
Robert angkat tangan, saat keduanya menunjukkan kuku yang panjang. Cinta sedikit lucu, melihat reaksi Robert yang ketakutan.
"Papa tidak perlu pura-pura sakit, sekarang Mama Zahra tidak ada." ujar Cinta.
"Benar, sandiwara ini terlihat pasaran." Bilqis memukul lengan Robert, dengan tas di tangannya.
"Kamu ini benar-benar gila iya." Robert mendorong Bilqis, dan hampir terjatuh.
Fatihah dan Cinta membantunya berdiri, lalu menatap tajam ke arah Robert. Mereka bertiga paling anti, dengan pria tua tidak tahu diri. Bahkan sampai lupa dengan usianya, yang hampir menginjak lanjut usia.
"Ingat umur Om, sebentar lagi mencium bau tanah." ujar Fatihah.
"Hei, kamu mendoakan aku cepat mati." Robert emosi.
"Bukan gitu Om, tapi memperbanyak ingat kematian itu bagus. Om selama ini hanya menjadi budak nafsu, kasian sekali!" Fatihah prihatin melihat Robert.
"Tahu apa kamu tentang aku, justru di dunia ini kita harus sepuasnya. Mati pun tidak ada yang bisa menjamin, siapa yang akan masuk surga."
"Dapat uang saja butuh usaha, apalagi ke surga Om. Satu hal lagi, Om harus ingat bahwa dunia sementara." Fatihah masih sibuk mengingatkannya.
__ADS_1
Robert melemparkan selimutnya, sambil berteriak-teriak emosi. Dia menunjuk pintu keluar, mengusir mereka semua. Cinta mengajak Fatihah dan Bilqis menunggu di luar saja, karena Robert tampak murka diceramahi. Bersamaan dengan itu, Cinta melihat Asha di luar ruangan.
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu lalu Asha masuk ke dalam, setelah Robert menyuruhnya masuk. Asha tersenyum, dengan maksud terselubung dalam hati.
"Bagaimana pun kita sekarang besan, aku akan membantu kamu dengan senang hati." ucap Asha.
"Oh iya, aku rasa kamu tidak akan mampu." jawab Robert.
"Aku ingin kamu merencanakan sesuatu, agar aku bisa berduaan dengan Cinta." jawab Robert.
Asha membunyikan tangannya di atas udara, sambil senyum. "Tenang saja, anak satu ini akan menemanimu semalaman."
"Atur tanggal mainnya, aku akan beri uang bila berhasil." Robert memberikan tawaran menggiurkan, supaya Asha berusaha lebih kuat.
Fatihah dan Bilqis mengintip dari pintu kaca, namun tidak dapat mendengar pembicaraan lirih. Mereka berdua curiga, bahwa Robert merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Cinta, kamu harus berhati-hati. Ibu tiri kamu ini, demi uang rela menjual kamu." ujar Bilqis.
"Iya Bilqis, Fatihah, terima kasih sudah membantuku hari ini." jawabnya.
"Jangan sungkan, setiap butuh bantuan kamu bilang saja." ujar Fatihah.
"insyaAllah, aku akan selalu mengabari." jawab Cinta tersenyum.
Keesokan harinya, terdengar suara ketukan pintu. Fatihah membukanya, lalu mendapati Berto tersenyum. Tidak lupa memberikan bunga segar, yang semakin menambah rasa ilfeel.
"Ada perlu apa Pak datang ke mes?" tanyanya tegas.
"Aku ingin kamu kencan denganku." Berto menatap tubuh Fatihah, dari atas sampai bawah.
"Dalam Islam tidak ada yang namanya kencan berduaan. Lebih baik Bapak pergi, sebelum aku berteriak." ancam Fatihah.
"Fatihah, kamu sama saja seperti Cinta. Sungguh galak sekali, membuat aku semakin penasaran. Hal itu, selalu menarik perhatian dalam pikiran." Berto hendak mencolek Fatihah, namun ada yang memukulnya pakai sapu.
"Hei pria tua tidak ada etika, lebih baik Bapak segera pergi." Bilqis berdiri di belakang Fatihah.
__ADS_1
"Seram sekali, aku tidak tahan melihat tindakan ini." Berto membalikkan badan, lalu senyum-senyum sendiri.