
Fatihah menjadi trauma, karena kejadian itu. Dia masih menangis ketakutan, terbayang-bayang peristiwa tadi dalam ingatan. Sekarang mulai kena tekanan batin, dihantui wajah Berto yang gila nafsu.
"Fatihah, ayo aku antar ke mes." ajak Cinta.
"Mulai besok aku tidak kerja lagi, bila harus menjadi bawahannya. Aku mau berhenti saja, aku takut." Fatihah menangis.
"Sekarang, lebih baik kamu menginap dulu di rumahku." tawar Cinta.
"Kamu benar, tapi Bilqis sendirian." Fatihah menghubungi Bilqis, namun tidak juga diangkat.
"Iya sudah, ayo kita ke mes." ajak Stifen.
"Iya sayang." jawab Cinta.
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai mes. Lampu masih mati, tampaknya tidak ada orang. Cinta melihat Bilqis jalan terseok-seok, dengan tangan berlumuran darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Cinta.
"Aku disekap dengan Om Robert, lalu memukul kaca ruangan untuk melarikan diri." jawab Bilqis gemetaran.
__ADS_1
"Keterlaluan! Bila kamu ingin melaporkan dia ke kantor polisi, aku mempersilakan." ujar Stifen.
"Tidak Pak, bagaimana pun dia Papa anda." jawab Bilqis, masih hormat seperti bawahannya.
"Meskipun dia Papa aku, namun tetap tidak membelanya jika bersalah. Apalagi, yang diganggu adalah hak orang lain." Stifen berbicara jujur.
Bilqis dan Fatihah sengaja membereskan barang-barang, untuk pindah ke rumah Cinta. Mereka tidak ingin tinggal di mes, karena sudah berhenti kerja.
"Bilqis, kita yang hidup di akhir zaman ini menyeramkan. Maka dari itu, hati tidak boleh sombong dengan pahala." ujar Fatihah.
"Aku si tidak pernah begitu dalam hati, karena menurutku pahala itu bukan jaminan masuk surga. Bisa saja dosa yang mengikisnya, karena yang membuat masuk surga atas keridhaan Allah Swt." jelas Bilqis.
"Betul sekali Bilqis, namun Allah juga memilih yang bersungguh-sungguh." Fatihah mengelap piring basah.
"Kalau punya masalah berat dalam kehidupan, rasanya cuma Allah sandaran yang paling ternyaman." Fatihah mengingat masa-masa sulit.
"Iya, nomor satu curhat padanya. Jika belum ditemukan solusi, baru aku curhat pada manusia." jelas Bilqis.
Keesokan harinya, pagi pertama di rumah mewah. Apalagi, ini adalah rumah sahabat terdekat. Fatihah dan Bilqis merasa nyaman, tidur semalam lumayan nyenyak.
__ADS_1
"Kamu masih parah tidak lukanya?" tanya Fatihah.
"Aku sudah lumayan mendingan." jawab Bilqis.
"Jujur, aku trauma sekali dengan kejadian kemarin. Aku tidak mau lagi ketemu dengan Om Berto." ujar Fatihah.
"Aku akan menghalangi matamu, bila lain kesempatan berjumpa lagi." Bilqis tersenyum ke arahnya.
Fatihah duduk termenung, sementara Bilqis memasak di dapur. Tangan Fatihah memang tidak terluka, namun batinnya sangat tertekan. Kejadian kemarin masih belum berlalu dari pikirannya, hingga hatinya takut.
"Fatihah, lebih baik kamu lupakan saja. Setidaknya, kamu masih dapat tertolong. Kalau terus-terusan diingat, pikiran menjadi tidak tenang." ujar Bilqis.
"Aku akan berusaha." jawabnya.
Robert dan Berto sengaja jadi kompor, pada para tetangga komplek. "Eh, perempuan yang menginap di rumah itu selingkuhan Pak Stifen."
"Tadi pagi waktu menyiram bunga, aku memang melihat dua orang perempuan." jawab ibu-ibu kuncir kuda.
"Nah, tidak salah lagi. Mereka pasti berbuat macam-macam, kalian harus awasi." ujar Berto.
__ADS_1
"Apa perlu usir saja, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." timpal Robert.
"Baiklah, nanti kami usulkan dengan kepala desa." jawabnya.