Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Dikejar Berto


__ADS_3

Pukul 16.00. Cinta, Fatihah, dan Bilqis pulang ke rumahnya. Saat di perjalanan, mereka merasa seperti ada yang mengikuti.


"Cinta, Bilqis, kok kayak ada yang mengikuti kita iya." ujar Fatihah.


"Iya, aku juga merasa begitu." jawab Cinta.


"Lebih baik, kita semakin mempercepat langkah." sahut Bilqis.


"Iya, kamu benar." jawab Cinta dan Fatihah.


Mereka berjalan dengan terburu-buru, lalu masuk ke dalam rumah ketika sudah sampai. Fatihah dengan cepat mengunci pintu, lalu mengintip dari jendela kaca mes.


"Tidak aku sangka, ternyata pria tua itu." ujar Fatihah.


"Siapa Fatihah?" tanya Cinta.


"Pak Berto, kliennya Pak Stifen." jawab Fatihah.


"Ada apa dia mengikuti kita?" tanya Bilqis.


"Sepertinya dia menyukai aku, karena dia tadi puji aku." jawab Fatihah.


"Hmmm.... Selalu saja merepotkan. Banyak sekali pria tua tidak sadar diri." ujar Bilqis.


Keesokan harinya, mereka libur bekerja. Stifen berkunjung ke rumah mes Cinta. Dia juga mengajak Mamanya, untuk berkenalan dengan Cinta.


"Assalamualaikum Cinta." ucap Stifen.


Cinta membuka pintu. "Waalaikumussalam akhy."

__ADS_1


"Apa kamu mau pulang ke rumah?" tanya Stifen.


"Tidak akhy." jawab Cinta.


"Maksud kedatangan aku ke sini, aku ingin ta'aruf sama keluarga kamu." ucap Stifen.


"Baiklah akhy, tunggu sebentar." jawab Cinta.


Cinta menyuruh mereka masuk ke dalam, lalu dirinya mengambil tas untuk pergi. Beberapa menit kemudian, Cinta sudah keluar dari kamarnya. Mereka melangkahkan kaki masing-masing, keluar dari rumah mes.


"Cinta perkenalkan, aku adalah Mama Stifen. Nama aku adalah Zahra." Zahra berujar, sambil menjulurkan tangannya.


"Iya Tante, nama aku adalah Cinta Nakila." Cinta menjawab, sambil menerima uluran tangan Zahra dan menciumnya.


Mereka akhirnya sudah sampai, di rumah cinta yang sederhana. Pintu rumah terbuka, saat Cinta mengucapkan salam.


"Siapa mereka?" tanya Asha.


”Kelihatannya orang kaya, aku suruh masuk ke dalam ah.” batin Asha.


"Ayo masuk ke dalam." tawar Asha.


"Iya Tante." jawab Stifen.


”Haduh sudah tampan, dia tajir lagi.” batin Asha.


"Silahkan duduk." tawar Asha.


"Terimakasih." jawab Zahra.

__ADS_1


Mereka duduk di kursi, lalu Asha membuatkan teh di dapur. Asha berencana untuk menjodohkan Cinta dan Stifen. Tak berselang lama, Asha sudah muncul di ruang tamu. Asha membawa nampan, sambil melemparkan senyuman.


"Tante maksud aku ke sini, aku ingin ta'aruf dengan keluarga Cinta. Aku ingin mengenal lebih jauh lagi." ujar Stifen.


"Iya sudah, langsung menikah saja. Kalian berdua sungguh serasi." Asha tersenyum ceria.


"Bu, kami baru saja kenal. Jangan bicara seperti itu, aku tidak enak sama mereka." jawab Cinta.


"Kamu tidak usah malu-malu, Stifen itu cinta sama kamu. Betul begitu 'kan Nak?" Asha melirik Stifen.


"Insyaa Allah Tante, jika takdir mengizinkan kami bersatu." jawab Stifen.


"Baiklah, kapan akan dilanjutkan ke jenjang serius?" tanya Asha penasaran.


"Secepatnya juga tidak apa-apa." jawab Zahra.


"Bagaimana kalau bulan depan, kita langsungkan pernikahannya." Asha sudah tidak sabar lagi.


"Terserah mereka saja, keputusan ada di tangan Cinta dan Stifen." jawab Zahra.


"Bagaimana Cinta, apa kamu setuju?" tanya Stifen.


Cinta diam sejenak terlebih dahulu, menimang-nimang permintaan Stifen. Cinta mengucap bismillah terlebih dulu, sebelum memberi jawaban.


"Baiklah akhy, aku menerimanya." jawab Cinta.


"Alhamdulillah, aku akan bawakan maharnya untuk menikahi kamu." ujar Stifen.


"Bagus, jangan lupa maharnya lima ratus juta." jawab Asha, dengan menyahut saja.

__ADS_1


”Sepertinya dia matre.” batin Zahra.


Stifen menyanggupi permintaan Asha, lalu pulang bersama Mamanya usai perbincangan penting.


__ADS_2