
Stifen mengetahui tentang Robert, namun Stifen tetap menyembunyikan dari Zahra.
"Aku takut, bila Mama tidak akan mengizinkan aku menikahi Cinta. Pokoknya aku harus terus mengingatkan Papa, supaya dia sadar dari jalan yang salah." monolog Stifen.
Keesokan harinya, Stifen pergi ke perusahaan Aditama Grup. Cinta sudah berada di ruangan, sebelum Stifen datang.
”Hmmm.... gosip yang beredar Ibu sedang pamer, kalung emas pada tetangga. Sungguh tidak enak, menjadi omongan banyak orang.” batin Cinta.
Stifen menghampiri Cinta, dan duduk di kursi yang ada di depannya.
"Cinta, nanti makan siang bersama iya." ujar Stifen.
"Jika ada Fatihah dan Bilqis, mungkin bisa." jawab Cinta.
"Baiklah, mereka pasti akan ikut. Aku juga tidak mau, bila hanya kita berdua." ucap Stifen.
"Iya Pak." jawab Cinta.
Stifen menundukkan pandangannya, tidak ingin melihat Cinta lebih lama. Stifen segera beranjak dari duduknya, lalu kembali ke tempat kerjanya sendiri.
"Cinta, kamu bisa tolong aku sebentar tidak." pinta Stifen.
"Iya Pak." jawab Cinta.
Cinta berjalan mendekat, sambil terus menunduk. Ada rasa grogi, bila didekat Stifen. Mungkin, dia juga diam-diam mencintai.
"Cinta, jangan panggil aku Bapak lagi iya." ujar Stifen.
"Tapi, ini 'kan di kantor." jawab Cinta.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan menikah." ujar Stifen.
"Besok saja, bila sudah sah. Aku akan mengganti nama panggilannya." jawab Cinta.
”Cinta, kamu cantik sekali. Kamu juga gadis yang baik banget. Pokoknya, aku harus menjadikan kamu istriku.” batin Stifen.
"Pak, apa yang mau dikerjakan, kok diam saja?" tanya Cinta bingung.
"Oh iya, maaf Cinta. Aku sedang memikirkan sesuatu." jawab Stifen.
Stifen mengambil kertas yang ada dalam lemari. Terlihat bertumpuk dan belum juga tersusun.
"Cinta, ini untuk kamu." Stifen memberikan berkasnya pada Cinta.
Cinta menerima berkas yang diberikan Stifen. "Iya Pak, aku akan segera menyusunnya."
Cinta segera kembali ke tempat duduknya. Stifen tersenyum, memandang Cinta dari kejauhan. Nanti siang, Stifen berencana akan traktir makanan untuk Cinta, Fatihah, dan Bilqis.
"Cinta, ayo makan." ajak Stifen.
"Iya Pak." jawab Cinta.
Cinta dan Stifen keluar dari ruangan mereka, terlihat Fatihah dan Bilqis menghampiri. Stifen menawarkan Fatihah dan Bilqis, untuk ditraktir makanan di kantin.
"Calon suami Cinta baik banget iya." bisik Fatihah.
"Iya, dia traktir makanan untuk kita. Hitung-hitung kita menghemat biaya pengeluaran." jawab Bilqis bercanda.
"Heheh.... kamu suka menghitung juga." Fatihah terkekeh.
__ADS_1
"Iya dong, Bilqis gitu dong." jawab Bilqis.
"Bilqis!" sapa Ade.
Bilqis menoleh ke belakang "Ada apa sih?"
"Makan siang bersama yuk." ajak Ade.
"Sekalian sama Pak Stifen, Fatihah, dan Cinta juga." ujar Bilqis.
"Iya boleh." jawab Ade.
Ade merasa setuju, lalu mereka melangkahkan kaki ke kantin. Mereka makan lauk dan pauk dengan khidmat. Sebelumnya, mereka membaca doa terlebih dulu.
"Bilqis, nanti malam ada acara tidak?" tanya Ade.
"Tidak ada." jawab Bilqis cuek.
"Ikut aku pergi." ajak Ade.
"Aku tidak mau, aku sibuk." jawab Bilqis.
"Aku tetap ingin kamu ikut." ujar Ade memaksa.
"Aku tidak mau." jawab Bilqis.
"Sudah, daripada kalian berdebat lebih baik makan." ujar Stifen.
"Kami tetap mau berdebat, ini adalah keseruan dalam cinta." jawab Ade.
__ADS_1
Bilqis merasa ilfeel mendengarnya.