
Robert dan Zahra saling bersandar, lalu berbincang sejenak. Keduanya seperti biasa membahas hal penting. Robert jarang sekadar basa-basi, karena sibuk dengan para wanita lain di luar.
"Papa, Mama ingin mencari asisten rumahtangga. Mama benar-benar lelah, jika menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri. Ditambah lagi, Mama butuh teman mengobrol." ujar Zahra.
"Iya Mama, boleh." jawab Robert.
"Tapi, Mama agak trauma, karena Papa digoda dengan perempuan." Zahra tampak menimang-nimang lagi keputusannya.
"Tenang saja, Papa akan menolak dengan tegas. Di dalam hati ini, hanya setia untuk Mama." jawab Robert.
Zahra sudah berbunga-bunga ladang hatinya, tidak tahu saja bahwa sudah dikhianati berkali-kali. Cinta omong kosong saja, untuk pria yang tidak puas nafsu dunia.
Bilqis dan Fatihah disuruh menginap sejenak, karena adiknya masih sakit. Namun terpaksa menolak permintaan ibu, karena berakibat terlambat menjaga toko. Besok pagi, mereka harus bekerja lagi.
"Bu, bukannya Bilqis tidak mau. Tapi kami sekarang sedang bekerja di toko Pak Stifen." ujar Bilqis.
"Iya tidak apa-apa, lain kali berkunjung ke sini lagi." jawab Norah.
Bilqis dan Fatihah mengantar adik kecil, ke puskesmas terlebih dulu. Baru bisa pergi dengan tenang, karena adiknya sudah mendapatkan perawatan. Norah memeluk Bilqis sejenak, merasa sedikit lega.
__ADS_1
"Terima kasih iya Nak, kamu telah menolong adikmu." ucapnya tulus.
"Ibu seperti dengan orang lain saja. Anyelir itu Adik kandung sendiri, tentu aku akan membantunya." jawab Fatihah.
"Anyelir pasti senang, kalau kamu dapat menemaninya seperti dulu. Dia bilang rindu bermain lagi. Sekarang kamu sangat sibuk, sehingga jarang ada di rumah." ujar Norah.
"InsyaAllah, aku akan mencari waktu luang agar bisa bersamanya." terang Bilqis dengan apa adanya.
Stifen mengusap lembut kepala Cinta, sangat nyaman berada dalam kamar bersama istrinya. Mereka bisa bermesraan sesuka hati, tanpa ada yang melihat.
"Dunia ini hanya sementara, jadi kalau berpijak hati-hati. Seperti itu saja, masih bisa tergelincir." ujar Stifen.
"Cinta, asalkan manusia ini bersungguh-sungguh. Pasti Tuhan memberikan berkah dan juga hidayah. Aku harap, siapa pun yang bertaubat jangan putus asa dari rahmat-Nya." ucap Stifen.
"Iya Stifen, aamiin paling serius." jawab Cinta.
Keduanya merebahkan tubuh masing-masing, di atas ranjang tidur. Stifen menarik selimut, hingga menutupi tubuhnya. Begitupula dengan Cinta, yang ikut menarik selimut.
Menggoda pembantu baru, saat Zahra sedang tidak di rumah. Memberi umpan, dengan uang berwarna merah. Kertas tunai yang bisa digunakan untuk pembayaran, siapa yang tidak akan tergiur.
__ADS_1
"Hai, kamu siapa namanya?" tanya Robert.
"Namaku Roroy Kakak." jawabnya, sambil mengedipkan mata.
"Jangan bilang sama Nyonya kalau aku menggoda kamu." ujar Robert tegas.
"Aman, asalkan tuan selalu memberi aku uang." jawab Roroy.
"Meski tidak selalu, kita bisa jalan berdua ke hotel." ucap Robert.
"Iya sayang." jawab Roroy.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar, lalu mengunci rapat pintunya. Robert mulai melakukan aksi liarnya, berkeliling ke bagian yang dia inginkan.
Pagi hari sudah membuat susu hangat untuk sang istri. Stifen menyodorkan gelas pada Cinta, sampai pangkal awal menempel pada bibirnya.
"Kunci rumahtangga harmonis itu setia." ucap Stifen.
"Iya sayang, jangan menginginkan hal lain lagi." jawab Cinta lembut.
__ADS_1