
Stifen dan Cinta menumpuk kerang, bermain bersama membentuk rumah susun. Cinta yang paling cepat dalam proses pembentukannya. Dia sudah terbiasa bermain kala senja, saat usai pulang mengaji bersama teman-temannya.
"Berharap pada manusia itu, hanya akan menyakiti perasaan kita sendiri. Setiap episode pertemuan dalam kehidupan ini sementara, tidak ada yang abadi." ujar Cinta.
"Aku akan menyiapkan diri, supaya hatiku berlapang dada. Jikalau durasi asmara kita harus berakhir, masih ada cinta Allah yang Maha Besar." jawab Stifen, dengan kepala menunduk.
"Jangan sedih, Allah selalu bersama kita." Cinta melihat ke arah suaminya.
"Iya sayang, aku percaya dengan semua rencana-Nya. Selain lebih baik, pasti lebih indah dari yang aku duga." jawab Stifen.
"Aamiin." Cinta berdoa dengan sungguh-sungguh.
Zahra melihat Robert keluar dari kamar, dengan rambut yang basah. Robert panik, karena Zahra pulang dengan cepat.
"Sayang, kamu bilang akan pergi lebih lama." ujar Robert.
"Iya suamiku, tapi mendadak sakit perut." jawab Zahra.
"Sekarang kamu mau kemana?" Robert khawatir, karena Roroy sedang mandi di dalam.
__ADS_1
"Iya masuk kamar, aku mau ke toilet." jawab Zahra.
Robert memegang kedua pundak Zahra erat, berusaha mencegahnya masuk ke dalam kamar. Robert menyembunyikan perasaan takut, agar Zahra tidak memperhatikan gerak-geriknya.
"Sayang, lebih baik kamu ke toilet lain saja. Toilet dalam kamar sedang rusak, tadi aku baru menyuruh teknisi memperbaikinya." ujar Robert.
"Baiklah, aku mau meletakkan tas dulu." jawab Zahra.
"Jangan, biar Papa saja. Kasian Mama bila harus menahan hajat." Robert segera merebut tas di tangan Zahra.
"Iya sudah, terima kasih atas pengertiannya Pa." jawab Zahra.
"Kak, obatnya 1 bungkus iya. Khusus pil yang berukuran kecil saja, karena aku tidak mau istriku kesulitan menelannya." ujar Stifen.
"Baiklah tuan, tunggu sebentar." Menjawab dengan menggunakan bahasa Islandia.
Cinta hanya melongo, karena tidak tahu artinya. Sesekali matanya tampak kebingungan dalam bergerak, karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia hanya memasang raut wajah senyum, tanpa ikut-ikutan bicara.
Stifen membuka bungkus obat, lalu meletakkannya di tangan Cinta. Dia mengambil segelas air, untuk istrinya menelan obat.
__ADS_1
"Sayang, kamu pelan-pelan iya." ujar Stifen.
"Iya sayang, sudah membaca doa kok." jawab Cinta.
Stifen menyuapi makanan ke mulut Cinta, lalu mendapat perlakukan sebaliknya. Cinta menyuapi Stifen dengan mata berbinar-binar. Stifen dan Cinta saling membersihkan sisa nasi, yang menempel di bibir masing-masing.
Ade mengerjakan tugas yang disuruh oleh Berto. Bagaimana pun sekarang dia wakil direktur yang baru. Robert sibuk bersenang-senang, jadi jarang mengunjungi Aditama Grup.
"Pak, ini target pasar kok tidak sesuai iya?" tanya Ade.
"Menurutku sesuai saja, ini sudah direncanakan dengan hati." jawab Berto.
"Maaf Pak, aku harus tetap protes. Aneh saja, minyak goreng harus dibeli oleh para Tante-tante. Kalau seperti ini, perusahaan bisa bangkrut. Apalagi harus yang cantik dan pintar merias diri. Starategi pasar kurang masuk akal, bahkan diharuskan menemui anda terlebih dulu." Ade mengeluarkan uneg-uneg pikirannya.
"Apa yang tidak masuk akal, aku ini seorang wakil direktur ." jawab Berto.
"Seorang wakil direktur juga harus pintar menyeimbangkan keadaan. Diskon besar-besaran seperti ini, hanya akan membuat perusahaan bangkrut." ucap Ade.
"Aku tidak peduli, dan ini bukan urusanmu." jawab Berto.
__ADS_1