
Beberapa Minggu kemudian, Cinta sudah mendapat uang gajian. Begitupula dengan Fatihah dan Bilqis, yang mendapatkan uang gajian.
"Bilqis, Cinta, akhirnya hari ini kita menerima gaji." ujar Fatihah sumringah.
"Iya Fatihah, aku juga senang." jawab Bilqis.
"Alhamdulillah, aku bisa kasih ke Ibu uangnya." tambah Cinta.
Bilqis dan Fatihah memberikan uangnya, sejumlah satu juta lima ratus ribu rupiah. Cinta juga menyisihkan, uangnya sebesar dua juta rupiah.
"Yeay sudah pas, bisa dikasih untuk Tante Asha." ujar Bilqis.
"Iya dong, ayo kita pulang." ajak Cinta.
Mereka semua segera melangkahkan kaki masing-masing, hingga sampai ke rumah mes. Cinta segera masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Dia akan segera ke rumah Asha, memberikan uang yang dipinta olehnya.
"Fatihah, Bilqis, aku pergi dulu iya. Aku mau memberikan uang, yang Ibu pinta." ujar Cinta.
"Iya Cinta, hati-hati di jalan." jawab Fatihah.
"Iya Fatihah." jawabnya.
__ADS_1
"Atau mungkin, kamu mau ditemani?" tawar Bilqis.
"Kamu kelihatan sedang repot, biar aku sendiri saja." jawab Cinta.
Bilqis menggangguk setuju, dengan perkataan temannya. Cinta segera pergi sendirian, menuju ke rumah Asha.
"Cinta, akhirnya kamu datang juga. Dari tadi, Ibu menunggu kamu. Ibu sangat membutuhkan uang." Asha menekankan kalimat terakhirnya.
Cinta membuka tasnya, lalu memberikannya pada Asha. Ibu tiri Cinta sangat bahagia, wajahnya terlihat semringah.
"Haduh, ini masih sedikit. Kenapa tidak meminta rumah, mobil, pesawat, hotel, perusahaan, apartemen, dan semua benda serta fasilitas mewah. Hitung-hitung 'kan kita kaya mendadak. Kamu itu bodoh, punya calon suami kaya dianggurkan." gerutu Asha.
"Bu, aku ini bukan perempuan matre. Hidup memang realistis, tapi bukan berarti harus meminta. Kita ini masih bisa makan saja, sudah sangat bersyukur." jawab Cinta.
Dia segera keluar rumah, hendak pergi ke salon. Cinta hanya menatapnya, sambil geleng-geleng kepala.
"Uang mahar kemarin 'kan lima ratus juta rupiah. Kenapa sekarang masih minta ini dan itu. Pasti Stifen bakalan nanyain, memang kemana uangnya." Cinta menepuk jidatnya sendiri.
Keesokan harinya, Cinta kembali ke perusahaan Aditama Grup. Perusahaan yang mengelola sawit, paling terbesar di desa tersebut. Cinta masuk ke ruangannya, dan melihat Stifen sudah ada di dalam.
"Cinta, aku mau pernikahan kita secepatnya dilaksanankan." ucap Stifen.
__ADS_1
"Iya Pak, kita lihat orangtua dulu. Apa mereka setuju, untuk segera dilakukan." jawab Cinta.
"Bukankah Ibu kamu sangat tidak sabar. Dia ingin, kita cepat-cepat menikah." ujar Stifen.
"Iya, tapi Mama dan Papa kamu, belum tentu mereka sependapat sama Ibuku." jawab Cinta.
"Kalau Papa memang tidak setuju, tapi Mamaku mau-mau aja. Yang paling penting aku suka, dan sama-sama mau." ungkap Stifen.
"Baiklah, kalau begitu kita segera ke KUA." jawab Cinta.
Usai mengerjakan tugas dari kantor, mereka berdua pergi ke kantor KUA. Mereka sibuk mengurus brankas pernikahan.
"Akhirnya, urusan kita sudah selesai." ucap Stifen.
"Alhamdulillah, aku lega banget." jawab Cinta.
"Iya, aku juga." ujar Stifen.
"Mari kita pulang, sudah selesai semuanya." ajak Cinta.
Beberapa menit dalam perjalanan, Cinta sudah sampai ke mes. Ternyata ada Ade yang sedang mengobrol, bersama Fatihah dan Bilqis.
__ADS_1
"Cinta habis pergi sama Stifen iya?" tanya Ade.
"Iya, ke kantor KUA." jawabnya.