebih baik." ucap Zahra.
"Iya Ma, tapi tenang saja. Jodoh juga tidak akan kemana." jawab Stifen.
__ADS_1