Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Menghembuskan Nafas Terakhir


__ADS_3

Robert berhasil masuk ke dalam kamar Cinta. Tampak sangat gelap, hanya ada lampu kecil. Cinta sedang melaksanakan salat Tahajud, sampai penuh penghayatan. Tidak lama kemudian, Cinta telah selesai. Cinta memegang tasbih, untuk berdzikir pada Allah SWT. Robert yang bersembunyi di balik lemari, sengaja memeluk dari belakang.


Cinta berusaha meminta lepaskan. "Tolong menjauh, pergi sana."


"Aku tidak mau, karena aku akan menemanimu sampai pagi buta." jawab Robert.


"Tolong, tolong, di sini ada orang jahat!" Cinta berteriak dengan lantang.


"Tidak akan ada siapa pun, yang akan menolong kamu." jawab Robert.


Robert memaksa melakukan hal yang diinginkan olehnya. Tidak peduli Cinta risih atau tidak, Robert tetap mencium pipi kanan dan kirinya.


"Papa lebih baik pergi, sebelum suamiku pulang." bentak Cinta.


"Aku bisa menjamin, suamimu masih sibuk di kantor. Dia tidak akan pulang, karena perusahaan sudah aku buat kacau." jawab Robert.


Robert menarik mukena Cinta secara paksa, lalu Cinta meninju wajah Robert. Cinta hendak berlari, lalu Robert menarik kakinya. Robert menindih tubuh Cinta secara paksa, saat perempuan tersebut jatuh ke lantai.


"Lepaskan aku!" Cinta berteriak histeris.


Robert terus memaksa, tidak peduli dengan tindakannya. Jelas-jelas haram, merampas hak orang lain.

__ADS_1


Robert membekam mulut Cinta, lalu mencekik lehernya. Cinta kesulitan bernafas, karena Robert melakukannya dengan kasar. Cinta menghembuskan nafas terakhirnya, dengan mengucapkan kalimat syahadat.


Robert panik, lalu mengangkat kedua telapak tangannya. "Hah, apa yang telah aku lakukan. Aku tidak sengaja membunuh, karena dia melawan." Melihat leher menantunya yang menjadi lebam.


Hujan turun dengan deras, seakan ikut berduka atas kematian Cinta yang tragis. Robert menyeret tubuh Cinta, ke sebuah gudang belakang rumah. Robert memasukkan Cinta ke dalam lubang tanah, yang telah digali oleh cangkul sebelumnya.


Tiin!


Tiin!


Robert buru-buru kabur, saat mendengar suara klakson mobil. Dia memanjat gerbang belakang rumah. Stifen mencari kemana-mana, tapi tidak ditemukan. Stifen menghubungi Fatihah dan Bilqis, ternyata tidak ada yang bersama istrinya. Stifen mencoba mencari ke rumah orangtuanya.


"Loh, kok aneh sekali." jawab Zahra.


"Nah, itulah yang membuat aku bingung mencarinya." ucap Stifen.


"Mungkin bersama Fatihah dan Bilqis." jawab Zahra.


"Sudah aku hubungi, namun mereka juga tidak tahu." ujar Stifen.


"Kemana iya, Mama juga bingung." Zahra tampak merenung, dengan memikirkan hal yang terlintas di benaknya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu cemas. Papa akan menggunakan banyak perantara, agar kamu cepat bertemu Cinta." sahut Robert.


"Baiklah, terima kasih Pa." jawab Stifen.


Robert menyembunyikan wajah cemasnya, supaya semua orang tidak curiga. Zahra tidak curiga dengan Robert, karena dia tidak menangkap gelagat mencurigakan.


"Mama tadi pergi dengan teman-teman, jadi tidak mengetahui apa yang terjadi." ujar Zahra.


"Iya sudah Ma, besok kita lanjutkan pencarian." jawab Stifen.


Keesokan harinya, Asha berkunjung ke rumah Robert. Mereka berbicara di bawah pohon, yang tidak jauh dari rumah.


"Ada apa mencari ku? tanya Robert.


"Aku ingin meminta uang." jawab Asha.


"Tidak bisa, sekarang aku butuh uang untuk kabur. Cinta sudah mati terbunuh, pasti sebentar lagi polisi membantu dalam pencarian."


"Apa? Kamu bukan hanya menodainya, namun berani membunuhnya." jawab Asha.


"Sudahlah, kamu juga terlibat. Lebih baik pikirkan cara untuk menyelamatkan diri." Robert memberikan saran untuknya.

__ADS_1


__ADS_2