
Stifen mendengarkan pembacaan Al-Qur'an dengan seksama, hingga dirinya merasa terharu.
”Masyaa Allah, suaranya bagus sekali." batin Stifen.
Cinta turun dari panggung, setelah selesai membaca. Kini giliran peserta lain yang terpanggil namanya, lalu naik ke atas panggung.
"Cinta, suara kamu merdu." Fatihah mengacungkan dua jempolnya.
"Aku yakin, pasti kamu yang menang." tambah Bilqis.
"Masih banyak yang lain, mereka juga merdu. Kita lihat saja nanti, bila berjodoh pasti mudah." jawab Cinta.
"Jodoh sama Stifen iya maksudmu?" tanya Fatihah.
"Bukan, jodoh sama uangnya hihi." jawab Cinta dengan tertawa kecil.
Beberapa jam kemudian, semua peserta sudah maju ke depan semua. Mereka telah membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, di atas panggung perlombaan. Tibalah saatnya untuk dewan juri, dipersilahkan pemandu acara naik ke atas panggung.
"Berdasarkan penilaian dewan juri, maka perlombaan pembacaan Al-Qur'an juara satu diraih oleh Cinta Nakila." ujarnya.
Stifen selaku penyelenggara lomba, mempersilahkan Cinta untuk naik ke atas. Cinta beranjak dari duduknya, naik ke atas panggung. Cinta menerima piala, yang diberikan oleh Stifen. Cinta juga melihat spanduk, yang bertuliskan hadiah lima puluh juta rupiah.
"Selamat iya ukhty." ujar Stifen.
__ADS_1
"Terimakasih akhy." jawab Cinta.
Pada sore harinya, Robert kembali ke rumah. Zahra langsung berlari memeluk Robert, padahal dirinya sedang menyiram tanaman.
"Kamu ini kenapa peluk aku, lihatlah bajuku basah." Robert protes.
"Apa ada yang salah Pa, Mama 'kan sayang sama Papa." jawab Zahra.
"Mama capek, sebaiknya Mama buatkan kopi." pinta Robert.
"Iya Pa, tunggu sebentar." jawab Zahra.
Zahra melangkahkan kakinya, menuju dapur. Zahra membuat kopi sambil tersenyum bahagia. Selama ini, Robert sudah tidak pulang ke rumah berbulan-bulan.
Zahra melangkahkan kakinya, menuju ke ruang tamu. Zahra memberikan kopi pada Robert, namun tidak sengaja tersenggol lengan Robert.
"Mama ini bagaimana sih, kenapa tidak letakkan di meja saja." bentak Robert.
"Papa bentak Mama?"
Zahra merasa heran, dengan sifat Robert yang berubah-ubah. Menurutnya Robert sudah seperti bunglon saja.
"Memangnya kenapa, kalau aku membentak kamu?" Robert balik bertanya.
__ADS_1
"Mama heran saja sama Papa, tidak seperti yang Mama kenal dulu." Zahra hampir menangis.
"Kamu pikir masih anak ABG, dikit-dikit nangis. Sebentar-sebentar ingin diperhatikan." ujar Robert spontan.
"Di dunia ini, bukan hanya anak muda yang butuh cinta. Tapi, orangtua juga harus semakin mempererat cinta." jawab Zahra.
"Sudahlah, Papa malas berdebat dengan Mama. Tidak akan pernah usai, memikirkan Mama yang sulit dipahami." Robert beranjak dari duduknya.
Robert segera meninggalkan Zahra, yang masih mematung menyaksikan tindakan Robert. Terdengar suara Stifen mengucapkan salam, dia baru saja pulang. Zahra membuka pintu, setelah sebelumnya menghapus air mata.
"Mama habis nangis?" tanya Stifen.
"Tidak Stifen, Mama tadi kelilipan." jawab Zahra.
"Mama jangan bohong." Stifen menatap curiga.
"Tidak Stifen, Mama tidak bohong." jawabnya.
Stifen berusaha untuk percaya saja, meski masih terasa janggal. Stifen melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi sambil membawa handuk.
Cinta, Fatihah, dan Bilqis jalan bersama. Mereka hendak mencairkan uang, yang telah Cinta dapatkan dari perlombaan.
"Masih sisa sepuluh jutanya untuk apa Cinta?" tanya Fatihah.
__ADS_1
"Rencananya, sebagian untuk makan sehari-hari. Tapi, akan aku sisihkan buat panti asuhan." jawab Cinta.