
Ade sengaja datang ke tempat Bilqis berjualan bersama Cinta. Dia ingin melihat orang yang sudah tidak ada setiap hari, di perusahaan Aditama Grup.
"Bilqis, aku mau beli kroketnya." ujar Ade.
"Iya sudah, kamu minta layani Cinta saja." jawab Bilqis.
"Loh, kamu 'kan penjualnya juga. Aku ingin dilayani sama kamu." Ade banyak permintaannya.
"Baiklah, tunggu sebentar." Bilqis memasukkan kroket ke dalam piring.
Ade memilih kursi paling depan, agar bisa memperhatikan Bilqis yang melayani pembeli. Bilqis lumayan resah, tidak nyaman dipandangi dengan lama.
"Jangan salah tingkah, biasa saja." Ade merasa percaya diri.
"Ini juga biasa saja, kamu saja yang merasa aneh." jawab Bilqis mengelak.
Robert alasan minum di emperan, padahal ada niat lain. Benar-benar tidak tahu malu, sudah dinasehati spontan oleh Stifen, namun masih datang kembali.
"Om lebih baik pergi, nanti pembeli kami jadi takut." ujar Bilqis.
"Aku tidak mau ngapa-ngapain, mengapa harus diusir." jawab Robert.
"Om, kami sudah lama mengenal anda." ucap Bilqis.
__ADS_1
"Justru itu, biarkan aku tetap di sini." Robert sengaja ingin membuat kerusuhan.
Bilqis malas bicara dengannya lagi, jadi dibiarkan saja. Berto menghadang jalan utama, agar para pembeli tidak ke toko milik Stifen. Tidak segan pula, menyamar gaya ala rambut keribo.
"Cepat pergi, jangan lewat sini." Berto memukul-mukul kerincing yang dibawanya.
Ade memesan kroket lagi, untuk dibawa pulang ke tempat tinggalnya. Dia ingin memperkenalkan masakan Bilqis, pada ibunya yang ada di rumah.
"Terima kasih, aku pergi dulu." ujar Ade.
"Iya, semoga berlangganan." jawab Bilqis.
"Lumayan jauh dari desa, tapi demi kamu aku bersedia." ucap Ade.
Stifen menyimak Cinta mengaji, sangat merdu. Jika diizinkan, dia ingin tidur saja. Namun berusaha ditahan, meski tidak ada yang melarangnya.
"Sayang, kamu belajar mengaji di mana?" tanya Stifen.
"Oh, aku belajar dengan guru yang ada di kampung. Kebetulan dia berjualan pempek dan juga kroket. Di sana gratis tidak perlu bayar, jadi aku hanya membantu mencuci piring pembeli saja." jelas Cinta.
"Suara kamu bagus sekali, bahkan tajwidnya juga sudah fasih." Stifen tersenyum ke arahnya.
"Iya sayang Alhamdulillah, ini karena bantuan dari guruku yang sabar." jawab Cinta.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari ruangan khusus pribadi, berganti ke tempat jualan masing-masing. Stifen tidak perlu melayani pembeli, karena toko mendadak sepi.
"Kemana orang yang berlalu-lalang iya, kok jadi tidak ada siapa pun yang lewat." monolog Stifen.
Berto merasa puas, telah mengusir banyak orang. Baru saja senyum lebar, sudah didatangi dengan para polisi. Berto berlari tunggang langgang, saat melihat mobil petugas dari kejauhan.
Cinta duduk sebentar, lalu meminum air putih. Bilqis dan Fatihah juga ditawari, supaya melepaskan dahaga di kerongkongan.
"Eh, kamu tadi sedang berduaan iya." canda Bilqis.
"Tidak si, tiba-tiba Stifen masuk ke tempat istirahat." jawab Cinta.
"Sama saja, kalian sedang bulan madu." sahut Fatihah, dengan candaannya.
"Jangan membuat malu, nanti didengar orang lain." jawab Cinta, dengan menunduk malu-malu.
"Semua orang juga tahu kali, peribahasa yang populer ini." Fatihah mengedipkan mata, dengan tersenyum menyebalkan.
"Iya deh, terserah kalian mau bercanda apa." jawab Cinta.
Wiuw! Wiuw!
Tiba-tiba terdengar suara mobil polisi, yang nyaring di telinga. Sontak saja, semuanya menoleh ke arah jalan besar.
__ADS_1