Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Robert Dan Berto Mabuk


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Cinta dan Stifen bangun bersama. Mereka membuka tirai jendela, lalu menuju kamar mandi. Melaksanakan salat Subuh berjamaah, lalu kompak masak di dapur.


"Aku senang kita tinggal berdua." ujar Cinta.


"Aku juga senang sayang, daripada kamu berdebat dengan Papa dan Mama." jawabnya.


Stifen tersenyum, memandang istrinya yang mengiris bawang. Cinta melihat ke arah Stifen, yang sedang mencuci beras. Mereka berdua melambai-lambaikan tangan, sambil melemparkan senyum satu sama lain.


"Nanti kamu bawa bekal dari rumah, atau mau beli di luar?" tanya Cinta.


"Aku mau makan masakan istriku saja." jawab Stifen.


Seperti biasanya, Fatihah dan Bilqis pergi jalan kaki. Lagipula rumah mes dan perusahaan Aditama Grup sangat dekat. Mereka tidak memerlukan kendaraan, untuk sampai ke kantor.


"Cuaca pagi ini benar-benar cerah, seperti tidurku semalam yang nyenyak." ujar Bilqis.


"Saat kamu tidur nyenyak, aku sedang bertengkar hebat dengan Om Berto." jawab Fatihah.


"Investor kurang ajar seperti dia, tidak pantas bekerjasama dengan Aditama Grup." ucap Bilqis.

__ADS_1


"Bagaimana pun juga, dia yang paling banyak menanam saham ketimbang investor lain." jelas Fatihah.


Stifen melihat kartu rekening perusahaan bergerak menyusut, tampak dipakai untuk keperluan pribadi. Stifen merasa ada yang mengganjal, karena uang seratus juta habis dalam semalam. Seperti dipakai untuk berpoya-poya saja, tanpa sepengetahuan dari banyak orang.


"Fatihah, tolong kamu periksa keabsahan dari Bank 99." pinta Stifen.


"Iya Pak, tunggu sebentar." jawab Fatihah.


Fatihah segera menelepon pihak bank, tentang uang yang menyusut. Namun keterangan nihil, mereka tidak mengakui apa yang terjadi. Masih saja berkata, dengan alasan tidak masuk akal.


"Mungkin, aktivitas operasional perusahaan yang mempengaruhinya." ujar seorang perempuan dari seberang telepon.


"Namun, kami tidak mau menggantinya." ujarnya.


"Kami tidak menyuruh bank mengganti, hanya saja diperlukan data manusia yang sudah mencuri uang tersebut." jelas Fatihah.


Robert mabuk-mabukan dengan Berto, untuk menghilangkan perasaan jenuh. Robert dulu sangat akrab dengan Berto, karena pernah memperkenalkannya pada rumah bordir.


"Berto, aku senang berteman denganmu." ujar Robert.

__ADS_1


"Aku juga senang." jawab Berto.


"Namun, hari ini aku kabur diam-diam dari istriku. Hampir saja aku ketahuan, saat dia hendak terbangun." Robert seakan memberitahu perjuangannya, sangat sulit.


"Aku beritahu satu hal, anakmu yang bernama Stifen itu menyebalkan. Dia melindungi karyawati, sampai mempermalukan aku di cafe. Semua pengunjung melihat ke arahku, mau diletakkan di mana wajah ini. Aku terpaksa berjalan dengan muka tembok." jelas Berto.


Di dalam kamar, Cinta bertanya pada suaminya. Ada sesuatu yang ingin diketahui, saat mereka baru saja melaksanakan salat tahajud.


"Sayang, kalau menurut kamu penggunaan ATM untuk tarik tunai haram tidak?" Cinta meminta pendapat dari Stifen.


"Menurutku tidak, karena yang masuk adalah uang kita sendiri. Sementara jika ada aktivitas hutang berbunga di dalamnya, baru bisa dikatakan haram." jawab Stifen.


"Tapi, hal itu kembali pada keyakinan masing-masing." ujar Cinta.


"Iya sayang, agama itu jangan terlalu diperdebatkan. Setiap kepala manusia berbeda pemikiran, jadi tidak bisa memaksa semua orang sejalan. Jika seperti itu caranya, akan banyak perang sesama saudara muslim." jelas Stifen.


"Sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik sayang." ujar Cinta.


"Iya sayang." jawab Stifen.

__ADS_1


__ADS_2