Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Hal Tak Terduga


__ADS_3

Pada malam harinya, Zahra duduk di teras rumah. Zahra memikirkan suaminya, yang tidak kunjung pulang.


"Kenapa Mama masih di luar, ini sudah malam." ujar Stifen.


"Mama menunggu Papa kamu." jawab Zahra.


"Papa memang belum pulang, tidak tahu sampai kapan." ucap Stifen.


"Mungkin Papa kamu sedang sibuk." jawab Zahra asal tebak.


"Aku sih diberitahu bahwa Papa sibuk. Tapi, ntah mengapa aku tidak percaya." ujar Stifen.


"Itu artinya pikiran kamu dan Mama satu paket." jawab Zahra.


Keesokan harinya, Stifen pergi ke perusahaan Aditama Grup. Pabrik yang mengelola kelapa sawit itu, sudah lama berdiri di desa tersebut.


Fatihah, Bilqis, dan Cinta baru sampai, bersamaan dengan Stifen. Mereka berharap, lolos interview. Menerima gaji, dari hasil kerja keras sendiri. Stifen masuk ke ruangan interview, begitupun dengan mereka bertiga.


"Aku beritahukan pada kalian, bahwa interview kali ini akan diseleksi detail. Siapapun yang menjawab dengan asal-asalan, akan sulit bergabung dengan Aditama Grup." tutur Stifen.


"Baik Pak." jawab semuanya.


Kertas pengetesan tertulis mulai diberikan pada mereka. Stifen teringat dengan Cinta, yang waktu itu pingsan.


”Kok Cinta tetap mencuci baju iya, padahal dia sakit. Apa dia tidak mempunyai keluarga, sehingga harus mengerjakan secara paksa.” batin Stifen.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, interview tertulis selesai. Interview lisan pun sudah dilaksanakan juga.


"Selamat iya Cinta, kamu akan menjadi sekretaris aku." ucap Stifen.


"Terimakasih Pak." jawab Cinta.


Cinta yang paling bagus nilainya saat pengetesan, sehingga dia yang terpilih. Stifen menghampiri mereka bertiga, saat sudah selesai interview.


"Cinta selamat iya." ucap Bilqis dan Fatihah.


"Iya sahabatku, terimakasih." jawab Cinta ramah.


"Cinta!" seru Stifen, yang berada di belakang mereka.


"Iya akhy." jawab Cinta.


Cinta mengambilnya dengan hati-hati, karena dia merasa grogi. "Terimakasih, akhy sudah menolongku dua kali." jawab Cinta.


"Iya sama-sama. Apa iya, aku menolong ukhty dua kali?" tanya Stifen.


"Iya akhy. Pertama sandalku yang hanyut, kedua akhy menolongku yang pingsan." jawab Cinta.


"Ternyata ukhty mengetahuinya." ujar Stifen.


"Dua perempuan itu yang bilang padaku." jawab Cinta.

__ADS_1


Stifen melihat wajah Cinta yang merah merah, telapak tangannya juga. "Ukhty kalau boleh tahu, wajah dan tanganmu kenapa?"


Cinta tampak gugup. "Ini kena gigit nyamuk."


"Jangan berbohong, bilang saja yang sebenarnya." sahut Bilqis.


"Aku tadi malah tidak menyadari, mungkin aku kurang memperhatikan wajah kamu." timpal Fatihah.


"Kalian jangan berbicara apa-apa, lebih baik kita pulang." Cinta menarik tangan mereka, mencegah mengucapkan tentang ibu tirinya.


"Ukhty, kalau kamu ada apa-apa, kamu bisa minta tolong padaku." ujar Stifen.


"Tidak akhy, aku tidak apa-apa." jawab Cinta.


"Baiklah, bila ukhty tidak mau cerita. Aku tidak akan memaksa, tapi bercerita lah bila sudah waktunya." ucap Stifen.


"Iya akhy, aku permisi pulang." jawab Cinta.


Mereka segera pergi dari perusahaan Aditama Grup. Mereka melangkahkan kakinya secara bersamaan, karena satu tujuan.


"Cinta, Stifen kayaknya naksir sekali sama kamu." ujar Bilqis.


"Kamu kok menduga seperti itu, mungkin saja dia hanya anggap atasan dan bawahan." jawab Cinta mengelak.


"Eh Cinta, ini bukan hanya dugaan. Aku juga melihatnya seperti itu." sahut Fatihah.

__ADS_1


"Ah sudahlah, jangan coba bikin aku bawa perasaan. Karena percuma saja, tidak akan berhasil." jawab Cinta.


__ADS_2