Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Roroy Menggoda Robert


__ADS_3

Cinta dan Stifen membuka tirai jendela bersamaan, bersyukur masih bisa menghirup udara segar hari itu.


"Sayang, menurutku kehidupan setelah kematian itu seram. Kadang, aku sering memikirkan ada di sana." ucap Stifen.


"Jalani hari ini dengan sebaik-baiknya, karena manusia tidak tahu kapan akan mati." jawab Cinta, dengan kepala menunduk.


"Iya sayang, nanti di hari hisab akan ditanya satu persatu. Apakah uang yang banyak ada disedekahkan. Bahkan waktu kita ini saja ditanya, anggota tubuh kita digunakan untuk apa." ucap Stifen.


"Alhamdulillah, aku selalu berdua denganmu menjadi pahala. Semoga saja, Allah memberkahi pernikahan kita dengan Rahmat-Nya." jawab Cinta.


"Berat sekali hari itu tiba, mulut dikunci. Nanti tangan kita berbicara apa yang kita kerjakan." Stifen melihat ke arah istrinya.


"Hmm... itu artinya difitnah dalam dunia pun tidak berlaku di sana. Semuanya akan menjadi layar tancap, yang akan memperlihatkan perlakuan manusia." Cinta teringat dengan kejadian yang dialami dirinya sendiri.


"Maka dari itu, siapa yang ingin aibnya ditutupi di akhirat, hendaklah ia menutupi aib saudaranya di dunia." Stifen menasehati istrinya.


"Iya sayang, aku sudah tahu. Tapi tetap terima kasih, karena sudah mengajari aku agar lebih paham lagi." Cinta memandangnya tanpa bosan.


"Iya sayang, sudah menjadi kewajiban suami mendidik istrinya dengan baik. Dulu, orangtuamu pasti mendidik kamu dengan baik juga." jawab Stifen.

__ADS_1


Roroy jalan berlenggak-lenggok, sengaja ingin menggoda Robert. Parfum sudah menyengat baunya, sengaja tebar pesona dengan wajah cantik. Robert melihat ke segala penjuru, namun tidak terlihat juga wajah Zahra.


”Kesempatan untuk berduaan dengan Roroy.” batin Robert.


"Hai Roroy!" Menyapa dengan ramah.


"Hai." Melambaikan tangannya. "Kak Robert, aku ingin meminta ditemani." Roroy berbicara dengan nada manja.


"Minta ditemani kemana?" Robert mencolek kedua pipinya.


"Aku mau ditemani ke luar negeri. Minimal tuh di Islandia gitu." Roroy mulai banyak maunya.


"Nanti saja saat Nyonya tidak ada di rumah." jawab Roroy, sambil tersenyum.


Ade menghampiri Bilqis, yang sedang mengikat plastik minyak sayur. Fatihah sedang memasukkan gula pasir, berada tidak jauh darinya.


"Aku mau membeli beras." ujar Ade.


"Jauh sekali, seperti tidak ada toko beras saja di kampung." jawab Fatihah.

__ADS_1


"Aku ini membantu penjualan toko Pak Stifen. Ini disebut dengan karyawan paling setia, cocok dijadikan sahabat olehnya." sahut Ade.


"Kamu itu ke sini bukan untuk Pak Stifen, tapi untuk Bilqis." jawab Fatihah, dengan spontan sesuai kenyataan.


Ade tersenyum malu-malu, karena niatnya dapat terendus. Bilqis masih fokus dengan pekerjaannya, memilih menundukkan kepala dengan tetap diam.


Fatihah dan Bilqis melayani pembeli yang berdatangan lagi. Ade memilih merek beras, yang ingin dibeli olehnya. Ade menunggu Bilqis sampai selesai melayani pembeli.


"Aku mau membeli beras ini." ujar Ade.


"Aku catat dulu, sebagai barang keluar." jawab Bilqis.


Setelah itu, Ade mengangkutnya ke atas sofa motor. Ade berpamitan dengan keduanya, setelah transaksi pembelian selesai.


Cinta dan Stifen membentuk tumpukan pasir menjadi love. Keduanya tersenyum saling pandang, lalu mencemari tangan dengan tanah. Cinta tertawa kecil, begitupula dengan Stifen.


"Minum es Dogan dulu yuk." ajak Stifen.


"Iya sayang, tapi cuci dulu tangannya." jawab Cinta.

__ADS_1


Mereka singgah, lalu memesan minuman pada pembeli. Stifen sengaja mentraktir anak kecil, yang sedang memulung.


__ADS_2