Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Rakus Uang


__ADS_3

Keesokan harinya Asha datang ke mes Cinta, karena mendengar dia menang dalam perlombaan membaca Al-Qur'an. Tentu saja, Asha ingin meminta uang.


"Cinta, keluar kamu." teriak Asha dari luar.


Cinta membuka pintu rumahnya, dia melihat Asha yang membawa tas besar.


"Ada apa Bu." jawab Cinta.


"Minta uang kamu, yang menang perlombaan." ujar Asha.


"Uangnya untuk mengganti, uang tuan Robert." jawab Cinta.


"Ibu tidak peduli, berikan uang sisanya." ujar Asha.


"Baik Bu." jawab Cinta.


"Tante keterlaluan sekali, Cinta baru saja kerja." sahut Fatihah.


"Aku tidak peduli, sebaiknya bungkam mulutmu." jawab Asha.


"Tante itu manusia atau bukan sih?" ucap Bilqis emosi.


"Kalau kalian berani menentang aku, kalian dilarang berteman lagi dengan cinta." jawab Asha mengancam.


Mereka semua terdiam, tidak ingin mengeluarkan suara lagi. Mereka takut bila Asha melarang, untuk dekat lagi dengan Cinta. Cinta masuk ke dalam rumah, lalu memberikan uang sisa pada Asha.


"Hore, aku dapat uang sepuluh juta. Dadah Cinta!" Asha melangkahkan kakinya dengan berlenggak lenggok, sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Fatihah dan Bilqis, menatap kepergian si Asha. Mereka kesal, melihat sifatnya yang rakus uang.


"Cinta, padahal kamu mau pakai uangnya buat panti asuhan." ujar Fatihah.


"Sudahlah, mau diapain lagi." jawab Cinta pasrah.


Stifen mengintip dari balik celah dedaunan, melihat bagaimana sikap Asha terhadap Cinta. Kini dia tahu, hal apa yang selama ini disembunyikan.


"Cinta, kamu seperti punya Ibu tiri saja. Aku jadi penasaran, apa dia Ibu kandungmu. Kenapa memperlakukan kamu, dengan tidak baik." monolog Stifen.


Stifen melangkahkan kakinya mendekati Cinta. Dia mengucapkan salam, lalu menerima balasan dari Cinta.


"Ada apa akhy ke sini?" tanya Cinta.


"Kebetulan lewat ukhty, sekalian jalan-jalan sore." jawab Stifen.


"Oh iya, apa perempuan paruh baya yang ke sini tadi Ibumu?" tanya Stifen.


"Iya akhy, dia Ibuku." jawab Cinta.


"Ibu kamu meminta uang?" tanya akhy.


"Iya akhy." jawab Cinta.


Bilqis dan Fatihah diam saja, masih merasa kesal dengan tindakan dan sikap Asha yang keterlaluan. Jangankan ingin menebar senyuman, untuk berbicara saja malas.


"Ukhty, apa tempat meeting besok pagi sudah disiapkan?" tanya Stifen.

__ADS_1


"Sudah akhy." jawab Cinta.


"Dimana ukhty? Pihak klien dari kota meminta untuk meeting, di tempat yang tidak terlalu ramai." ucap Stifen.


"Kebetulan sekali akhy, aku menyiapkan tempat yang berseberangan langsung dengan perusahaan. Kelihatannya di sana strategis, tidak terlalu ramai saat jam kerja berlangsung." tutur Cinta.


"Baiklah kalau seperti itu, aku permisi pulang dulu ukhty." ujar Stifen.


"Iya akhy." jawab Cinta.


Stifen segera melangkahkan kakinya, untuk pulang ke rumah. Cinta masuk ke dalam rumah mes, bersamaan dengan Bilqis dan Fatihah.


"Kelihatannya, kita sedang tidak beruntung." ujar Bilqis.


"Kok kamu merasa seperti itu." jawab Cinta.


"Lihatlah, Ibu kamu meminta uang perlombaan. Sebelum kita sempat memberikan uangnya, untuk acara panti asuhan." tutur Bilqis.


"Aku mau pergi ke toko dulu iya. Aku mau membeli telur ayam." ujar Fatihah.


"Iya, mau ditemani tidak?" tawar Bilqis.


"Tidak perlu, biar aku sendiri saja. Lebih baik, kalian berdua masak air dan nasi." jawab Fatihah.


"Baiklah, tidak masalah." ujar Cinta.


"Tenang saja, nanti aku yang menggoreng telurnya." jawab Fatihah.

__ADS_1


Fatihah segera pergi, setelah berpamitan dengan teman-temannya.


__ADS_2