
Pesawat sudah mendarat di bandara Islandia, memakan waktu yang lumayan lama. Namun tidak sampai seharian penuh juga.
"Negara ini dijuluki Iceland, karena sebagain wilayah tertutup dengan es." ujar Stifen.
"Kamu memang berpengalaman, aku hanya menemani saja. Pergi ke luar negeri pun, baru pertama kali ini." jawab Cinta.
"Aku senang, karena pertama kali membawa wanitaku. Biasanya, aku ke sini sendirian saja." ucap Stifen.
"Kasian sekali suamiku, tapi alhamdulillah sekarang sudah punya teman hidup." jawab Cinta.
"Iya sayang, bersamamu aku nyaman sekali." Stifen menguyel-uyel pipinya, senyum cinta sangat menggemaskan.
"Kamu ini budak cinta." Cinta tersenyum lebar, pertanda bahagia.
Stifen meletakkan ponsel pada pohon besar, agar bersandar tegak. Kamera dihidupkan menggunakan durasi waktu, lalu Stifen mencium kening Cinta.
Cekrek!
Keduanya tertawa bersamaan, lalu pergi ke restoran. Ada sebuah ayam lezat, yang dimasak dengan sempurna. Cinta dan Stifen bergandengan tangan, lalu duduk di kursi.
__ADS_1
"Sayang, sekarang kamu makan dulu." tawar Stifen.
"Iya sayang, kamu juga." jawab Cinta.
Pelayan sudah menghampiri dengan membawa wadah berukuran besar, untuk meletakkan piring yang berisi ayam betutu.
Cinta menyuapi Stifen, lalu istrinya menyuapi kembali. Laos dikira daging ayam, hampir saja Cinta memakannya.
"Hahah... ternyata Laos besar." Cinta tertawa lirih.
"Penipuan paling kejam, kita bawa laos ke kantor polisi." canda Stifen.
Setelah menikmati kebersamaan yang romantis, mereka pergi ke penginapan di dalam hotel. Cinta dan Stifen sengaja menghabiskan waktu di dalam kamar, hingga hari menjelang sore.
"Sayang, aku yang mandi duluan atau kamu?", tanya Cinta.
"Kita mandi bersama saja sayang." jawab Stifen.
Stifen mengambil handuk yang terlipat rapi di dalam koper, belum sempat dirapikan. Cinta dan Stifen bermain percikan air. Stifen tersenyum ke arah istrinya, begitupula sebaliknya.
__ADS_1
"Sayang, sudah mandinya kita harus salat Ashar." ujar Cinta.
"Iya sayang, ayo beranjak dari bak mandi." Stifen menggendong istrinya.
Sampai keluar kamar tertawa bersama, karena membuka lemari berebut. Stifen meraih sebuah baju kaos lengan pendek, sementara Cinta mengenakan baju tidur lengan panjang. Stifen dan Cinta berjalan ke balkon kamar, melihat pemandangan tanah salju. Pohon-pohon juga ditimpa salju, benar-benar terlihat indah.
"MasyaAllah, begitu sempurna buatan-Nya." Cinta terkagum-kagum.
"Iya sayang, bersyukur sebanyak-banyaknya." jawab Stifen.
Sementara di sisi lain, terlihat Berto dan Robert menggoda banyak wanita. Tidak ada puasnya juga, padahal sudah ribuan orang. Keduanya terus mencolek pipi perempuan yang lebih muda darinya.
"Kita beruntung Berto hahah..." Robert tertawa kuat.
"Hahah... awas kalau kelakuan kamu ketahuan sang istri." Berto menakut-nakuti dengan candaannya.
Tiba-tiba saja, ada Zahra yang mendadak muncul. Tidak tahu mengapa, teman-teman arisannya mengajak ke restoran langganan Robert. Berto segera menarik Robert, agar bersembunyi di bawah meja.
Stifen mengobrol, bersama seorang pemilik usaha terkaya di Islandia. Mereka sedang duduk di suatu tempat olahraga, yang banyak didatangi kaum muda untuk bersantai.
__ADS_1
"Pak Stifen, aku akan memberikan dividen sebagai imbalan, karena kerjasama bisnis kita berhasil." ujar seorang pria paruh baya, yang bernama Marvel.
"Terima kasih Pak, semoga kedepannya usaha kita lebih lancar." jawab Stifen, dengan penuh harapan.